Sains Bukan Cuma di Buku: Saatnya Melek Literasi Ilmiah!
Selasa, 25 November 2025

Oleh : Saskia Mawardah
Saat ini, bila seseorang batuk ringan, kemudian ia menonton video viral di media sosial yang menyarankannya untuk meminum antibiotik “biar cepat sembuh”. Tanpa berpikir panjang, ia membeli obat di apotek tanpa resep dokter. Beberapa hari kemudian, bukannya sembuh tetapi justru efek samping yang tidak diharapkan muncul.
Di era digital saat ini, informasi tentang kesehatan dan obat-obatan menyebar dengan sangat cepat. Sayangnya, deras arus informasi tidak sejalan dengan kebenaran ilmiah. Banyak orang lebih percaya pada testimoni viral dibandingkan penjelasan dari tenaga kesehatan.
Literasi ilmiah bukan sekadar tahu istilah sains, tetapi kemampuan untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi ilmiah secara kritis. Dalam konteks farmasi, ini berarti seseorang mampu memahami bagaimana obat bekerja, pentingnya dosis yang tepat, dan bahaya penggunaan obat tanpa resep dokter.
Menurut penelitian Putri et al. (2023), masih banyak masyarakat yang menggunakan antibiotik secara bebas tanpa konsultasi dengan apoteker, yang dapat menyebabkan resistensi antibiotik yakni salah satu masalah kesehatan global terbesar saat ini.
Di lapangan, mahasiswa dan tenaga farmasi sering menemui kasus penggunaan obat yang keliru. Contohnya, penggunaan obat herbal dan kimia secara bersamaan tanpa mengetahui interaksinya, atau kebiasaan “menebus obat sisa” tanpa resep baru.
Banyak masyarakat berpikir bahwa karena “aman digunakan orang lain”, maka obat tersebut juga aman untuk dirinya. Padahal, menurut Kemenkes (2023), banyak kasus efek samping obat di Indonesia disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat terhadap informasi obat.
Di sinilah pentingnya melek literasi ilmiah. Mahasiswa farmasi dan tenaga kesehatan berperan besar untuk menjembatani pengetahuan teoritis dari buku dengan realita masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan edukasi seperti penyuluhan, konten edukatif di media sosial, atau kampanye “Gunakan Obat dengan Bijak”, informasi ilmiah bisa disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami.
Literasi ilmiah juga perlu ditanamkan sejak masa sekolah, agar generasi muda tidak hanya menguasai teori, tapi juga mampu menerapkan cara berpikir ilmiah dalam kehidupan sehari-hari.
Sains tidak seharusnya berhenti di laboratorium atau sekedar menjadi isi buku teks. Ilmu tersebut perlu hadir di tengah masyarakat agar membantu mereka memahami dunia secara, bukan sekadar kepercayaan tanpa dasar.
Dengan meningkatnya literasi ilmiah, terutama di bidang farmasi, kita bisa membentuk masyarakat yang lebih sehat, kritis, dan bijak dalam menggunakan obat. (*)
*Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Sarjana (S1) Farmasi Universitas Mulawarman
Referensi :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman Penggunaan Obat yang Rasional. Kemenkes RI.
Putri, C. I., Wardhana, M. F., Andrifianie, F., & Iqbal, M. (2023). Literature Review : Kejadian Resistensi Pada Penggunaan Antibiotik Literature Review : Incidence of Antibiotics Resistance. Journal Medula, 13, 219–225.
Berita Terkait

Koran Kaltara Menjaga Fakta di Tengah Bising Sensasi

12 Tahun Koran Kaltara: Reliable, Adaptif dan Berkualitas

Bahasa yang Membius: Ketika Eufemisme Menutupi Realitas Sosial

Menugal Benih Kearifan Rendah Karbon di Ladang “Ume”

Evaluasi Keadilan Tarif PDAM Bulungan dalam Konteks Sosial Masyarakat

Rupiah dalam Kreasi Inspirasi untuk Negeri

Meratus Geopark: Kahung Surga Ekowisata di Jantung Borneo
Jembatan SP 7–SP 2 Tanjung Buka Kian Rusak

TKD Anjlok, Program Pembangunan Tarakan Terpangkas

PKB Nunukan Bidik Tiga Kursi di Pemilu 2029

Kasus Tambang PT CCM, Kejagung Geledah Empat Lokasi di Kaltara

Ketemu Menhan, Bupati Nunukan Desak Pusat Bereskan Masalah Perbatasan

Tiga Warga Malaysia Diduga Masuk Ilegal, Dipindahkan ke Rudenim Balikpapan

