logo
Wilayah

Inflasi Nunukan Tembus 2,75 Persen

Selasa, 03 November 2026

Inflasi Nunukan Tembus 2,75 Persen

Ilustrasi

Harga Pangan Jadi Penyumbang Terbesar

Ukuran Teks
Normal

NUNUKAN – Tekanan harga barang dan jasa di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) mencapai 2,75 persen pada Oktober 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan tersebut.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Nunukan yang dirilis 2 November 2026, inflasi tahunan Oktober meningkat 0,51 poin persentase dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 2,24 persen.

Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, menjelaskan kenaikan inflasi tersebut tercermin dari perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,08 pada Oktober 2025 menjadi 112,08 pada Oktober 2026.

“Inflasi Kabupaten Nunukan secara tahunan pada Oktober 2026 tercatat sebesar 2,75 persen. Angka ini meningkat dibandingkan September 2026 yang sebesar 2,24 persen,” jelas Iskandar.

Selain secara tahunan, kenaikan harga juga terjadi secara bulanan. Pada Oktober 2026, Nunukan mengalami inflasi sebesar 0,51 persen dibandingkan September. Sementara inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 2,51 persen.

Dari 11 kelompok pengeluaran yang dipantau, seluruhnya mengalami kenaikan indeks secara tahunan. Namun, besaran kenaikan berbeda pada masing-masing kelompok.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,28 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,94 persen serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 4,14 persen.

Meski demikian, penyumbang terbesar terhadap inflasi umum justru berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil mencapai 1,24 poin persentase. Kontribusi tersebut setara sekitar 45,1 persen dari total inflasi tahunan Nunukan sebesar 2,75 persen.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni sebesar 1,24 poin persentase. Ini menunjukkan kelompok tersebut memiliki kontribusi paling besar terhadap inflasi umum di Kabupaten Nunukan,” ujarnya.

Sejumlah komoditas yang turut memberikan andil terhadap inflasi tahunan di antaranya cabai rawit, emas perhiasan, serta nasi dengan lauk. Sementara dalam perbandingan bulanan, cabai rawit dan tomat juga termasuk komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi.

Besarnya kontribusi kelompok makanan tersebut membuat perkembangan harga kebutuhan pangan perlu mendapat perhatian serius. Terlebih, perubahan harga komoditas pangan berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga masyarakat.

BPS juga mengingatkan bahwa inflasi sebesar 2,75 persen tidak berarti seluruh barang dan jasa mengalami kenaikan harga dengan persentase yang sama. Perubahan harga setiap komoditas berbeda-beda, bahkan terdapat barang dan jasa yang mengalami penurunan harga.

Hasil pemantauan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terutama dalam mencermati perkembangan harga pangan, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi barang.

“Data inflasi juga perlu dibaca bersama perkembangan harga di tingkat pedagang dan kondisi pasokan di lapangan untuk mengetahui komoditas yang paling memengaruhi perubahan harga,” pungkasnya. (*)

Reporter: Asrin

Redaktur: Fathu Rizqil Mufid

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com