logo
Wilayah

Meratus Geopark: Kahung Surga Ekowisata di Jantung Borneo

Kamis, 22 Agustus 2024

Meratus Geopark: Kahung Surga Ekowisata di Jantung Borneo

Desa Belangian, salah satu objek wisata Geopark Meratus di Kalimantan Selatan. (Norjannah/Koran Kaltara)

Oleh : Norjannah, Jurnalis Koran Kaltara

Ukuran Teks
Normal

BELANGIAN - Terletak di jantung Pulau Kalimantan, Meratus Geopark kini diakui sebagai salah satu destinasi ekowisata unggulan Indonesia. Dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau dan kekayaan budaya yang terjaga, Meratus Geopark, resmi menyandang status Geopark Nasional. Kawasan ini menjadi magnet bagi wisatawan yang mencari petualangan sekaligus pelajaran tentang kelestarian alam.

Berada pada lanskap pegunungan yang membentang, sungai-sungai jernih, serta hutan tropis yang lebat, Meratus Geopark menawarkan pengalaman alam yang tak terlupakan. Para pecinta alam dapat menikmati beragam aktivitas ekowisata, mulai dari mendaki pegunungan, menikmati pemandangan air terjun tersembunyi di dalam hutan, hingga tradisi keseharian masyarakat setempat.

Wisata Kahung Desa Belangian, salah satu surga wisata yang termasuk dalam Geopark Meratus. Desa ini tak hanya menawarkan pesona alam memukau, tetapi juga memperkenalkan pengunjung pada keunikan budaya dan kearifan lokal masyarakat.

Para peserta Karya Jurnalistik, pada ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) tahun 2024, di Kalimantan Selatan, turut mengeksplorasi keindahan wisata di Desa Belangian tersebut. Pokdarwis Desa Belangian, Hariyadi, mengatakan, kelembagaan pengelola wisata dibentuk sejak November 2013, meskipun pada dasarnya wisata di desa ini sudah dikenal sejak 1973, khusunya untuk wisata air terjun Kahung Besar.

“Wisata ini sudah di-eksplore tak hanya  wisatwan lokal, tetapi juga  wisatawan mancanegara. Di sini Ada empat air terjun, tertinggi mencapai 25 meter. Tapi untuk menuju ke sana perlu waktu 4 jam dari desa,” ujarnya, Rabu (21/8).

Desa ini juga memiliki wisata arung jeram, pemandangan pohon besar yang disebut Benuang Laki, dan jika beruntung saat menuju ke puncak Gunung Kahung yang memiliki ketinggian 1.456 MDPL, pengunjung bisa melihat flora dan fauna endemik, seperti Burung Haruai, Beruang, dan lain -lain. “Rata-rata gunung di sini ketinggiannya 1000 MDPL,” katanya.

Sebelum tiba di Desa Belangian, pengunjung harus menempuh sekitar 1 - 2 jam perjalanan darat dari Banjarmasin, menuju Dermaga Bukit Batu, selanjutnya menggunakan kelotok selama 1 jam.

“Kami berkomitmen untuk terus menjaga hutan dan kekayaan alam di sini, dengan terus meningkatkan pelayanan. Di sini, kami memberikan fasilitas gratis bagi pengunjung yang merupakan Mapala. Tetapi untuk pengunjung umum Rp100 ribu per malam untuk fasilitas menginap (Homestay),” beberanya.

Meratus Geopark juga dikenal karena kekayaan geologinya. Pegunungan yang membentang di kawasan itu telah terbentuk lebih dari 200 juta tahun yang lalu, memberikan gambaran tentang evolusi bumi dari masa ke masa. Bebatuan purba, tebing-tebing terjal, dan formasi geologi lainnya menjadi daya tarik bagi para ahli geologi dan wisatawan yang ingin mempelajari sejarah bumi.

Di samping itu, Meratus juga menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Hutan hujan tropis yang mengelilingi geopark ini adalah habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna endemik.

Seksi Perlindungan Hutan UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Kalimantan Selatan, Bambang Susilo, menegaskan, upaya perlindungan kawasan hutan terus dilakukan, termasuk di antaranya melakukan Rehab DAS, berupa penanam pohon endemik oleh masyarakat, yang saat ini sudah ada di luasan 1500 hektare.

“Begitu juga penanaman pohon buah, saat ini sudah ada di luasan 300 ha,” bebernya.

