Sekolah Rakyat Kehilangan 77 Hari
Selasa, 27 Oktober 2026

Salah satu bangunan di kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Tarakan yang ditargetkan rampung pada akhir November 2026. (IST)
Lahan Rawa Menyita Waktu Pengerjaan, Progres Fisik Baru 74,7 Persen
TARAKAN – Sebanyak 77 hari kerja tersita untuk menyiapkan lahan pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara). Lahan yang disiapkan untuk proyek pendidikan strategis itu ternyata masih berupa rawa sehingga harus ditimbun hingga tiga meter sebelum pembangunan dapat berjalan optimal.
Persoalan di tahap awal tersebut membuat penyedia jasa harus mengejar sisa pekerjaan dengan waktu yang semakin terbatas. Padahal, proyek yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis itu ditargetkan rampung pada akhir November 2026. Sementara progres fisik pada minggu ke-43 baru mencapai 74,7 persen.
Perwakilan penyedia jasa, Reni, mengungkapkan, kendala utama terjadi saat pematangan lahan. Kondisi tapak yang belum siap membuat kontraktor harus melakukan pekerjaan tambahan sebelum konstruksi bangunan dapat berjalan optimal.
“Yang menjadi kendala utama kemarin itu dari pematangan lahan. Lahan yang diberikan belum siap untuk pembangunan karena masih berupa rawa. Jadi, pematangan lahan dan penimbunan itu memotong waktu hingga 77 hari kerja,” ungkap Reni, Selasa (27/10).
Menurut dia, penimbunan dilakukan dengan menambah ketinggian tanah hingga tiga meter dari permukaan awal pada area pembangunan. Proses tersebut juga terkendala curah hujan tinggi yang membuat mobilisasi alat berat dan material tidak berjalan maksimal.
“Selama proses menimbun itu juga ada curah hujan tinggi. Karena ini lahannya timbunan, jadi sangat rentan dan susah untuk mobilisasi peralatan maupun material. Harusnya kalau lahan sudah siap sejak awal, pembangunan bisa berjalan jauh lebih cepat,” ujarnya.
Kesiapan lahan menjadi persoalan penting dalam pembangunan fasilitas pendidikan yang diharapkan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Waktu yang tersita pada tahap awal membuat penyedia jasa harus mempercepat pekerjaan agar target penyelesaian tidak meleset.
Berdasarkan laporan penyedia jasa, progres fisik pembangunan pada minggu ke-43 mencapai 74,7 persen. Adapun masa pengerjaan dalam kontrak ditetapkan selama 240 hari.
Dengan target penyelesaian pada akhir November, percepatan pekerjaan menjadi kebutuhan mendesak. Namun, capaian progres tersebut belum menjamin seluruh kompleks siap digunakan sesuai jadwal, terutama karena sejumlah pekerjaan pada fasilitas pendukung masih berlangsung.
Reni menyebutkan, delapan bangunan telah mencapai progres 100 persen dan mulai dapat difungsikan. Bangunan tersebut meliputi asrama putra dan putri SMP, kantin, gedung ibadah, gedung kelas SMP, gedung SMA, dapur, serta gudang.
Selain bangunan, penyedia jasa juga telah menyiapkan berbagai perlengkapan, termasuk ranjang, kasur asrama, meja, dan kursi belajar. Sementara itu, penyempurnaan instalasi listrik, mekanikal, elektrikal, dan pemipaan masih berlangsung. Genset disiapkan sebagai sumber listrik cadangan.
Meski sejumlah fasilitas telah rampung, pekerjaan yang tersisa tetap menentukan kesiapan seluruh kompleks untuk diserahterimakan tepat waktu. Fasilitas pendidikan terpadu tidak cukup hanya mengandalkan bangunan yang selesai secara fisik, tetapi juga memerlukan infrastruktur pendukung yang siap beroperasi.
Di tengah keterbatasan waktu, penyedia jasa menyatakan terus memacu pengerjaan untuk mengejar target penyelesaian pada November 2026.
“Kami berkomitmen untuk menyelesaikan seluruhnya. Target kami bisa tercapai dan selesai pada bulan November ini. Kami terus memacu pengerjaan agar seluruh gedung selesai dan siap digunakan sepenuhnya,” kata Reni.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo atas kepercayaan yang diberikan dalam pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Tarakan.
Dengan progres fisik yang baru mencapai 74,7 persen pada minggu ke-43, penyelesaian tepat waktu masih harus dibuktikan melalui capaian di lapangan. Kesiapan lahan sejak awal, pengendalian jadwal, serta penyelesaian fasilitas pendukung menjadi faktor penting agar kompleks Sekolah Rakyat benar-benar dapat dimanfaatkan sesuai tujuan program pendidikan tersebut. (*)
Reporter: Sofyan
Redaktur: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

Drainase Cenderawasih Tarakan Menunggu Pemprov Bergerak

Jalan Gajah Mada Tarakan Tak Kunjung Mulus usai Sepekan Sidak, Warga Pertanyakan Keseriusan Pemerintah

Jalan Ditutup Tiga Bulan, Pengunjung Pantai Amal Lama Anjlok

Batu Bara Pantai Amal Masih Berasap, DPUTR Siapkan Penimbunan

Bisa Dibongkar, Speed Bump Halmahera Tarakan Tunggu Kesepakatan

Viral Aksi Ugal-ugalan Remaja Putri, Polisi Telusuri Identitas

Kodaeral XIII Akui Minta Polisi Tidur, Pertamina Bantu Pengadaan
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

