Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak
Jumat, 16 Oktober 2026

Kondisi jembatan kayu penghubung SP 7 menuju SP 2 di Desa Tanjung Buka, Bulungan, yang mengalami kerusakan dan dinilai membahayakan warga. (IST)
Warga: Lewat Sini Taruhan Nyawa
TANJUNG SELOR – Kondisi jembatan penghubung SP 7 menuju SP 2 di Desa Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan, kian memprihatinkan. Kerusakan pada konstruksi kayu dan penyangga jembatan membuat warga khawatir saat melintas, terlebih ketika air pasang dan malam hari.
Jembatan yang dibangun pada 2009 itu hingga kini disebut belum mendapat perbaikan. Padahal, akses tersebut menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat, termasuk menuju kantor desa, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), serta sejumlah wilayah permukiman.
Kondisi jembatan menjadi sorotan setelah foto dan keluhan warga beredar di media sosial. Dalam unggahan tersebut, bagian kayu terlihat mengalami pelapukan, sedangkan penyangga besi tampak miring dan berkarat.
Risiko semakin besar ketika air pasang. Jembatan yang relatif rendah itu dapat terendam sehingga permukaannya menjadi licin dan membahayakan pengendara. Warga juga dilaporkan pernah terjatuh saat melintas dan mengalami luka-luka.
Keluhan tersebut turut disampaikan warganet melalui kolom komentar. Salah seorang pengguna akun bernama Nanda berharap pemerintah segera melakukan perbaikan karena kondisi jembatan dinilai membahayakan keselamatan warga.
“Semoga cepat diperbaiki jembatannya, soalnya setiap lewat situ seperti nyawa taruhannya. Belum lagi sekarang sudah parah jembatan miring,” tulis Nanda.
Komentar lain dari akun Pajio Fishing Charter juga menyoroti kondisi warga yang mengalami luka akibat melintasi jembatan tersebut.
“Pak kades tolong..... Luka-luka ni kasian,” tulisnya.
Keluhan serupa disampaikan Sifa, warga Desa Tanjung Buka yang kerap menggunakan jembatan tersebut. Menurutnya, kerusakan jembatan tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat.
“Aktivitas masyarakat terganggu karena itu jembatan penghubung jalan lain. Bahkan warga yang mencari rezeki kalau rusak itu pasti kerasa banget dampaknya,” ujar Sifa.
Ia berharap pemerintah segera memberikan perhatian dan memperbaiki jembatan yang selama ini menjadi akses penting bagi warga.
“Harapannya mungkin pemerintah lebih perhatian ke bangunan jembatannya. Enggak mungkin pemerintah setempat enggak tahu kalau itu akses utama yang tiap hari dilalui. Semoga cepat diperbaiki,” harapnya.
Dibangun Sejak 2009
Kepala Desa Tanjung Buka, Sukardi Yanto, membenarkan kondisi jembatan yang dikeluhkan masyarakat. Ia menegaskan, keberadaan jembatan tersebut sangat vital karena menjadi akses penghubung sejumlah wilayah sekaligus jalur menuju fasilitas pendidikan dan pelayanan pemerintahan desa.
“Jangan sampai memakan korban akibat jembatan yang sudah tidak layak ini. Jembatan itu dibangun sejak 2009 dan sampai sekarang belum ada perbaikan,” tegas Sukardi.
Ia menjelaskan, jalur tersebut menghubungkan SP 2 dengan SP 10, Salangketo, dan Sabuda. Dengan cakupan wilayah yang melayani enam satuan permukiman (SP), enam rukun warga (RW), dan 41 rukun tetangga (RT), jembatan itu menjadi akses penting bagi masyarakat.
Sukardi mengaku telah berulang kali mengusulkan perbaikan kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Bulungan dan Dinas PU Provinsi Kalimantan Utara. Ketua DPRD Kaltara juga disebut pernah meninjau lokasi, sementara pengajuan proposal melalui anggota DPR RI turut dilakukan.
Namun, hingga kini belum ada kepastian realisasi perbaikan atas usulan yang telah disampaikan tersebut.
“Kita tidak tahu kapan bisa ambruk. Yang dikhawatirkan, terutama saat air pasang, apalagi malam hari, jembatan bisa tenggelam. Kadang-kadang ada buaya yang naik ke jembatan. Ini yang kami takutkan, terlebih di sekitar jembatan sangat gelap karena tidak ada lampu jalan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menambah kekhawatiran warga yang harus tetap menggunakan jembatan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera menindaklanjuti usulan perbaikan dengan langkah konkret. Selain pembenahan konstruksi, aspek keselamatan pengguna juga perlu menjadi perhatian agar akses vital tersebut tidak terus menempatkan warga dalam risiko saat bepergian. (*)
Reporter: Redaksi/Koran Kaltara
Redaktur: Fathu Rizqil Mufid
Berita Terkait

Ibu Mengaku Anaknya Alami Perundungan di Sekolah, Mediasi Polisi Belum Temui Titik Terang

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Kabel Menjuntai Makan Korban, Warga Bisa Tempuh Jalur Pidana dan Perdata

Akun Medsos Dicatut, PT Ilmiari Training Center Khawatir Kepercayaan Pelanggan Terganggu

Anggaran Toilet Kebun Raya Bundayati Rp730 Juta, DLH Bulungan Sebut untuk Kebutuhan Masyarakat

Sejumlah Jabatan Pimpinan di Bulungan Kosong

Ketua KPU Bulungan Bersaksi, Sebut Ijazah LL Memenuhi Syarat Administrasi
Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Kasus Tambang PT CCM, Kejagung Geledah Empat Lokasi di Kaltara

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

