Tarakan Rawan Bencana, Tas Siaga Belum Jadi Kebiasaan
Minggu, 25 Oktober 2026

Yonsep
TARAKAN – Ketika bencana datang, warga mungkin hanya memiliki waktu singkat untuk menyelamatkan diri. Dalam situasi seperti itu, dokumen penting dan kebutuhan dasar bisa tertinggal jika tidak disiapkan sejak awal. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mengimbau masyarakat mulai menyiapkan tas siaga bencana di rumah masing-masing.
Imbauan ini penting mengingat Tarakan memiliki potensi bencana, termasuk gempa bumi yang dapat memicu situasi darurat. Kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui jalur evakuasi, tetapi juga memastikan perlengkapan penting dapat dibawa dengan cepat ketika warga harus meninggalkan rumah.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tarakan, Yonsep, mengatakan, penyimpanan dokumen penting dalam satu tempat sebenarnya telah lama disosialisasikan kepada masyarakat.
“Dari dulu saya sampaikan, kumpulkan surat-surat berharga, tabungan, ijazah, sertifikat dalam satu tempat. Jadi, ketika terjadi bencana, yang itu bisa diselamatkan dan lebih mudah dibawa,” terangnya, Minggu (25/10/2026).
Menurut Yonsep, dokumen seperti ijazah, sertifikat tanah, buku tabungan, surat nikah, dan akta perlu disimpan dalam wadah yang mudah dijangkau. Dengan begitu, warga tidak perlu mencari dokumen satu per satu ketika harus segera keluar rumah.
Ia menilai, tas siaga bencana seharusnya menjadi perlengkapan yang disiapkan secara mandiri oleh setiap keluarga. Tas tersebut tidak harus berukuran besar atau berisi terlalu banyak barang, tetapi perlu memuat kebutuhan yang benar-benar diperlukan dalam kondisi darurat.
Yonsep menjelaskan, selain dokumen penting, tas siaga bencana dapat dilengkapi kotak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), obat-obatan yang diperlukan, senter, makanan siap konsumsi, serta perlengkapan sederhana lainnya.
Persediaan makanan dan kebutuhan dasar idealnya dapat menunjang kebutuhan selama sekitar tiga hari. Jangka waktu tersebut menjadi pertimbangan untuk mengantisipasi keterlambatan bantuan, terutama apabila akses distribusi terganggu akibat bencana.
“Paling tidak untuk tiga hari. Itu pertimbangannya karena kita menunggu datangnya bantuan,” jelasnya.
Ia menambahkan, isi tas dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Perlengkapan komunikasi, seperti pengisi daya dan power bank, juga dapat disiapkan sesuai kebutuhan, termasuk korek api dan pisau lipat yang disimpan dengan aman.
Namun, Yonsep mengingatkan masyarakat agar tidak memasukkan terlalu banyak barang yang justru menyulitkan proses evakuasi.
Menurutnya, tas siaga bencana sebaiknya ringan dan mudah dibawa. Perlengkapan berlebihan, seperti tenda atau terlalu banyak pakaian, berpotensi menghambat pergerakan ketika warga harus segera menyelamatkan diri.
Di sisi lain, BPBD Tarakan terus melakukan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat, aparatur sipil negara (ASN), sekolah, dan sejumlah instansi. Materi yang banyak diminta antara lain penanganan awal saat gempa bumi dan kebakaran.
Yonsep menyebutkan, sejumlah sekolah dan instansi telah melaksanakan edukasi maupun simulasi kebencanaan. Bahkan, menurut dia, permintaan kegiatan dari sekolah swasta juga meningkat seiring tumbuhnya kesadaran mengenai pentingnya kesiapsiagaan.
Meski demikian, pelaksanaan simulasi bencana secara menyeluruh yang melibatkan berbagai unsur masyarakat masih membutuhkan anggaran besar. Karena itu, BPBD menjalankan simulasi dalam skala lebih kecil melalui metode tabletop exercise (TTX), yakni latihan berbasis skenario untuk menguji koordinasi dan pengambilan keputusan dalam menghadapi bencana.
Yonsep berharap, edukasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi juga mendorong masyarakat melakukan persiapan nyata di rumah masing-masing.
“Kalau sudah punya tempat untuk menyimpan semuanya, apa pun yang terjadi, itulah yang diambil lebih dahulu. Jadi, tas bencana itu yang langsung dibawa,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan, BPBD pernah mempertimbangkan program bantuan stimulan untuk mendorong masyarakat menyiapkan tas siaga secara mandiri. Namun, penyediaan perlengkapan bagi seluruh warga dinilai membutuhkan anggaran besar.
Bagi masyarakat Tarakan, kesiapsiagaan dapat dimulai dari langkah sederhana: menyiapkan tas yang mudah dijangkau, memastikan dokumen penting tersimpan aman, serta menyediakan kebutuhan dasar untuk kondisi darurat. Persiapan sejak dini diharapkan dapat membantu warga bergerak lebih cepat dan terarah ketika bencana terjadi. (*)
Reporter: Sofyan
Editor: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

Utang Pinjol Rp100 Ribu Bisa Ganjal KUR Nelayan Tarakan

Jalan Aki Babu Masih Gelap, Dishub Tarakan Terkendala Anggaran

Lima Penumpang Terombang-ambing, SAR Temukan di Muara Kayan

Lima Penumpang Speedboat Hilang Kontak di Bulungan

Polisi Tidur Halmahera Tarakan Dipersoalkan, IMM Minta RDP

Kuota Solar Nelayan Tarakan Belum Berubah, Dua SPBU Disiapkan

Subsidi BBM Terancam Dipangkas, Nelayan Tak Bisa Naikkan Harga Ikan
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

