logo
Wilayah

Tiket Pesawat Tahan Inflasi Tarakan, Cabai Rawit Melonjak

Selasa, 03 November 2026

Tiket Pesawat Tahan Inflasi Tarakan, Cabai Rawit Melonjak

Warga berbelanja kebutuhan bahan pokok di Pasar Gusher, Tarakan. (Sofyan/ Koran Kaltara)

Ukuran Teks
Normal

TARAKAN – Rendahnya inflasi Kota Tarakan pada Oktober 2026 belum sepenuhnya mencerminkan stabilitas harga kebutuhan masyarakat. Di tengah inflasi bulanan yang hanya mencapai 0,05 persen, sejumlah komoditas pangan justru mengalami kenaikan cukup tinggi. Cabai rawit dan tomat menjadi penyumbang tekanan harga terbesar.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, kenaikan tarif sejumlah bahan pangan tersebut tertahan oleh penurunan harga angkutan udara. Tiket pesawat menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar sepanjang Oktober.

Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi menjelaskan, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan Oktober 2026, yakni sebesar 0,2565 persen. Disusul tomat yang memberikan andil sebesar 0,1143 persen.

Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan lainnya, seperti cabai merah, jagung manis, terong, minyak goreng, hingga kacang panjang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun inflasi Tarakan secara keseluruhan relatif terkendali, tekanan harga pada kelompok kebutuhan sehari-hari masih cukup terasa.

"Pada Oktober 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil sebesar 0,24 persen," berdasarkan catatan perkembangan inflasi BPS Kota Tarakan.

Namun, kenaikan harga sejumlah bahan pangan tersebut tertahan oleh penurunan harga pada beberapa komoditas lainnya. Salah satu yang memberikan pengaruh cukup besar adalah tarif angkutan udara.

Tarif angkutan udara memberikan andil deflasi sebesar 0,1482 persen. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada kangkung, emas perhiasan, sawi hijau, bayam, dan daging ayam ras.

Secara keseluruhan, kelompok transportasi menjadi penahan utama inflasi Oktober dengan andil deflasi sebesar 0,14 persen.

Umar Riyadi menerangkan, berdasarkan perkembangan tersebut, inflasi bulanan Kota Tarakan pada Oktober tercatat sebesar 0,05 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,83 persen dan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,70 persen.

Angka inflasi Tarakan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Kalimantan Utara yang mencapai 0,20 persen secara bulanan dan nasional sebesar 0,22 persen.

Meski demikian, inflasi tahunan Tarakan sebesar 2,70 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Kaltara yang sebesar 2,68 persen. Namun, angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,23 persen.

BPS juga mencatat, apabila pola inflasi pada sisa bulan 2026 mengikuti pola yang terjadi pada 2025, inflasi tahunan Tarakan diperkirakan berada di kisaran 2,70 persen.

Di sisi lain, perkembangan harga komoditas pangan tetap perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Terlebih, menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), kebutuhan masyarakat berpotensi meningkat sehingga dapat memengaruhi stabilitas pasokan maupun harga di pasaran.

Sejumlah komoditas, seperti cabai rawit, tomat, dan cabai merah, perlu mendapat perhatian karena menjadi penyumbang utama kenaikan harga pada Oktober.

Upaya menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi penting agar kenaikan harga pada komoditas tertentu tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih besar menjelang akhir tahun. (*)

Reporter: Sofyan

Editor: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com