Jalan Ditutup Tiga Bulan, Pengunjung Pantai Amal Lama Anjlok
Selasa, 27 Oktober 2026

Jalan di kawasan Pantai Amal Lama terputus akibat penanganan batu bara yang terbakar tepat di bawah badan jalan. (Sofyan/Koran Kaltara)
TARAKAN – Selama tiga bulan, penutupan akses jalan di kawasan Pantai Amal Lama, Kota Tarakan, tak hanya menyulitkan mobilitas warga, tetapi juga memukul aktivitas ekonomi masyarakat. Jumlah kunjungan wisatawan diperkirakan merosot hingga 50 persen, membuat pedagang yang mengandalkan keramaian pantai mulai merasakan penurunan pendapatan.
Di tengah penanganan batu bara yang terbakar tepat di bawah badan jalan, warga kini menanti akses utama segera dipulihkan. Sebab, jalur alternatif yang tersedia dinilai belum mampu menggantikan fungsi jalan tersebut secara optimal.
Warga RT 2 Pantai Amal, Jubaidah, mengatakan penutupan jalan membuat masyarakat harus menggunakan jalur alternatif melalui kawasan Karungan maupun RT 4. Kondisi ini menyulitkan warga yang setiap hari beraktivitas ke pusat kota, termasuk pelajar, mahasiswa, dan pekerja.
Menurutnya, jalur alternatif memiliki sejumlah kendala, mulai dari jarak tempuh yang lebih jauh hingga banyaknya polisi tidur yang dikeluhkan pengguna jalan. Kondisi tersebut membuat perjalanan kurang nyaman, terutama bagi pengendara sepeda motor.
“Sudah sekitar tiga bulan lebih masyarakat mengeluhkan kondisi ini. Kalau lewat Karungan terasa jauh, sedangkan lewat RT 4 banyak polisi tidur. Anak-anak sekolah dan mahasiswa juga banyak yang mengeluh,” terang Jubaidah, Selasa (27/10/2026).
Dampak penutupan jalan juga dirasakan sektor wisata dan usaha kecil masyarakat. Jubaidah menilai jumlah pengunjung Pantai Amal Lama mengalami penurunan cukup signifikan, terutama pada akhir pekan yang biasanya menjadi waktu ramai wisatawan.
Ia memperkirakan jumlah kunjungan ke kawasan tersebut merosot hingga sekitar 50 persen dibandingkan sebelum akses jalan ditutup. Berkurangnya wisatawan turut memengaruhi pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pengunjung.
“Kalau melihat jumlah kunjungan, merosot sekitar 50 persen. Dampaknya cukup terasa bagi masyarakat yang berjualan di sana,” katanya.
Pantai Amal Lama selama ini menjadi salah satu tujuan warga untuk menikmati wisata pantai sekaligus membeli aneka makanan dan minuman. Sejumlah pedagang mengandalkan penjualan kerang kapah, gorengan, dan es kelapa sebagai sumber penghasilan.
Jubaidah menilai penurunan jumlah pengunjung membuat aktivitas ekonomi masyarakat sekitar ikut terdampak. Selain pedagang, warga yang menyediakan tempat kos bagi mahasiswa juga berpotensi merasakan dampak dari terganggunya akses menuju kawasan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penutupan jalan bukan sekadar persoalan lalu lintas, melainkan juga menyangkut keberlangsungan usaha masyarakat yang bergantung pada aktivitas wisata.
Di sisi lain, masyarakat menyambut baik rencana penimbunan jalan agar akses tersebut dapat kembali difungsikan. Jubaidah mengatakan warga telah lama menantikan perbaikan karena jalur alternatif yang digunakan selama ini dinilai belum memberikan kenyamanan bagi seluruh pengguna jalan.
“Bagus kalau jalan ini segera ditimbun dan difungsikan kembali. Memang sudah lama ditunggu masyarakat. Kami berharap pengerjaannya bisa dipercepat karena banyak warga yang mengeluh selama jalan ditutup,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jalur alternatif yang melintasi lahan milik pihak lain juga tidak bisa digunakan secara bebas. Penggunaan akses tersebut harus memperhatikan izin pemilik lahan sehingga masyarakat tidak dapat sepenuhnya mengandalkannya sebagai pengganti jalan utama.
Selain itu, jalur alternatif tersebut lebih banyak digunakan pengendara sepeda motor. Kendaraan roda empat dinilai sulit melintas dan berisiko jika memaksakan diri melewati jalur tersebut.
Bagi warga, pemulihan akses jalan menjadi kebutuhan mendesak agar mobilitas kembali normal dan aktivitas ekonomi di sekitar Pantai Amal Lama berangsur pulih.
Masyarakat berharap penanganan jalan tidak berlarut-larut. Semakin lama akses utama tidak dapat digunakan, semakin panjang pula dampak yang harus ditanggung warga, mulai dari kesulitan perjalanan hingga berkurangnya pendapatan dari sektor wisata.
Kini, warga menantikan realisasi penimbunan dan pembukaan kembali jalan tersebut agar Pantai Amal Lama kembali mudah dijangkau dan aktivitas wisata yang menjadi tumpuan sebagian masyarakat dapat kembali bergeliat. (*)
Reporter: Sofyan
Editor: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

Batu Bara Pantai Amal Masih Berasap, DPUTR Siapkan Penimbunan

Bisa Dibongkar, Speed Bump Halmahera Tarakan Tunggu Kesepakatan

Viral Aksi Ugal-ugalan Remaja Putri, Polisi Telusuri Identitas

Kodaeral XIII Akui Minta Polisi Tidur, Pertamina Bantu Pengadaan

Suara Berderak, Rumpun Bambu Timpa Rumah Warga di Tarakan

Harga Anjlok, Pembudidaya Rumput Laut Tarakan Hengkang

Bullying di Sekolah, Dalih Pola Asuh Tak Bisa Jadi Pembenaran
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

