Tanjung Selor Berusia 236 Tahun, Jejak Sejarah dan Identitas Kota Dikupas
Senin, 26 Oktober 2026

Diskusi publik tentang sejarah Tanjung Selor yang digelar Yayasan Lembah Bambu Borneo di kawasan Lembah Bambu Borneo, Jalan Makam, Desa Gunung Sari. (IST)
TANJUNG SELOR – Menelusuri sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga memahami identitas dan menentukan arah masa depan sebuah kota. Semangat itu mengemuka dalam diskusi publik bertema “Tanjung Selor 236 Tahun: Menelusuri Jejak Sejarah, Merawat Identitas, Menatap Masa Depan” yang digelar Yayasan Lembah Bambu Borneo di kawasan Lembah Bambu Borneo, Jalan Makam, Desa Gunung Sari, Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara).
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Yayasan Lembah Bambu Borneo dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kaltara (Unikaltara). Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, sejarawan, pemerhati budaya, dan tokoh masyarakat.
Mereka di antaranya Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bulungan Dharmawan, Ketua Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara Joko Supriyadi, akademisi sekaligus dosen FISIP Unikaltara Jimmy Nasroen, sejarawan Bulungan Muhammad Zarkasi, serta tokoh muda Tionghoa Hendi Darmawan. Diskusi dipandu Hamidan, tokoh muda Kampung Pasar yang dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman tua di Tanjung Selor.
Akademisi FISIP Unikaltara Jimmy Nasroen menjelaskan, pembahasan sejarah Tanjung Selor merujuk pada seminar yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bulungan pada 1991. Dalam seminar tersebut, usia Tanjung Selor ditetapkan berdasarkan tahun 1790 Masehi, yang berkaitan dengan perpindahan pusat pemerintahan dari Salimbatu ke Tanjung Palas.
Perkembangan permukiman di kawasan Tanjung Selor menjadi bagian penting dalam rekonstruksi sejarah kota. Masyarakat Banjar disebut turut mewarnai kehidupan awal permukiman, termasuk di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Sungai Buaya, Kampung Selor, dan Kampung Pasar.
“Dalam catatan sejarah yang dibahas, Kampung Selor telah memiliki pemimpin lokal bernama Pembakal Gedok atau Abdurahman sekitar 1800 Masehi,” ungkap Jimmy.
Ia menjelaskan, keberadaan masyarakat Banjar tidak hanya berkaitan dengan perkembangan permukiman, tetapi juga kemampuan mengelola lahan basah dan kawasan rawa. Keahlian dalam pengairan serta pengelolaan lahan turut mendukung kegiatan pertanian dan perkebunan di wilayah tersebut.
“Sejarah Tanjung Selor tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat yang lebih dahulu membuka permukiman, mengelola lahan, dan membangun kehidupan sosial di kawasan ini,” ujarnya.
Selain membawa tradisi bercocok tanam, masyarakat Banjar juga memperkenalkan beragam tanaman buah, seperti rambai, manggis, binjai, kuweni, dan ramania. Jejak kehidupan masyarakat pada masa lalu juga dikaitkan dengan keberadaan kawasan permakaman tua, termasuk Makam Kamboja di Bulungan.
Seiring berjalannya waktu, Tanjung Selor berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dari Nusantara maupun pendatang dari luar wilayah. Suku Bugis, Arab, Tionghoa, Jawa, dan kelompok etnis lainnya turut membentuk kehidupan sosial serta memperkaya kebudayaan setempat.
Asal-usul Nama Tanjung Selor
Diskusi tersebut juga mengangkat sejumlah versi mengenai asal-usul nama Tanjung Selor. Salah satu versi mengaitkannya dengan kawasan tanjung yang ditumbuhi pohon kelor, khususnya di sekitar Kampung Selor.
Versi lainnya menghubungkan nama Tanjung Selor dengan istilah “ilur”, yang merujuk pada wilayah yang dialiri dua alur sungai. Beragam penafsiran tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai identitas dan perjalanan sejarah kota.
Di luar penelusuran masa lalu, diskusi turut menyoroti tantangan Tanjung Selor sebagai ibu kota Provinsi Kaltara. Kota ini dinilai memiliki peluang untuk memperkuat karakter daerah melalui pengembangan pendidikan dan kebudayaan, tanpa mengabaikan keberagaman masyarakat yang telah tumbuh sepanjang sejarahnya.
“Ke depannya, Tanjung Selor diharapkan dapat berkembang sebagai kota pendidikan dan kota budaya yang memiliki ciri khas tersendiri, dengan tetap merawat keberagaman masyarakat yang telah menjadi bagian dari sejarahnya,” pungkas Jimmy.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Lembah Bambu Borneo bersama BEM FISIP Unikaltara berupaya mendorong kesadaran sejarah di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Peringatan 236 tahun Tanjung Selor menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur dan pemerintahan, tetapi juga perlu ditopang pemahaman sejarah, pelestarian budaya, dan penguatan identitas masyarakat. (*)
Reporter: Redaksi/Koran Kaltara
Redaktur: Fathu Rizqil Mufid
Berita Terkait

Kopdes Merah Putih Diusulkan Salurkan Gaji ASN, Achmad Djufrie: DPR RI Juga Protes

JPU Disorot soal Ijazah Lausa Laida, Kejati Kaltara Minta Publik Ikuti Fakta Persidangan

JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Ibu Mengaku Anaknya Alami Perundungan di Sekolah, Mediasi Polisi Belum Temui Titik Terang

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Kabel Menjuntai Makan Korban, Warga Bisa Tempuh Jalur Pidana dan Perdata

Akun Medsos Dicatut, PT Ilmiari Training Center Khawatir Kepercayaan Pelanggan Terganggu
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

