logo
Wilayah

Bahasa yang Membius: Ketika Eufemisme Menutupi Realitas Sosial

Rabu, 26 November 2025

Bahasa yang Membius: Ketika Eufemisme Menutupi Realitas Sosial

Saskia Mawardah

Ukuran Teks
Normal

Oleh : Saskia Mawardah 

“Efek samping ringan” “Penyesuaian dosis” “Obat resep dokter” sekilas memang terdengan menyenangkan, bukan? Namun dibalik kata-kata halus itu, tersembunyi kenyataan yang tidak selalu seindah bunyinya. 

Di praktiknya, tenaga farmasi sering berhadapan pada dilema antara  kejujuran ilmiah dan kepekaan sosial. Misalnya, istilah “efek samping ringan” sering digunakan untuk menutupi kenyataan bahwa obat tertentu dapat menimbulkan risiko serius bagi sebagian pasien. 

Begitu juga dengan “penyesuaian dosis” yang terdengar halus, padahal bisa berarti efek obat terlalu kuat atau bahkan toksik bagi pasien tertentu. Dalam kasus lain, kata “obat keras” sering diganti dengan “obat resep dokter” agar terdengar lebih aman, padahal penggunaan tanpa pengawasan tetap berbahaya.

Di masyarakat, eufemisme juga muncul dalam cara orang menutupi praktik keliru. Contohnya, penjualan obat antibiotik tanpa resep sering disebut “layanan cepat” atau “konsultasi langsung” oleh beberapa apotek.

Padahal, praktik ini melanggar aturan farmasi dan berkontribusi pada meningkatnya resistensi antibiotik (Putri et al., 2023). Eufemisme semacam ini bukan sekadar permainan kata namun juga berdampak pada kesehatan masyarakat luas.

Selain itu, istilah “obat tradisional alami” sering dipakai untuk memeperhalus pandangan terhadap produk yang belum memiliki bukti ilmiah kuat. Di berbagai daerah, masyarakat lebih percaya pada klaim “alami” daripada “teruji secara klinis”. 

Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi tenaga farmasi di lapangan, yang harus menyeimbangkan antara menghormati budaya lokal dan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya keamanan serta bukti ilmiah.

Bahasa yang membius seperti ini menimbulkan tantangan besar bagi literasi kesehatan masyarakat. Eufemisme yang digunakan untuk menjaga kenyamanan justru akan menghilangkan makna sebenarnya. Dalam dunia farmasi, kejelasan bahasa berarti kejelasan informasi dan itu menyangkut nyawa.

Karena itu, sudah saatnya tenaga farmasi dan mahasiswa farmasi perlu memiliki keberanian untuk bersikap jujur dan terbuka dalam menyampaikan informasi obat. Kesopanan dan keramahan tidak seharusnya diartikan sebagai upaya menutupi kebenaran.

Edukasi publik yang baik, tidak bertujuan untuk memberikan rasa aman atau nyaman yang palsu kepada masyarakat, tetapi yang membuat mereka paham, waspada, dan bijak dalam menggunakan obat. Bahasa seharusnya menjadi alat penerangan, bukan penenang yang mematikan kesadaran. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Sarjana (S1) Farmasi Universitas Mulawarman

Referensi :

Putri, C. I., Wardhana, M. F., Andrifianie, F., & Iqbal, M. (2023). Literature Review : Kejadian Resistensi Pada Penggunaan Antibiotik Literature Review : Incidence of Antibiotics Resistance. Journal Medula, 13, 219–225.

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com