Antrean BBM Belum Mengular, Tarakan Tetap Waspada
Rabu, 21 Oktober 2026

Teks foto: Aktivitas pengisian BBM di SPBU Gunung Lingkas, Tarakan. (IST)
TARAKAN – Antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah daerah belum terlihat di SPBU Gunung Lingkas, Kota Tarakan. Pengelola menyebut stok masih tersedia dan pelayanan berlangsung normal. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan ketahanan pasokan BBM Tarakan jika distribusi terganggu atau permintaan meningkat.
Pengawasan penyaluran juga menjadi perhatian. Di tengah klaim pasokan yang masih lancar, pembelian berulang oleh kendaraan yang sama belum sepenuhnya dapat dicegah karena belum ada pembatasan jumlah kunjungan di SPBU tersebut.
Pengawas SPBU Gunung Lingkas, Eko Sarwoko, memastikan stok BBM di tempatnya masih tersedia dan pelayanan kepada konsumen berjalan seperti biasa. Ia mengklaim belum ada pembatasan pasokan yang berdampak terhadap operasional SPBU tersebut.
“Sampai saat ini, kondisi di SPBU Gunung Lingkas masih aman. Stok kami selalu tersedia dengan baik. Jadi, kemungkinan untuk antrean panjang mudah-mudahan tidak ada,” terangnya, Rabu (21/10/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan pasokan di salah satu SPBU Tarakan masih terkendali. Meski demikian, ketersediaan stok di satu SPBU belum serta-merta menggambarkan kondisi distribusi BBM secara keseluruhan di Tarakan, terlebih ketika sejumlah daerah lain menghadapi antrean panjang.
Eko menyebutkan, pasokan BBM yang diterima SPBU Gunung Lingkas sejauh ini masih mengikuti kebutuhan penjualan. Bahkan, pihaknya mengaku dapat mengajukan pemesanan dalam jumlah besar tanpa mengalami pembatasan dari pemasok.
“Kalau di sini, alhamdulillah, kami minta berapa liter pun dikasih. Mau hari ini kami pesan 32 ton, tetap dikasih. Untuk saat ini masih normal-normal saja,” katanya.
Pernyataan tersebut menggambarkan kelancaran pasokan ke SPBU Gunung Lingkas. Namun, belum ada penjelasan lebih jauh mengenai total kuota BBM untuk Tarakan, pola distribusi ant ar-SPBU, maupun langkah antisipasi jika permintaan meningkat atau pasokan dari luar daerah terganggu.
Dari sisi penjualan, SPBU Gunung Lingkas menyalurkan sekitar 15.000–18.000 liter Pertalite per hari. Sementara itu, penjualan Pertamax berkisar 2.500–5.000 liter per hari dan Dexlite sekitar 1.500–3.000 liter per hari, bergantung pada kebutuhan konsumen.
Menurut Eko, jumlah tersebut telah disesuaikan dengan kebutuhan harian. Pemesanan dilakukan dengan mempertimbangkan stok yang tersedia agar tangki penyimpanan tetap terisi.
“Kalaupun satu hari bisa terjual sampai 18 ton, posisi masih aman karena masih ada sisa stok,” jelasnya.
Namun, angka penjualan harian belum cukup untuk mengukur ketahanan pasokan dalam jangka panjang. Tanpa data mengenai kapasitas penyimpanan, jadwal kedatangan mobil tangki, cadangan operasional, dan kuota distribusi untuk Tarakan, belum dapat dipastikan berapa lama pelayanan bisa dipertahankan apabila pasokan mengalami gangguan.
Meski disebut normal, antrean di SPBU Gunung Lingkas tetap terjadi pada jam-jam tertentu. Eko mengakui penumpukan kendaraan biasanya muncul saat jam berangkat kerja, menjelang istirahat siang, dan sore hari.
Jam ramai berlangsung sekitar pukul 07.00–08.00 Wita, pukul 11.00–12.00 Wita, serta sekitar pukul 16.00 Wita. Antrean juga terkadang muncul pada malam hari setelah Isya.
