logo
Wilayah

Rehabilitasi Mangrove Kaltara Belum Tuntas

Selasa, 03 November 2026

Rehabilitasi Mangrove Kaltara Belum Tuntas

Aktivitas nelayan tambak udang di perairan Tanah Tidung yang telah ditanami mangrove. (Sofyan/KoranKaltara)

3.100 Hektare Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Ukuran Teks
Normal

TARAKAN – Program rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara (Kaltara) telah mencapai sekitar 10.900 hektare dari target 14.000 hektare. Meski sebagian besar target telah terealisasi, masih terdapat sekitar 3.100 hektare yang perlu dikejar untuk menuntaskan program tersebut.

Provincial Project Implementation Unit 
(PPIU) Manager Mangroves for Coastal Resilience,  M4CR Kalimantan Utara, Akhmad Ashar Sarif, mengatakan capaian rehabilitasi mangrove tersebut berasal dari penanaman 6.500 hektare pada 2024 dan sekitar 4.400 hektare pada pelaksanaan berikutnya.

“Untuk saat ini kita sudah di 10.900. Sebanyak 6.500 hektare di tahun 2024 dan sekarang sekitar 4.400 hektare,” terangnya, Selasa (3/11/2026).

Dia menjelaskan, tahun ini ditargetkan menjadi tahap terakhir pelaksanaan penanaman. Sementara pada tahun berikutnya, kegiatan akan difokuskan pada pemeliharaan untuk memastikan mangrove yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik.

Meski demikian, pihaknya masih berupaya mencari lokasi tambahan yang memungkinkan untuk direhabilitasi. Bahkan, terdapat sekitar 1.100 hektare rencana kegiatan (RK) yang sedang diupayakan untuk dieksekusi tahun ini.

“Harapannya bisa eksekusi lagi. Saat ini kita sudah ada 1.100-an RK yang mau dieksekusi tahun ini,” jelasnya.

Akhmad menyebutkan, pelaksanaan rehabilitasi mangrove di Kaltara tersebar di tiga kabupaten, yakni Bulungan, Tana Tidung, dan Nunukan. Sebagian besar lokasi penanaman berada di kawasan pertambakan milik masyarakat.

Namun, pelaksanaan rehabilitasi tidak seluruhnya berjalan mulus. Sejumlah kelompok menghadapi kendala pertumbuhan bibit akibat kondisi kualitas air yang kurang mendukung hingga munculnya lumut saat tanaman masih berukuran kecil.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, kelompok yang mengalami kegagalan pertumbuhan didorong melakukan penanaman kembali secara swadaya setelah melalui evaluasi.

“Untuk yang kurang bagus ini kita upayakan kelompok menanam kembali secara swadaya dengan mempertimbangkan hasil evaluasi,” katanya.

Dalam penerapannya, rehabilitasi mangrove di kawasan tambak menggunakan konsep silvofishery atau perpaduan antara kegiatan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove.

Pola penanaman dapat disesuaikan dengan kondisi tambak dan pilihan pemilik lahan. Di antaranya penanaman mengelilingi sisi tambak, penanaman penuh di bagian pelataran, maupun menggunakan pola lajur.

Menurut Akhmad, jenis mangrove yang ditanam juga mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar. Namun, untuk kawasan tambak, jenis Rhizophora lebih banyak dipilih karena dinilai tidak terlalu mengganggu ruang gerak petambak.

Berbeda dengan jenis Avicennia atau Sonneratia yang memiliki jangkauan akar cukup luas sehingga berpotensi mengganggu aktivitas budidaya di dalam tambak.

Selain rehabilitasi fisik, pihaknya juga melakukan pendekatan kepada petambak melalui sekolah lapang. Dalam kegiatan tersebut, petambak yang telah berhasil menerapkan pola tambak bermangrove dilibatkan untuk berbagi pengalaman langsung kepada petambak lainnya.

“Kita libatkan juga teman-teman yang sudah berhasil. Jadi bukan dari kami atau akademisi saja, tetapi dari sesama petambak yang sudah berhasil mereka menyampaikan pengalamannya,” ujarnya.

Terkait manfaat terhadap hasil produksi, Akhmad menjelaskan, keberadaan mangrove secara akademis telah didukung sejumlah penelitian yang menunjukkan kemampuannya dalam menjaga kualitas air tambak.

Kondisi air yang lebih terjaga diharapkan membuat udang lebih sehat dan mengurangi risiko kegagalan budidaya. Meski demikian, peningkatan produktivitas atau jumlah hasil panen masih memerlukan kajian lebih lanjut.

“Kalau secara akademis memang sudah ada beberapa penelitian, daun mangrove itu bisa menjaga kualitas air. Jadi udangnya lebih sehat. Kalau produktivitas masih perlu dicek lagi,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sofyan

Redaktur: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com