logo
Wilayah

Tantangan Pranata Humas di Era Revolusi Industri 4.0

Rabu, 15 Maret 2023

Tantangan Pranata Humas di Era Revolusi Industri 4.0

Oleh: Asa Zumara

Ukuran Teks
Normal

MENJADI seorang ASN humas di masa kini, khususnya humas pemerintah (pranata humas), dituntut harus serba bisa.

Mulai dari membuat berita, menyiapkan siaran pers dan konferensi pers, mengambil gambar baik foto dan video, mengedit foto dan video, mempostingnya di media sosial dan website, mendesain poster/flyer, menyiapkan pidato pimpinan, menyiapkan booth pameran, menjaga hubungan baik dengan rekan media, mengelola dan membuat konten, memantau feed dan jumlah followers media sosial institusinya.

Selama hampir delapan tahun menjadi ASN, saya menemukan kesulitan ketika membutuhkan SDM Humas yang mempunyai keahlian dalam hal desain dan digitalisasi data-data pekerjaan kehumasan.

Saya sendiri merasa cukup “gaptek” dalam bidang desain dan hal yang terkait digital ini. 

Sementara ASN dengan skill seperti ini jarang. Biasanya mereka didominasi oleh ASN atau non ASN bidang IT.

Padahal di era revolusi 4.0, teknologi informasi menjadi andalan yang memudahkan pekerjaan manusia tak terkecuali para ASN. Maka menjadi keniscayaan ASN yang memiliki skill khusus ini dibutuhkan di setiap bidang.

Apalagi di masa depan dimana aspek akal fikiran manusia akan diberdayakan secara maksimal sehingga akan menggantikan peran manusia. Wujudnya lewat perangkat pintar seperti perangkat komunikasi, perangkat robotik, dan kecerdasan tiruan (artificial intelligence).

Teknologi pada lintasan revolusi ini, bukan sekedar perangkat pendamping manusia, namun keberadaannya juga sebagai pengganti kehadiran manusia. Seluruh aspek fisik maupun akal fikiran sepenuhnya diambil alih perangkat.

Tak heran, sebagaimana dilansir detik.com (09/10), Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana juga menyinggung nasib pegawai negeri sipil (ASN) di masa depan.

Ia berpendapat, jika seluruh pekerjaan sudah dialihkan ke digital, kemungkinan ASN sudah tak diperlukan lagi di 10 tahun mendatang. Waduh, bagaimana nasib saya 10 tahun mendatang?

Seperti yang sudah kita ketahui, Revolusi Industri 1.0 membuat kehidupan manusia semakin termekanisasi dengan mesin uap. Revolusi 2.0 memperluas kemampuan fisik manusia dengan bantuan mesin perakitan dan manufaktur.

Selain itu, Revolusi 3.0 memberdayakan manusia dengan komputer dan pemrograman, menciptakan sistem kerja yang berfokus pada peningkatan kekuatan fisik manusia, bahkan menyentuh beberapa aspek jiwa. 

Kini, revolusi industri 4.0 pun telah terjadi di seluruh dunia yang memudahkan manusia memenuhi kebutuhannya tanpa batas. Ditandai dengan otomasi, big data, machine learning, IoT (Internet of Things), dan artificial intelligence.

Struktur morfologis masyarakat ikut berubah. Perangkat digital yang bersifat massif memfasilitasi  pembentukan masyarakat berciri baru, jejaring (networking). Masyarakat jejaring, (sebuah istilah yang dipinjam dari Castells, 2006).

Apalagi ada negara yang memilih opsi 3.0, maka otomatis akan tertinggal. Bagaimana mungkin berhubungan dengan masyarakat dunia yang sudah mengadopsi 4.0, sementara kita masih 3.0? Lama-lama tertinggal dan punah (dalam Kurniawan, 2020).

Kurniawan (2020) menemukan dalam bukunya “Dilema Digital” bahwa kemampuan perangkat yang berbeda untuk sepenuhnya menggantikan manusia adalah akar masalahnya.

