logo
Wilayah

Bisnis Plywood Tertekan, Intracawood Pangkas 200 Pekerja

Rabu, 04 November 2026

Bisnis Plywood Tertekan, Intracawood Pangkas 200 Pekerja

Perwakilan manajemen PT Intracawood Manufacturing memberikan penjelasan mengenai kondisi keuangan dan operasional perusahaan saat ini. (Sofyan/KoranKaltara).

Ukuran Teks
Normal

TARAKAN – Setelah sekitar 30 tahun menjadi salah satu penopang industri pengolahan kayu di Kota Tarakan, PT Intracawood Manufacturing kini menghadapi tekanan bisnis yang semakin berat. Melemahnya pasar plywood, kenaikan biaya operasional, hingga menyusutnya pesanan membuat perusahaan kesulitan menjaga arus kas untuk mempertahankan kegiatan produksi.

Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh pekerja. Lebih dari 200 tenaga harian lepas (THL) telah diputus hubungan kerjanya secara bertahap sejak Februari hingga mencapai puncaknya pada September 2026. Bahkan, pembayaran gaji pekerja yang masih bertahan dalam dua bulan terakhir harus dilakukan secara bertahap atau dicicil.

Wakil General Manager PT Intracawood Manufacturing, Nurdin, secara terbuka mengakui kondisi perusahaan sedang tidak baik. Situasi tersebut merupakan akumulasi persoalan yang telah berlangsung sejak 2019, setelah pandemi Covid-19.

“Memang kondisi perusahaan tidak baik. Ini bukan hanya terjadi dalam satu atau dua bulan terakhir, tetapi terakumulasi dari penyebab sebelumnya,” ungkap Nurdin dalam pertemuan bersama pekerja, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, perusahaan sempat mampu melewati tekanan keuangan melalui sejumlah strategi manajemen. Namun, kondisi semakin berat pada 2022 dan kembali mengalami tekanan besar pada Februari hingga Maret 2026.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga solar yang digunakan untuk menunjang operasional perusahaan. Nurdin menyebut harga solar yang sebelumnya sekitar Rp15 ribu per liter sempat melonjak hingga Rp32 ribu per liter.

Kenaikan biaya operasional tersebut tidak diikuti peningkatan harga jual plywood. Sebaliknya, harga jual produk justru mengalami penurunan, sementara permintaan dan volume pesanan juga semakin menyusut.

“Nilai jual plywood sementara ini terus menurun. Dari kuantitasnya pun mulai mengecil. Ini yang menyebabkan kondisi perusahaan sulit beroperasi secara normal,” jelasnya.

Menghadapi tekanan tersebut, manajemen mengambil sejumlah langkah penghematan. Salah satunya dengan mengurangi tenaga kerja harian lepas hingga lebih dari 200 orang.

Nurdin menyebutkan, saat ini masih terdapat sekitar 88 THL yang dipertahankan. Mereka merupakan pekerja dengan keterampilan khusus yang masih dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan operasional sekaligus regenerasi tenaga kerja.

Namun, ia tidak menutup kemungkinan pengurangan tenaga kerja kembali dilakukan apabila kondisi keuangan perusahaan belum membaik.

“Dengan kondisi keuangan seperti ini, kemungkinan yang masih memiliki keterampilan pun tetap akan kita keluarkan. Mau tidak mau, karena memang kondisi sudah sangat sulit untuk menjalankan cash flow,” ujarnya.

Selain pengurangan tenaga kerja, manajemen juga mulai mengubah strategi bisnis. Selama ini, perusahaan lebih banyak diarahkan untuk menjual produk plywood hasil pengolahan kayu.

Padahal, berdasarkan evaluasi internal, tidak seluruh kayu log yang masuk layak diproses menjadi plywood karena berpotensi menimbulkan kerugian.

Nurdin mencontohkan, dari 2.000 meter kubik kayu log yang masuk, hanya sekitar 1.000 meter kubik yang dinilai layak diproduksi untuk menghasilkan keuntungan. Sementara sisanya berpotensi merugikan jika seluruhnya dipaksakan masuk ke proses produksi.

Karena itu, manajemen mengusulkan agar sebagian kayu log dapat dijual langsung. Usulan tersebut akhirnya mendapat persetujuan pemilik perusahaan sekitar Agustus 2026.

Langkah ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan perusahaan di tengah melemahnya pasar plywood. Manajemen juga merekrut tenaga pemasaran baru yang memiliki jaringan bisnis di luar perusahaan untuk mendongkrak penjualan.

Namun, persoalan paling krusial saat ini adalah arus kas perusahaan yang semakin terbatas.

Nurdin mengungkapkan, selama ini sejumlah pemasok bahan baku masih memberikan kelonggaran pembayaran melalui sistem dua hingga tiga invoice. Namun, karena kondisi pasar yang sulit, pemasok mulai menghentikan fasilitas tersebut. Pengiriman bahan baku kini harus menunggu pembayaran terlebih dahulu.

Situasi itu membuat perusahaan berada dalam posisi sulit. Manajemen akhirnya mengambil keputusan menggunakan sebagian dana yang seharusnya dialokasikan untuk pembayaran gaji guna memenuhi kewajiban kepada pemasok.

Dampaknya, pembayaran gaji pekerja dalam dua bulan terakhir dilakukan dua kali atau dicicil.

“Kalau tidak dilakukan ini, perusahaan bisa berhenti karena bahan baku tidak ada. Ini keputusan yang diambil bukan karena baik, tetapi yang terbaik dari yang terburuk,” kata Nurdin.

Ia menjelaskan, apabila seluruh dana langsung digunakan untuk membayar gaji secara penuh, perusahaan berisiko tidak mampu memenuhi kewajiban kepada pemasok. Akibatnya, pasokan bahan baku dapat terhenti dan kegiatan produksi terancam berhenti.

Beban gaji sendiri disebut mencapai sekitar sepertiga dari total biaya operasional perusahaan.

Meski demikian, manajemen mengakui kondisi tersebut membuat pekerja tidak mendapatkan kepastian mengenai tanggal pembayaran gaji secara penuh. Sebab, pembayaran sangat bergantung pada dana yang masuk dari pembeli atau buyer.

Nurdin berharap pekerja memahami kondisi perusahaan dan tetap menjaga hubungan industrial agar tidak menimbulkan persoalan yang berpotensi memengaruhi kepercayaan pembeli.

Sebab, menurutnya, sebagian pembeli merupakan broker yang menghubungkan perusahaan dengan pelanggan lain. Jika kondisi internal perusahaan semakin diketahui pasar, dikhawatirkan akan memengaruhi kepercayaan dan pesanan.

Di tengah situasi tersebut, masa depan perusahaan yang pernah menjadi salah satu penopang industri kayu di Tarakan kini menjadi perhatian. Penyelamatan arus kas, perubahan strategi penjualan, dan pengurangan biaya operasional menjadi langkah yang ditempuh manajemen agar perusahaan tetap bertahan.

Namun, bagi para pekerja, keberlangsungan perusahaan juga harus diikuti kepastian pembayaran gaji dan pemenuhan hak-hak mereka. (*)

Reporter: Sofyan 

Editor: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com