logo
Wilayah

Kaltara Bidik Transaksi Karbon Mangrove pada 2028

Kamis, 05 November 2026

Kaltara Bidik Transaksi Karbon Mangrove pada 2028

Ekosistem mangrove di Tarakan menyimpan cadangan karbon biru yang kini mulai disiapkan sebagai komoditas perdagangan karbon di pasar internasional.

Ukuran Teks
Normal

TARAKAN – Hutan mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara) bukan sekadar benteng alami yang melindungi pesisir dari abrasi. Ekosistem ini juga menyimpan potensi ekonomi yang selama ini belum banyak tersentuh, yakni karbon yang kini mulai dibidik sebagai komoditas perdagangan di pasar global.

Melalui skema perdagangan karbon (carbon trading), cadangan karbon yang tersimpan di batang pohon, tanah, hingga sedimen mangrove berpeluang menghasilkan nilai ekonomi. Kaltara pun mulai menyiapkan langkah agar potensi tersebut dapat diperdagangkan, dengan target penjualan perdana pada 2028.

Upaya itu menjadi bagian dari pengembangan proyek Blue Carbon Offset Readiness melalui program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Project Implementing Unit Carbon Offset, Muhammad Farid, mengatakan Kaltara memiliki potensi besar untuk mengembangkan perdagangan karbon. Sebab, ekosistem mangrove tidak hanya menyimpan karbon pada batang dan bagian pohon, tetapi juga pada lapisan tanah serta sedimen yang terperangkap di dalamnya.

Menurutnya, kandungan karbon mangrove bahkan lebih tinggi dibandingkan hutan yang tumbuh di tanah mineral.

"Karbon yang ada di mangrove itu bukan hanya dari pohonnya, tetapi juga dari tanahnya. Sedimen yang terperangkap dan serasah yang menumpuk di dalam ekosistem mangrove juga menyimpan karbon dalam jumlah besar," terangnya, Kamis (5/11/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan data potensi karbon mangrove di Kaltara, kawasan dengan kerapatan tinggi mampu menyimpan sekitar 109 ton karbon per hektare. Sementara mangrove dengan kerapatan sedang sekitar 57 ton, kerapatan rendah 25 ton, dan vegetasi nipah sekitar 13 ton per hektare.

Besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi Kaltara memperoleh manfaat ekonomi dari upaya perlindungan lingkungan. Melalui skema blue carbon offset, karbon yang tersimpan dalam ekosistem mangrove nantinya dapat dikonversi menjadi unit karbon yang diperjualbelikan kepada perusahaan atau pihak yang menghasilkan emisi gas rumah kaca.

"Siapa yang mengira kalau hutan yang kita jaga dan tidak ditebang itu ternyata bisa dihargai karbonnya? Karbon yang terkandung di dalam ekosistem bisa dinaikkan nilai ekonominya dan dibayar oleh pihak yang melakukan emisi di tempat lain," jelasnya.

Farid menyebutkan, harga karbon di pasar internasional bervariasi. Berdasarkan contoh harga yang disampaikannya, karbon dapat dihargai mulai dari 5 dolar AS per ton, bahkan berpeluang mencapai 20 hingga 30 dolar AS per ton, bergantung pada kualitas proyek dan standar verifikasi yang digunakan.

Meski demikian, perdagangan karbon di Kaltara belum memasuki tahap penjualan. Saat ini, program tersebut masih dalam proses persiapan, mulai dari penyusunan dokumen rancangan proyek, penghitungan cadangan karbon, hingga proses verifikasi.

"Kaltara memang belum ada penjualan karbon. Tetapi potensinya ada. Mudah-mudahan pada 2028 kita sudah memiliki potensi untuk melakukan penjualan karbon di Kaltara," katanya.

Ia menegaskan, agar karbon dapat diperdagangkan dengan nilai yang baik, proyek harus memiliki dokumen perencanaan yang kuat. Salah satu syarat utamanya adalah penghitungan karbon secara akurat, baik yang berada di atas permukaan tanah (above ground) maupun di bawah permukaan tanah (below ground).

Penghitungan dilakukan melalui pengambilan sampel di sejumlah titik, termasuk plot permanen dan sampel tanah yang selanjutnya dianalisis di laboratorium.

Selain penghitungan karbon, keberhasilan proyek juga sangat bergantung pada upaya menjaga kelestarian mangrove. Sebab, nilai ekonomi karbon yang tersimpan dapat hilang apabila hutan ditebang atau mengalami kerusakan.

Dalam program M4CR, terdapat dua pendekatan utama, yakni restorasi melalui penanaman mangrove di kawasan yang telah terbuka serta perlindungan hutan mangrove yang masih tersisa.

"Yang penting hutannya tidak ditebang dan kita terus melakukan penanaman. Karena kalau mangrove ditebang, karbon yang tersimpan di dalamnya bisa terlepas," tegasnya.

Farid menilai, skema perdagangan karbon dapat menjadi sumber pendanaan alternatif untuk melindungi ekosistem pesisir. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya bergantung pada pemanfaatan hasil tambak atau aktivitas ekonomi lain yang berpotensi mengancam keberadaan mangrove.

Ia berharap, pengembangan proyek karbon di Kaltara nantinya tidak sekadar menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan ekosistem pesisir.

Sebab, di balik hutan mangrove yang kerap dianggap sebagai kawasan biasa, tersimpan potensi ekonomi jangka panjang. Namun, potensi tersebut hanya dapat memberikan manfaat apabila ekosistemnya dijaga secara berkelanjutan. (*)

Reporter: Sofyan

Editor: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com