Ampas Kopi Disulap Jadi Pakan Maggot
Selasa, 03 November 2026

Nabila dan Anggun Neshia Prameswarie, dua pelajar Generasi Z yang mengembangkan inovasi pengolahan ampas kopi menjadi pakan maggot. (IST)
Dua Pelajar KaltaraCiptakan Inovasi Bernilai Ekonomi
TANJUNG SELOR – Limbah ampas kopi yang selama ini kerap dibuang begitu saja ternyata memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan tepat. Hal inilah yang dibuktikan Nabila dan Anggun Neshia Prameswarie, dua pelajar asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang berhasil mengembangkan inovasi pengolahan ampas kopi menjadi bahan pakan maggot.
Gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan keduanya terhadap meningkatnya limbah ampas kopi dari sejumlah kedai kopi di Tanjung Selor dan wilayah Kaltara. Di tengah tren minum kopi yang semakin digemari anak muda, mereka justru melihat peluang untuk mengolah limbah tersebut menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Melalui inovasi ini, ampas kopi dicampurkan dengan sampah organik, seperti sisa sayuran dan buah-buahan. Campuran tersebut kemudian difermentasi selama empat hari sebelum dimanfaatkan sebagai media atau bahan pakan dalam budidaya maggot.
“Ya, saat ini banyak kedai kopi dan ampasnya juga banyak. Kami mencoba mengolah ampas kopi tersebut bersama sampah organik,” ungkap keduanya kepada Koran Kaltara.
Menurut mereka, inovasi tersebut tidak sekadar bertujuan mengurangi volume sampah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna dan ekonomi.
“Jadi, ini semua berawal dari banyaknya kedai kopi. Kami juga melihat potensi untuk mengurangi sampah. Selain itu, kami terinspirasi dari ketertarikan terhadap pengolahan kopi,” jelasnya.
Inovasi tersebut mengusung konsep ekonomi sirkular, yakni mengolah limbah menjadi produk baru yang dapat dimanfaatkan kembali. Dalam pengembangannya, maggotyang dihasilkan berpotensi menjadi alternatif sumber pakan bagi ikan maupun unggas.
Keduanya melihat peluang tersebut cukup besar, mengingat pakan merupakan salah satu komponen biaya utama dalam usaha budidaya ikan dan unggas.
“Pakan maggot segar bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan. Dalam budidaya ikan dan unggas, sekitar 60–70 persen biaya bisa habis untuk membeli pakan pelet. Karena itu, kami berinovasi menjadikan maggot sebagai alternatif pakan,” ungkap keduanya.
Tidak hanya menghasilkan maggot, sisa pengolahan ampas kopi dan sampah organik juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Dengan demikian, proses pengolahan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas dalam mengurangi limbah.
Menariknya, inovasi ini tidak membutuhkan bahan maupun peralatan yang rumit. Keduanya memanfaatkan perlengkapan sederhana, seperti kotak, jaring, dan potongan kayu bekas yang dirangkai sesuai kebutuhan.
Praktik pengolahan juga telah dilakukan dengan memanfaatkan ampas kopi dari sejumlah kedai serta sisa buah-buahan sebagai bahan baku. Respons para barista pun cukup positif karena limbah dari kedai mereka dapat dimanfaatkan kembali.
“Kalau kendala sejauh ini tidak ada. Kami mendapat banyak pengalaman, terutama ketika bertemu dengan barista untuk membahas pemanfaatan ampas kopi. Mereka juga senang ketika kami mengambil ampas kopi dari kedainya,” tuturnya.
Kreativitas kedua pelajar tersebut kemudian dikembangkan dalam Lomba Inovasi Daerah 2026. Persiapan materi hingga pengembangan gagasan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Meski telah melakukan praktik langsung, Nabila dan Anggun masih berencana melanjutkan penelitian untuk mengetahui lebih jauh manfaat campuran ampas kopi dan sampah organik, terutama terhadap kualitas maggot yang dihasilkan.
Namun, pengembangan penelitian masih terkendala keterbatasan fasilitas laboratorium di sekolah. Kondisi tersebut membuat pengujian lebih mendalam terhadap hasil inovasi belum dapat dilakukan secara optimal.
Guru pendamping, Hendrias, mengatakan sekolah belum memiliki fasilitas laboratorium kimia dan biologi yang memadai untuk menunjang penelitian para pelajar.
“Fasilitas laboratorium untuk kimia dan biologi masih belum ada di sekolah. Kami berharap hal ini juga menjadi perhatian pemerintah,” harap Hendrias.
Menurutnya, laboratorium dibutuhkan untuk menguji kandungan dan kualitas hasil inovasi tersebut. Pengujian diperlukan guna mengetahui apakah maggot yang dibudidayakan menggunakan campuran ampas kopi dan sampah organik memiliki kualitas yang baik serta layak dikembangkan sebagai alternatif pakan.
“Kami sangat membutuhkan laboratorium untuk menindaklanjuti penelitian ampas kopi menjadi pakan maggot. Namun, tentu harus dilihat apakah hasilnya lebih bagus dibandingkan pakan yang dijual. Ini membutuhkan penelitian lanjutan, apalagi beberapa waktu lalu kami mengikuti lomba inovasi dan hal tersebut menjadi salah satu catatan untuk pengembangan inovasi kedua pelajar kami,” tambahnya.
Apabila penelitian dapat dilanjutkan, pihak sekolah berencana menjalin kerja sama dengan Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk melakukan pengujian dan penelitian secara lebih mendalam.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Baperinda Kaltara, Mochmad, mengatakan pihaknya terus mendorong pembinaan terhadap generasi muda agar mampu melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, ide dan kreativitas anak muda di Kaltara perlu mendapatkan dukungan serta pendampingan agar tidak berhenti sebatas gagasan, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki manfaat nyata.
“Ide dari anak muda di Kaltara ini pasti kami dukung dan bina. Ke depan, tentu akan kami adopsi sesuai dengan bidang yang mengampu,” jelasnya.
Terkait inovasi pengolahan ampas kopi menjadi pakan maggottersebut, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut potensi serta kebutuhan pengembangannya.
“Contoh ampas kopi ini akan kami pelajari, termasuk apa saja yang perlu ditambahkan. Kami akan menindaklanjuti hal tersebut ke depannya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Redaksi/Koran Kaltara
Redaktur: Fathu Rizqil Mufid
Berita Terkait

Bangunan Terbengkalai di Pasar Induk Bakal Dibongkar

Mahasiswa Soroti Pemerataan Beasiswa Kaltara Unggul

Pasar Modern Panca Agung Senilai Rp29 Miliar Belum Beroperasi

Bebas Denda Pajak Diperpanjang hingga Akhir Tahun

Bupati Bulungan Imbau Warga Waspada

Surat Galang Dana Karhutla Catut Nama Lurah dan Tokoh Adat

Orang Tua dan Pihak Sekolah Dipanggil Polisi
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

Uji Kompetensi Lima Calon Sekda Nunukan di LAN Makassar

