Pekerjaan Rumah Pendidikan di Malinau
Selasa, 06 Januari 2026

Ilustrasi
BPS Catat 5,86 Persen Warga Masih Buta Huruf
MALINAU, Koran Kaltara — Pembangunan sumber daya manusia masih menjadi perhatian penting di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah persoalan buta huruf, yang hingga kini masih ditemukan pada sebagian penduduk usia dewasa.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, menegaskan bahwa pendidikan merupakan pintu utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermoral, terampil, dan berdaya saing sebagai pelaksana pembangunan daerah.
“Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, semakin baik kualitas sumber daya manusianya. Pendidikan berperan besar dalam mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yanuar, dalam publikasi resminya, baru-baru ini.
Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur capaian pembangunan pendidikan adalah Angka Melek Huruf (AMH), yakni persentase penduduk yang mampu membaca dan menulis, baik huruf latin, Arab, maupun huruf lainnya. Indikator ini juga mencerminkan kemampuan masyarakat dalam menyerap informasi dari berbagai media.
Berdasarkan data BPS Malinau tahun 2024, masih terdapat 5,86 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang belum mampu membaca dan menulis. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan buta huruf masih menjadi pekerjaan rumah, terutama jika ditinjau dari aspek gender.
“Angka melek huruf di Malinau masih dipengaruhi isu gender. Penduduk perempuan tercatat memiliki tingkat buta huruf lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki,” kata Yanuar.
Ia merinci, persentase penduduk laki-laki usia 15 tahun ke atas yang masih buta huruf tercatat sebesar 4,19 persen. Sementara itu, pada penduduk perempuan angkanya mencapai 7,79 persen. Angka buta huruf sendiri berbanding terbalik dengan angka melek huruf, di mana peningkatan AMH akan diikuti dengan penurunan jumlah penduduk buta huruf.
Selain kemampuan baca tulis, capaian pembangunan pendidikan juga tercermin dari jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan penduduk, berdasarkan ijazah atau Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) yang dimiliki. Indikator ini menjadi gambaran kualitas angkatan kerja di daerah.
Yanuar menyebutkan, tren pendidikan di Kabupaten Malinau menunjukkan perbaikan. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah penduduk yang menamatkan pendidikan pada jenjang menengah atas hingga perguruan tinggi.
“Sebagian besar penduduk Malinau usia 15 tahun ke atas merupakan lulusan SMA atau sederajat, yakni sebesar 27,24 persen. Sementara itu, sekitar 17,33 persen penduduk telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Diploma dan Sarjana,” jelasnya.
Meski demikian, persentase penduduk yang belum memiliki ijazah masih tergolong cukup besar, yakni 12,12 persen. Menurut Yanuar, data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
“Pendidikan adalah indikator pokok kualitas sumber daya manusia. Dengan peningkatan akses dan mutu pendidikan, diharapkan pembangunan di Malinau dapat berjalan lebih merata dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Redaksi/Koran Kaltara
Redaktur: Nurul Mujib Lamunsari
Berita Terkait

Mahasiswa Malinau di Makassar Tagih Asrama Daerah

Taufik Kembali Pimpin BPC Gapensi Malinau Periode 2026–2031

Agus Salim Apresiasi MTQ X Kaltara di Malinau, Dukung Pembinaan Al-Qur'an Berkelanjutan

Lembaga Adat Dayak Lundayeh Malinau Tegaskan Polri Harus Tetap di Bawah Presiden

Cabai Kembali Mengalami Penurunan

Peringati HUT ke-80 Intelkam Polri, Polres Malinau Gelar Syukuran dan Salurkan Bansos

Polres Malinau dan Banser Bersinergi Amankan Ibadah Natal
JPU Dinilai Keliru Tafsirkan Aturan Pendidikan Kesetaraan dalam Perkara Dugaan Ijazah Palsu

Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Tiga Anggota Polresta Bulungan Dipecat Tidak Hormat

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

Uji Kompetensi Lima Calon Sekda Nunukan di LAN Makassar

