Mangrove Pulihkan Kualitas Air
Selasa, 03 November 2026

Tambak yang dikelola Kelompok Nelayan Mekar Abadi mulai ditanami mangrove sebagai upaya memperbaiki kualitas lingkungan perairan (Sofyan/KoranKaltara).
Hasil Tambak Mulai Meningkat
TARAKAN – Upaya meningkatkan hasil produksi tambak tidak selalu harus dimulai dengan menambah biaya operasional atau memperluas lahan. Bagi Kelompok Nelayan Mekar Abadi, menjaga keseimbangan ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove justru menjadi salah satu langkah untuk memperbaiki kualitas air dan mendukung produktivitas budidaya.
Perubahan itu mulai dirasakan setelah kelompok tersebut mendapat pendampingan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) sejak 2024. Penanaman mangrove yang awalnya menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan pesisir kini juga diharapkan memberikan manfaat langsung bagi keberlanjutan usaha tambak.
Bendahara Kelompok Nelayan Mekar Abadi, Erdianto, mengatakan perubahan yang paling terlihat setelah penanaman mangrove adalah kondisi kualitas air tambak yang dinilai lebih stabil.
Menurutnya, perbaikan tersebut menjadi penting karena dalam kurun waktu sekitar 10 tahun terakhir, hasil produksi tambak di kawasan mereka cenderung mengalami penurunan.
"Alhamdulillah, paling tidak dari kualitas air sudah kelihatan. Airnya lebih stabil dan pH-nya lebih bagus," terang Erdianto, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, sebelum adanya penanaman mangrove, hasil produksi tambak cenderung berjalan biasa tanpa perubahan berarti. Namun, setelah program tersebut berjalan, mulai terlihat adanya perbaikan pada kondisi lingkungan tambak.
Bagi Erdianto dan anggota kelompok lainnya, menjaga kualitas air menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan keberhasilan budidaya. Sebab, kondisi air yang kurang baik dapat memengaruhi pertumbuhan hingga tingkat kelangsungan hidup udang.
Karena itu, keberadaan mangrove tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penghijauan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha tambak.
Meski demikian, tanaman mangrove tetap membutuhkan perhatian. Erdianto menyebutkan, anggota kelompok secara berkala melakukan pemeliharaan, termasuk membersihkan lumut yang terbawa angin dan berpotensi menutupi tanaman.
Apabila ditemukan tanaman yang mati, pihaknya juga melakukan penyulaman agar jumlah mangrove yang ditanam tetap terjaga.
Di sisi lain, pendampingan M4CR turut memberikan dampak ekonomi bagi kelompok. Tidak hanya melalui edukasi dan arahan teknis, program tersebut juga melibatkan masyarakat dalam sejumlah kegiatan, termasuk pengadaan bibit mangrove.
"Sejak 2024 kami didampingi. Sangat membantu, terutama dari edukasi, bantuan peralatan, bibit, dan arahan-arahan yang kami dapatkan," katanya.
Kelompok Nelayan Mekar Abadi memiliki 13 anggota yang juga merupakan pemilik lahan tambak yang dikelola bersama. Dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat sekitar turut dilibatkan, terutama dalam pekerjaan penanaman dan pengadaan bibit.
Bantuan yang diterima kelompok di antaranya berupa peralatan operasional, fiber, perlengkapan kerja, genset, serta bibit mangrove.
Selain udang, komoditas yang dihasilkan dari kawasan tambak tersebut adalah bandeng dan kepiting. Bahkan, kepiting menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diminati pembeli.
Untuk udang dengan ukuran 20 hingga 25 ekor per kilogram, harga jualnya bisa mencapai Rp250 ribu per kilogram, bergantung pada kondisi dan ukuran hasil panen.
Erdianto menyebutkan, hasil panen udang pada sebagian tambak anggota bisa mencapai sekitar 300 kilogram. Jika dirata-ratakan, nilai penjualannya dapat menembus Rp30 juta lebih dalam sekali panen. Bahkan, ada pula tambak yang mampu menghasilkan hingga 800 kilogram.
Sementara itu, budidaya kepiting menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan bagi anggota kelompok yang mengelolanya.
Bagi Kelompok Nelayan Mekar Abadi, upaya memperbaiki kualitas lingkungan tambak melalui penanaman mangrove menjadi langkah yang perlu terus dijaga. Mereka berharap keseimbangan ekosistem pesisir dapat mendukung keberlanjutan usaha perikanan sekaligus meningkatkan hasil produksi masyarakat.
Sebab, keberhasilan tambak bukan hanya ditentukan oleh luas lahan maupun biaya operasional, melainkan juga kualitas lingkungan yang menopang kehidupan biota di dalamnya. (*)
Reporter: Sofyan
Editor: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

Rehabilitasi Mangrove Kaltara Belum Tuntas

Tiket Pesawat Tahan Inflasi Tarakan, Cabai Rawit Melonjak

Buruh Minta Upah Minimum Kaltara Dekati Angka Kebutuhan Hidup Rp4,97 Juta

Damkar Berjibaku Dua Hari Padamkan Batu Bara di Kampung Empat Tarakan

Warga Soroti Sasaran Bedah Rumah di Pantai Amal Tarakan

Anak Berkebutuhan Khusus di Tarakan Terus Bertambah

Api Pembakaran Sampah Merambat ke Rumah
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

Uji Kompetensi Lima Calon Sekda Nunukan di LAN Makassar

