Tampung Kelapa Kecil yang Ditolak Tengkulak
Rabu, 04 November 2026

Camat Sebatik Timur, Zainal Abidinsyah, meninjau langsung aktivitas pengolahan kopra milik pelaku UMKM di Sebatik Timur, belum lama ini. (IST)
UMKM Kopra Buka Peluang Baru bagi Petani
NUNUKAN – Kelapa berukuran kecil yang selama ini kerap ditolak tengkulak kini memiliki peluang pasar baru di Kecamatan Sebatik Timur. Kehadiran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pengolahan kopra milik Abdul Amir dan Ramli menjadi alternatif pemasaran bagi petani kelapa di wilayah perbatasan.
Usaha yang baru berjalan sekitar dua bulan tersebut membuka kesempatan bagi petani untuk menjual seluruh hasil panen tanpa terkendala ukuran buah. Kelapa yang sebelumnya sulit dipasarkan kini dapat diolah menjadi kopra sehingga tetap memiliki nilai ekonomi.
Camat Sebatik Timur, Zainal Abidinsyah, melihat langsung aktivitas pengolahan kopra tersebut saat melakukan peninjauan bersama Staf Sosek dan Kesra, Munawir Dzasali, belum lama ini.
Zainal mengatakan, salah satu keunggulan usaha tersebut adalah kesediaan pelaku UMKM menampung kelapa dalam berbagai ukuran. Hal ini menjadi pembeda dari pola pembelian tengkulak yang selama ini cenderung mengutamakan kelapa berukuran besar.
“Yang paling menguntungkan petani adalah dari hasil panen. Tengkulak selama ini umumnya hanya membeli kelapa berukuran besar saja. Sementara usaha milik Pak Abdul Amir dan Pak Ramli ini menampung semua ukuran kelapa, baik besar maupun kecil, untuk dijadikan bahan baku kopra,” ujarnya.
Menurutnya, pola pembelian tersebut memberikan peluang lebih besar bagi petani untuk memasarkan seluruh hasil kebun. Dengan demikian, kelapa yang sebelumnya tidak terserap pasar dapat diolah menjadi produk bernilai tambah.
Tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, produksi kopra Sebatik Timur juga direncanakan menyasar pasar di luar Pulau Kalimantan. Target pengiriman mencapai 15 ton atau setara satu kontainer penuh.
Untuk memenuhi target tersebut, proses pengeringan dilakukan melalui kombinasi pengasapan menggunakan tungku dan penjemuran di bawah sinar matahari. Metode pengasapan diharapkan dapat mempercepat proses produksi sehingga pengiriman bisa dilakukan dalam dua hingga tiga tahap.
Meski memiliki peluang pasar, pengembangan usaha tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan sarana angkutan dan proses pengeringan yang masih mengandalkan metode konvensional.
Zainal menilai, bantuan oven pengering modern diperlukan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga keberlangsungan proses pengolahan ketika cuaca tidak mendukung.
“Jika ke depan ada bantuan alat oven pengering modern, proses produksi tentu akan jauh lebih cepat, efisien, dan tidak bergantung pada kondisi cuaca,” katanya.
Selain peralatan produksi, biaya distribusi juga menjadi perhatian. Pemerintah Kecamatan Sebatik Timur mendorong agar pengiriman kopra dapat memanfaatkan program Tol Laut untuk menekan ongkos angkut antarpulau.
Dukungan transportasi dinilai penting agar produk kopra dari Sebatik mampu bersaing di pasar luar daerah. Dengan biaya distribusi yang lebih efisien, pelaku usaha diharapkan memperoleh keuntungan lebih baik sekaligus meningkatkan harga serapan hasil panen petani.
Zainal juga melihat peluang pengembangan usaha turunan dari kelapa yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Tempurung kelapa dapat diolah menjadi briket arang, sedangkan sabut kelapa berpotensi dikembangkan menjadi cocopeat, tali tambang, keset hingga sapu.
“Semua bagian kelapa memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Tidak ada yang terbuang, semuanya bisa menjadi uang,” tambahnya.
Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kecamatan Sebatik Timur berharap Pemerintah Kabupaten Nunukan memberikan dukungan konkret melalui bantuan oven pengering modern, sarana transportasi angkut, serta fasilitasi permodalan.
Dukungan itu diharapkan mampu memperkuat kapasitas UMKM, memperluas jangkauan pemasaran kopra Sebatik Timur, sekaligus membuka akses pasar yang lebih baik bagi petani kelapa.
Keberadaan usaha pengolahan kopra ini diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Tidak hanya menyerap hasil panen yang sebelumnya sulit dijual, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari komoditas kelapa yang menjadi salah satu potensi perkebunan di wilayah Sebatik Timur. (*)
Reporter: Asrin
Redaktur: Fathu Rizqil Mufid
Berita Terkait

Diduga Jadi Lokasi Transaksi Sabu, Rumah di Desa Libang Dibongkar Warga

Inflasi Nunukan Tembus 2,75 Persen

Kapolres Nunukan Larang Anggota Gunakan Vape di Mako

Kriminalitas Nunukan Turun 18,96 Persen

Pari Manta Rawan Tersangkut Jaring

Putra Sebatik Timur Raih Peringkat I Secaba TNI AD

Dijanjikan Upah Rp200 Ribu, Pekebun Sawit di Sebatik Jadi Kurir Sabu
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

Uji Kompetensi Lima Calon Sekda Nunukan di LAN Makassar

