logo
Wilayah

Jalan Krayan–Malinau Didesak Digarap dari Dua Arah

Minggu, 25 Oktober 2026

Jalan Krayan–Malinau Didesak Digarap dari Dua Arah

Rombongan Menteri PU saat kunjungan di Krayan, belum lama ini. (IST)

Ukuran Teks
Normal

 

NUNUKAN – Kunjungan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo ke Dataran Tinggi Krayan, Kamis (22/10), menjadi momentum untuk kembali mendorong percepatan pembangunan jalan Krayan–Malinau. Pemerintah pusat diminta segera mengambil langkah konkret agar akses darat yang menghubungkan kawasan perbatasan tersebut dapat terwujud.

Dalam kunjungan itu, Camat Krayan Ronny Firdaus menyampaikan sejumlah kebutuhan infrastruktur yang dinilai mendesak. Selain pembangunan jalan Krayan–Malinau, usulan mencakup pembangunan jembatan untuk mengantisipasi banjir tahunan serta perbaikan jaringan irigasi pertanian. 

Pembangunan jalan Krayan–Malinau menjadi salah satu perhatian utama. Ronny mengusulkan agar pengerjaan dimulai pada tahun anggaran 2027 dengan membuka dua titik pekerjaan sekaligus, masing-masing dari wilayah Krayan dan Malinau. 

Skema tersebut diharapkan dapat mempercepat progres pembangunan dibandingkan pengerjaan yang hanya dimulai dari satu arah.

Dari sisi Krayan, pembangunan diusulkan dimulai dari ujung jalan nasional beraspal di Long Bawan menuju Malinau. Sementara dari sisi lainnya, pekerjaan bergerak dari Malinau menuju Krayan hingga kedua jalur bertemu.

“Percepatan pembangunan jalan Krayan–Malinau perlu menjadi perhatian. Kami meminta agar pada tahun anggaran 2027 pekerjaan dimulai dari dua titik berlawanan, yakni dari ujung aspal jalan nasional di Long Bawan menuju Malinau dan dari Malinau menuju Krayan,” terangnya belum lama ini. 

Menurut Ronny, konektivitas darat sangat penting untuk mengurangi keterisolasian Krayan. Keterbatasan akses selama ini menjadi tantangan bagi mobilitas penduduk, distribusi kebutuhan pokok, serta pengangkutan hasil produksi masyarakat.

"Pembangunan jalan ini membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi kawasan perbatasan Kabupaten Nunukan. Dengan akses yang semakin baik, pergerakan barang dan jasa ant wilayah diharapkan lebih lancar," tuturnya.

Selain jalan Krayan–Malinau, banjir yang berulang setiap tahun turut menjadi perhatian. Ronny mengusulkan pembangunan jembatan layang atau flyover di Pa Bawan, salah satu jalur utama penghubung antarkecamatan di kawasan Krayan Raya.

Banjir berpotensi mengganggu akses masyarakat dan aktivitas ekonomi. Karena itu, pembangunan infrastruktur di titik tersebut dinilai perlu diprioritaskan agar mobilitas warga tidak terus terkendala ketika genangan terjadi.

“Kami meminta pembangunan jembatan flyover Pa Bawan karena jalur ini merupakan penghubung utama antarkecamatan sekaligus jalur ekonomi di wilayah Krayan Raya. Pembangunan ini diperlukan untuk mengantisipasi banjir yang terjadi setiap tahun,” jelasnya.

Di sektor pertanian, Ronny juga menyoroti kondisi persawahan yang masih bergantung pada curah hujan. Keterbatasan jaringan irigasi membuat pengelolaan lahan pertanian masyarakat sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Padahal, Krayan dikenal sebagai daerah penghasil beras Adan, salah satu komoditas unggulan kawasan perbatasan. Dukungan infrastruktur pengairan dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Pengelolaan pertanian masyarakat sangat bergantung pada kondisi cuaca. Karena itu, pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi penting untuk mendukung keberlanjutan produksi pertanian serta meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkas Ronny. (*)

Reporter: Asrin

Redaktur: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com