logo
Wilayah

Batu Bara Pantai Amal  Masih Berasap, DPUTR Siapkan Penimbunan

Selasa, 27 Oktober 2026

Batu Bara Pantai Amal  Masih Berasap, DPUTR Siapkan Penimbunan

Lokasi batu bara terbakar di Jalan Amal Lama masih mengeluarkan asap, meski api sebelumnya dilaporkan telah padam (Sofyan/Koran Kaltara).

Ukuran Teks
Normal

TARAKAN – Asap putih masih mengepul dari sejumlah titik batu bara yang terbakar di kawasan Jalan Amal Lama, Pantai Amal, Kota Tarakan. Di tengah kondisi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan menyiapkan penanganan sementara berupa penimbunan menggunakan tanah lempung untuk mengantisipasi bara kembali menyala.

Penanganan itu juga diperlukan untuk menutup bagian jalan yang mengalami kerusakan cukup parah, dengan kedalaman mencapai enam meter. Sementara perbaikan permanen masih menunggu proses perencanaan dan penganggaran.

Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kota Tarakan, Syahrun, mengatakan pekerjaan penimbunan ditargetkan dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Saat ini, pihaknya masih menunggu kesiapan alat berat yang akan disewa untuk mengerjakan penimbunan.

“Dalam minggu-minggu ini kita akan turunkan alat ekskavator untuk menimbun menggunakan tanah. Tanah yang digunakan jenis lempung atau tanah kelai, supaya batu bara yang ada di lokasi itu tidak kembali menyala,” terang Syahrun, Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan pada pekan sebelumnya, api di lokasi tersebut sudah padam dan tidak lagi mengeluarkan asap. Meski demikian, penimbunan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan bara kembali menyala.

Menurutnya, tanah lempung dipilih karena memiliki daya ikat lebih kuat dibandingkan pasir. Material tersebut diharapkan tidak mudah hanyut saat terkena hujan, terutama sebelum pembangunan struktur penahan tanah atau siring dilakukan.

“Kita menggunakan tanah kelai karena daya ikatnya bagus. Ketika basah, tanah ini semakin lengket sehingga tidak mudah hanyut. Untuk sementara kita timbun dulu karena siringnya belum ada,” jelasnya.

Syahrun menyebutkan, titik kerusakan tersebut memiliki panjang sekitar 30 meter, lebar hampir 10 meter, dan kedalaman mencapai enam meter. Berdasarkan ukuran tersebut, kebutuhan material timbunan diperkirakan mencapai 1.800 hingga 2.000 meter kubik.

Untuk memenuhi kebutuhan material, DPUTR akan berkoordinasi dengan PLN. Sebab, lahan yang direncanakan menjadi lokasi pengambilan tanah diketahui merupakan milik perusahaan tersebut.

Penimbunan ini menjadi langkah awal untuk menangani kerusakan di lokasi tersebut sebelum perbaikan permanen dilakukan. Namun, penimbunan saja belum cukup untuk memperkuat struktur tanah dan jalan dalam jangka panjang.

DPUTR merencanakan pembangunan siring untuk memperkuat struktur tanah, dilanjutkan dengan pengerasan menggunakan agregat dan pengaspalan ulang.

Syahrun mengungkapkan, perbaikan menyeluruh Jalan Amal Lama direncanakan masuk dalam usulan program pembangunan tahun anggaran 2027. Pekerjaan yang direncanakan berupa overlay atau pelapisan ulang aspal, disertai penanganan struktur jalan pada bagian yang membutuhkan perbaikan.

Panjang ruas jalan yang diusulkan untuk ditangani mencapai sekitar 1,75 kilometer, mulai dari kawasan pertigaan menuju jalur Angkatan Laut hingga Jalan Amal Lama.

“Untuk jangka panjang, kita akan lakukan siring, kemudian agregat dan pengaspalan. Tahun 2027 kita akan usulkan overlay sampai Jalan Amal Lama,” katanya.

Ia memperkirakan, kebutuhan anggaran untuk pekerjaan tersebut berkisar Rp6 miliar hingga Rp8 miliar. Namun, angka itu masih berupa perkiraan karena usulan anggaran belum melalui pembahasan final.

“Perkiraannya antara Rp 6 miliar sampai Rp 8 miliar. Ini masih kita usulkan, tetapi akan kita upayakan menjadi prioritas,” ungkap Syahrun.

Syahrun juga menjelaskan, status pengelolaan ruas jalan tersebut telah kembali diserahkan kepada Pemerintah Kota Tarakan pada Februari lalu, setelah sebelumnya menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Dengan demikian, penanganan sementara menjadi langkah awal sembari menunggu proses perencanaan dan penganggaran perbaikan permanen.

Saat memantau lokasi, Koran Kaltara masih mendapati asap putih mengepul dari beberapa titik yang diduga berasal dari batu bara yang terbakar. Suhu di sekitar lokasi juga terasa panas akibat paparan panas dari area tersebut.

Kondisi itu menunjukkan bahwa meskipun api sebelumnya dilaporkan telah padam, penanganan di lokasi masih diperlukan untuk mengantisipasi bara kembali menyala. (*)

Reporter: Sofyan

Editor: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com