Menurut dia, antrean umumnya berlangsung sekitar satu jam dan masih berada di area depan SPBU. Penumpukan juga dapat terjadi ketika mobil tangki sedang membongkar BBM ke tangki penyimpanan.
“Paling satu jam saja. Itu pun kalau ada pengisian BBM dari mobil tangki, antreannya paling sampai pintu masuk. Setelah itu kendaraan sudah bisa masuk ke dalam,” ungkapnya.
Situasi ini belum menunjukkan antrean ekstrem seperti yang dilaporkan di sejumlah daerah lain. Akan tetapi, kelancaran pelayanan tetap bergantung pada pengaturan operasional dan ketersediaan stok. Kondisi normal saat ini tidak dapat dijadikan jaminan bahwa gangguan serupa tidak akan terjadi.
Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah pengawasan pembelian BBM, terutama terkait dugaan pembelian untuk dijual kembali secara eceran.
Eko mengatakan, SPBU menerapkan batas pengisian Pertalite untuk sepeda motor maksimal Rp100.000 per transaksi dengan menggunakan QR Code. Sementara itu, pengisian mobil mengikuti kapasitas tangki kendaraan dan ketentuan yang berlaku.
Namun, ia mengakui belum ada pembatasan jumlah kunjungan bagi kendaraan yang kembali mengisi BBM. Artinya, selama transaksi memenuhi ketentuan yang diterapkan, pembelian berulang belum sepenuhnya dapat dicegah melalui mekanisme di SPBU.
“Kalau mereka kembali lagi, kami tidak bisa melarang sepenuhnya karena belum ada aturan pembatasan seperti itu,” katanya.
Kondisi ini menjadi celah yang patut dicermati. Batas nominal per transaksi belum tentu otomatis mencegah pembelian berulang. Meski demikian, belum ada bukti bahwa praktik tersebut menyebabkan gangguan pasokan di SPBU Gunung Lingkas.
Karena itu, pengawasan tidak cukup hanya memastikan transaksi menggunakan QR Code. Pemantauan pola pembelian berulang dan kepatuhan terhadap ketentuan penyaluran juga penting, dengan tetap mengacu pada kewenangan dan aturan yang berlaku.
Untuk menjaga pelayanan, SPBU Gunung Lingkas mengoperasikan 18 operator dalam dua sif. Sif pagi berlangsung pukul 06.00–14.00 Wita, sedangkan sif berikutnya dimulai pukul 14.00 hingga sekitar pukul 21.30–22.00 Wita.
Operator beristirahat secara bergantian agar pelayanan di dispenser tetap berjalan. Pengaturan tersebut membantu menjaga operasional SPBU, tetapi kelancaran pelayanan pada akhirnya tetap ditentukan oleh ketersediaan BBM dan kelancaran distribusinya.
Kondisi Tarakan yang sejauh ini belum mengalami antrean panjang patut disyukuri. Namun, klaim stok aman dari pengelola SPBU perlu diimbangi transparansi mengenai pasokan, kuota, dan mekanisme pengawasan distribusi dari pihak terkait.
Sebab, persoalan BBM bukan hanya soal apakah kendaraan masih bisa mengisi bahan bakar hari ini. Yang lebih penting adalah memastikan pasokan tersedia secara berkelanjutan, penyaluran tepat sasaran, dan masyarakat tidak tiba-tiba dihadapkan pada antrean panjang ketika distribusi mulai terganggu. (*)
Reporter: Sofyan
Editor: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

900 Rekomendasi per Triwulan

Ombudsman Kaltara Dorong Korban Perundungan Berani Bersuara

Solar Tak Cukup, Kapal Nelayan Tarakan Tak Melaut

Kampung Nelayan Tarakan Terganjal Lahan

BPJS Benarkan Intracawood Menunggak sejak April

Iuran BPJS Diduga Tertunggak, Pemkot Minta Intracawood Bertanggung Jawab

Buruh Intracawood Menagih Kepastian Iuran BPJS
Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Kasus Tambang PT CCM, Kejagung Geledah Empat Lokasi di Kaltara

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