Terbukanya kawasan ini sebagai kawasan wisata, tentu saja mengundang minat para wisatawan dari luar. Satu sisi, memiliki keuntungan tersendiri terhadap ekonomi desa dan masyarakat setempat. Akan tetapi juga menjadi tantangan pihak desa dan pengelola wisata untuk memastikan alam tetap terjaga, dan lestari.

Terkait hal itu, Kepala Desa Belangian, Aunul Khoir, mengatakan pihaknya turut melakukan mitigasi. “Masyarakat dan pengunjung selalu kami edukasi, agar hutan dan alam tetap terjaga. Kemudian untuk itu, kami juga melakukan penanaman berkala, sejauh ini sudah ada sekitar 3000 hektare lahan ditanami,” bebernya.

Gangan Waluh, dan Magnet Sasirangan Alami

Berwisata di Kahung, Desa Belangian Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, tak lengkap tanpa sajian pangan lokal, hingga produksi tangan alami yang ekonomis. Gotong royong merupakan ciri khas masyarakat di Desa Belangian, terlebih ketika ada keramaian di desanya, Gangan Waluh (Sayur Labu), salah satu suguhan makanan lokal di desa ini.

Gangan Waluh, terbuat dari campuran labu, santan, umbut kelapa, dipadukan dengan iwak basanga (Kian Goreng), dan sambal acan (sambal terasi), menjadi pelengkap wisata kuliner dan kearifan lokal di sini.

“Kami senang amunnya banyak nang memakani, amun bisa tambahi taros, (kami senang kalau banyak yang mengonsumsi makanan olahan kami. Jika perlu makannya nambah,” ujar ibu-ibu setempat yang bersamaan memasak di halaman salah satu kerabat setempat,

Aroma gurih memanjakan lidah penikmatnya. Tak jarang ada yang menambah nasi dan lauknya. “Asal tidak kolesterol, makan banyak-banyak,” kata teman menimpali.

Selain Gangan Waluh yang menggoda, kelompok perempuan di desa ini juga dilatih keterampilan berkreasi dengan Sasirangan (kain khas Banjaramasi), yang dipadukan dengan unsur kekayaan alam setempat.

Ketua Kelompok Sasirangan Desa Belangian, Rina Dinawati, mengatakan kelompok ini terbentuk baru sekitar setahun terakhir. Berjumlah 13 orang, kelompok ini memberanikan membuka usaha sasiarangan setelah mengikuti pelatihan beberapa kali.

Mereka memberi nama usahanya, Belangian Sasirangan, memanfaatkan kekayaan alam flora dan fauna, seperti Mengkudu, Rambutan, Kupu-kupu, Berang-Berang, serta aliran sungai lembah Kahung yang memberi inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya.

“Iya ini usaha sampingan kami, pengelola dibantu melakukan BUMdes. Kita memaksimalkan kekayaan alam dan ciri khas sasirangan. Ada motif tambahan dengan daun yang ada di hutan, dan pewarna alami juga dari hutan,” ungkapnya.

Meski usahanya belum meroket, sejauh ini pesanan mulai berdatangan dari luar. Sementara produksi masih terbatas, namun dipastikan upaya peningnkatan produksi dan kreatifitas terus dilakukan.

“Kalau sekarang kita tidak bisa hanya mengandalkan kepintaran, tetapi juga keahlian. Kami senang berupaya bisa menjahit sehingga bisa produksi baju,” imbuhnya.

Berbagai hal menarik alam landscape Geopark Meratus, dan seiring dengan semakin meningkatnya popularitas Meratus sebagai destinasi wisata, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengembangkan infrastruktur dan fasilitas penunjang yang ramah lingkungan. Mereka berencana untuk memperkenalkan program-program ekowisata baru yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaannya, sehingga manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan langsung oleh penduduk setempat.

Dalam beberapa kesempatan, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, menyampaikan harapannya agar status Geopark Nasional ini bisa menjadi momentum bagi peningkatan pariwisata berkelanjutan di Kalimantan Selatan.

Meratus Geopark kini bukan hanya menjadi simbol keindahan alam Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata berkelanjutan dapat diwujudkan. Dengan status sebagai Geopark Nasional, Meratus siap menyambut wisatawan dari seluruh penjuru dunia yang ingin menjelajahi surga ekowisata di jantung Borneo ini. (*)

Penulis: Norjannah

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com