Di Indonesia, tenaga kerja yang tidak sepenuhnya beradaptasi dengan pekerjaan yang ada sudah terancam oleh kehadiran perangkat digital.

Kompleksitas meningkat ketika semua pengaturan kerja normal dan hubungan interpersonal harus mengantisipasi keberadaan perangkat baru tersebut. Maka untuk menyikapinya, hanya ada dua pilihan: menyerah pada revolusi dan terus berjuang dengan sistem Industri 3.0, atau sepenuhnya mengadopsi revolusi 4.0.

Harus juga dipahami bahwa adopsi adalah sebuah perjalanan, artinya tidak ada jalan kembali. Jika Anda menerapkan Industry Tools 4.0, ekosistem komunitas pasti akan berubah. 

Optimisme Era 4.0 bagi ASN

Optimisme di era 4.0 bagi ASN sepertinya harus terus ditumbuhkan meski Kepala BKN cukup pesimis dengan peran ASN di masa 10 tahun mendatang. Optimisme yang dimaksud diungkap Schwab (2016), yaitu:

Pertama, integrate the unmeet needs. Era 4.0 akan mempertemukan masyarakat tanpa harus bertemu. Secara global, individu maupun komunitas bertemu tanpa batas. Hal ini akan memperluas jaringan ASN dalam berinteraksi tanpa batas dan menjadi apa yang disebut Castells sebagai “masyarakat jejaring”.

Tanpa harus melakukan kunjungan kerja atau studi banding ke luar negeri yang pasti menghabiskan anggaran negara cukup besar, ASN dapat melakukan kontak dengan mitra luar negeri sekalipun. Penandatanganan kerja sama dapat dilakukan secara desk to desk dan virtual.

Kedua, increase ability to address negative externalities. Industri 4.0 menunjang pertumbuhan ekonomi dengan menekan emisi karbon dan perubahan iklim.

Hal ini disebabkan berkurangnya transportasi antar tempat bahkan negara sehingga mengurangi polusi udara dari gas buang selama perputaran roda kendaraan.

Dalam konteks ASN, hal ini berimbas dengan pengurangan perjalanan dinas antar kota dan provinsi yang dapat dialihkan ke prioritas lain seperti peningkatan kompetensi ASN dengan pelatihan dan bimtek-bimtek virtual yang sesuai dengan era revolusi industri 4.0.

Ketiga, effeciencies digital capabilities deliver, inovasi digital menurunkan biaya. Namun, karena anggaran instansi pemerintah difokuskan untuk memerangi pandemi COVID-19, banyak organisasi telah meningkatkan kegiatan organisasi mereka dalam hal waktu, uang, dan juga sumber daya manusia, yang telah digantikan oleh teknik komunikasi modern seperti mudah mengadakan pertemuan online.

Organisasi dapat terus berfungsi, tetap komunikatif, adaptif dan kooperatif dalam kaitannya dengan interaksi dan kebutuhan informasi para anggotanya. Keadaan ini tampaknya menjadi kenormalan baru ke depannya.

Dalam suatu kesempatan, Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid, telah mengingatkan kepada jajaran pimpinan OPD agar melek teknologi. Apabila tidak bisa menguasai teknologi, maka harus siap digantikan oleh ASN yang lebih cakap digital.

Sebagai pranata humas, tentu saja saya tidak mau berpangku tangan terhadap perubahan dibidang teknologi informasi ini. Harus terus belajar dan membuka diri terhadap perubahan disekitar.

Mengikuti perkembangan teknologi merupakan kunci menuju kemajuan dan perubahan. Jangan menjadi katak dalam tempurung. Walaupun saya berada di daerah perbatasan, saya yakin kemampuan saya tidak terbatas asalkan mau mengikuti perkembangan zaman. Berubah atau Punah! (*)

*) Penulis adalah ASN di Dinas Kominfotik Kabupaten Nunukan

 

**) Seluruh isi dalam artikel di atas sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

 

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com