Anak Berkebutuhan Khusus di Tarakan Terus Bertambah
Senin, 02 November 2026

Endah Sarastiningsih
Disdik Siapkan Pendampingan Terapi
TARAKAN – Bertambahnya jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Tarakan menuntut perhatian lebih dari pemerintah dan lingkungan pendidikan. Tidak hanya memastikan akses sekolah, kesinambungan terapi dan pendampingan menjadi kebutuhan penting agar perkembangan anak tidak terhambat.
Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan mencatat, jumlah ABK meningkat dari 27 anak menjadi 79 anak, kemudian kembali bertambah hingga mencapai 104 anak. Kondisi ini mendorong Disdik menyiapkan program pendampingan melalui Baloi Anak Hebot.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan Endah Sarastiningsih mengungkapkan, peningkatan jumlah tersebut perlu diikuti penanganan yang berkelanjutan. Sebab, anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya mendapatkan pendidikan di sekolah, tetapi juga membutuhkan terapi secara konsisten dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk orang tua.
“Anak-anak ini tidak selalu oleh orang tuanya dikonselingkan atau diterapikan, karena terapinya harus sinergis,” terangnya, Senin (2/11/2026).
Dia menjelaskan, kondisi anak berkebutuhan khusus sangat beragam. Ada anak yang secara fisik terlihat normal, tetapi mengalami hambatan dalam komunikasi, interaksi sosial, maupun pengendalian perilaku. Sebagian di antaranya mengalami keterlambatan bicara (speech delay), autisme, hingga kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Menurut Endah, pemahaman orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan anak. Penanganan yang tidak berkelanjutan berpotensi membuat kemampuan yang sebelumnya sudah dicapai anak kembali mengalami kemunduran.
Dia juga menyoroti penggunaan gawai secara berlebihan sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pola pengasuhan. Meski demikian, kondisi anak berkebutuhan khusus memiliki penyebab dan karakteristik yang beragam sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan.
“Setiap anak itu berbeda-beda, sehingga terapinya juga berbeda. Tidak semua orang paham bagaimana menangani anak-anak ini,” jelasnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Disdik Tarakan bersama pihak terkait mulai mengembangkan program Baloi Anak Hebot. Program ini dirancang untuk membantu anak berkebutuhan khusus, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu maupun orang tua yang belum memahami kondisi anaknya, agar memperoleh pendampingan dan terapi secara berkelanjutan.
Endah menyebutkan, program tersebut telah melalui tahap uji coba di Sekretariat Pokja PAUD, Gedung Wanita Tarakan. Berdasarkan hasil evaluasi, pendampingan ABK membutuhkan keterlibatan sejumlah tenaga profesional, seperti dokter, ahli gizi, dan psikolog.
Dalam pelaksanaannya, satu sesi pendampingan idealnya hanya menangani lima anak. Jumlah tersebut dipertimbangkan agar proses pendampingan lebih efektif, mengingat setiap anak membutuhkan pendekatan yang berbeda.
“Terapi itu lumayan mahal. Satu jam bisa mencapai Rp 200 ribu. Karena itu, Baloi Anak Hebot diharapkan bisa membantu orang tua yang tidak mampu agar anaknya tetap mendapatkan terapi,” katanya.
Lebih jauh, Endah menegaskan, pendidikan inklusif harus menjadi perhatian seluruh sekolah di Tarakan. Anak berkebutuhan khusus tetap memiliki hak untuk mengenyam pendidikan di sekolah umum dengan dukungan dan penyesuaian sesuai kebutuhannya.
Menurutnya, lingkungan sekolah umum dapat membantu anak belajar berinteraksi dan meniru perilaku positif dari teman-teman sebayanya. Namun, hal tersebut harus dibarengi pemahaman guru mengenai cara berkomunikasi dan mendampingi anak berkebutuhan khusus.
“Kita harapkan semua sekolah di Tarakan inklusif. Nanti pendampingan juga dilakukan kepada guru, sehingga mereka tahu bagaimana menangani ketika mendapatkan anak inklusif,” ujarnya.
Dia menambahkan, pendampingan tidak boleh berhenti ketika anak menyelesaikan pendidikan PAUD dan melanjutkan ke jenjang sekolah dasar (SD). Terapi dan pembinaan perlu terus dilakukan agar kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta kemandirian anak dapat berkembang.
Berdasarkan pengalaman pihaknya, ada anak yang menunjukkan perkembangan positif selama di PAUD karena mendapatkan pendampingan. Namun, ketika memasuki jenjang SD, anak kembali mengalami kesulitan akibat terputusnya proses terapi.
“Harapannya tidak hanya PAUD. Ketika anak itu bertumbuh ke SD, tetap kita dampingi sampai betul-betul bisa bersosialisasi. Terapinya tidak boleh terputus,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sofyan
Editor: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

Damkar Berjibaku Dua Hari Padamkan Batu Bara di Kampung Empat Tarakan

Warga Soroti Sasaran Bedah Rumah di Pantai Amal Tarakan

Api Pembakaran Sampah Merambat ke Rumah

Beasiswa Kaltara Unggul Menyusut, Mahasiswa Pertanyakan Pemerataan

80 Hektare Terbakar di Tarakan, Polisi Dalami Dugaan Kelalaian Warga

Pengerukan Drainase Jadi Langkah Awal di Gajah Mada Tarakan

Tarif THC Tarakan Tak Bergerak Sejak 2017
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

