logo
Wilayah

Gelombang Ancaman dari Sulawesi Utara

Rabu, 07 Oktober 2026

Gelombang Ancaman dari Sulawesi Utara

Muhammad Sulam Khilmi

Gempa Besar Berpotensi Memicu Tsunami Hingga Perairan Kalimantan Utara

Ukuran Teks
Normal

TARAKAN – Ancaman gempa besar di zona megathrust Sulawesi Utara tak hanya menjadi perhatian wilayah sekitar sumber gempa. Dampaknya berpotensi menjalar hingga perairan Kalimantan, termasuk Kalimantan Utara, sehingga kesiapsiagaan masyarakat Tarakan perlu terus diperkuat.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, mengatakan wilayah Sulawesi Utara merupakan salah satu kawasan yang memiliki potensi gempa besar. Kondisi tersebut menjadi perhatian para ahli karena terdapat segmen yang disebut telah lama belum melepaskan energi gempa.

“Selain di Nias dan Selat Sunda, memang ada daerah yang merupakan daerah megathrust, salah satunya Sulawesi Utara. Dua titik ini sudah ratusan tahun, hampir 200 tahun, belum melepaskan energi. Itu yang dikhawatirkan oleh para ahli,” terangnya, Rabu (7/10).

 Sulam menegaskan, potensi gempa tidak dapat disamakan dengan prakiraan cuaca yang waktunya dapat diperkirakan secara lebih presisi. Para ahli hanya dapat menghitung potensi dan karakteristik ancaman berdasarkan kondisi tektonik, bukan menentukan kapan gempa akan terjadi. 

Ia mencontohkan gempa besar yang terjadi di Palu pada 2018. Potensi gempa di wilayah tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian para ahli sejak beberapa tahun sebelum kejadian.

“Gempa itu tidak seperti hujan yang bisa diperkirakan secara presisi kapan terjadinya. Gempa bisa dihitung potensinya, tetapi kapan persisnya tidak bisa diprediksi,” jelasnya.

Menurut Sulam, apabila gempa besar terjadi di wilayah Sulawesi Utara, salah satu dampak yang perlu diperhitungkan adalah potensi tsunami yang dapat menjalar ke perairan Kalimantan, termasuk Kalimantan Utara.

“Kalau memang di sini terjadi megathrust, salah satu dampaknya kemungkinan bisa tsunami ke perairan Kalimantan,” katanya. 

Ia mengingatkan, tsunami tidak selalu berupa gelombang dengan ketinggian besar. Gelombang akibat aktivitas gempa dengan ketinggian di bawah 50 sentimeter tetap dapat dikategorikan sebagai tsunami apabila dipicu oleh gempa. 

Hal tersebut, kata dia, pernah terjadi ketika gempa di wilayah Filipina memicu tsunami yang turut terdeteksi di sejumlah wilayah perairan Kalimantan Utara. “Walaupun 30 sentimeter, kalau diakibatkan oleh pergerakan gempa, itu juga disebut tsunami. Jadi tidak harus yang tinggi,” ujarnya. 

Namun, Sulam menegaskan besarnya dampak terhadap Tarakan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan angka magnitudo. Perhitungan membutuhkan sejumlah parameter, seperti kekuatan gempa, kedalaman, lokasi sumber gempa, hingga posisi sumber terhadap laut atau daratan.

“Kalau megathrust, nanti harus disimulasikan lagi. Berapa kekuatannya, kedalamannya berapa, kemudian letaknya di mana. Itu akan memengaruhi efek dominonya dan berapa lama gelombang tsunami sampai ke Kalimantan Utara,” jelasnya. 

Di sisi lain, Sulam menjelaskan potensi gempa pada Sesar Tarakan berbeda dengan ancaman megathrust. Berdasarkan catatan sejarah, Sesar Tarakan pernah menghasilkan gempa dengan magnitudo sekitar 7,0 pada 1923. 

“Megathrust itu tinggi, di atas 7, bisa 8 sampai 9. Kalau Sesar Tarakan, menurut sejarah pernah melepas gempa magnitudo 7,0. Itu catatan sejarah,” katanya.

Gempa 1923 tersebut berpusat di laut dan berdasarkan catatan yang ada tidak menimbulkan tsunami. Sulam menambahkan, sesar tidak selalu bekerja seperti satu garis lurus. Dalam sistem tektonik terdapat percabangan atau struktur lain yang dapat memengaruhi munculnya aktivitas gempa di suatu wilayah.

Karena itu, potensi gempa di Tarakan tetap perlu menjadi perhatian, meskipun karakter ancamannya berbeda dengan megathrust.

Sulam menegaskan BMKG tidak memprediksi kapan gempa megathrust akan terjadi. Menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat dan pemerintah memiliki kesiapsiagaan menghadapi gempa maupun potensi tsunami.

“Kita tidak memprediksi kapan terjadinya. Yang lebih penting daripada memprediksi adalah mempersiapkan mitigasi, langkah-langkah apa yang harus kita lakukan ketika terjadi,” tegasnya.

BMKG bersama BPBD dan sejumlah pihak juga telah melakukan edukasi kebencanaan, termasuk simulasi gempa bumi di sekolah melalui program edukasi kebencanaan.

Menurut Sulam, kesadaran masyarakat untuk melakukan evakuasi mandiri ketika menerima informasi potensi tsunami menjadi salah satu modal penting dalam menghadapi ancaman bencana.

Ia menilai respons masyarakat Tarakan saat menerima informasi potensi tsunami akibat gempa di Filipina beberapa waktu lalu menunjukkan adanya peningkatan kesadaran untuk segera menjauh dari wilayah berisiko.

“Ketika ada informasi potensi tsunami, mereka sudah berbondong-bondong menuju tempat yang aman. Saya kira itu poin positif, mereka sudah punya kesadaran dan kepedulian mandiri untuk menyelamatkan diri,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sofyan

Redaktur: Nurul Mujib Lamunsari

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com