logo
Wilayah

Menjadi Guru Bahagia

Selasa, 14 Februari 2023

Menjadi Guru Bahagia

Oleh: Rapiah, S.Pd.I

Ukuran Teks
Normal

BERPROFESI sebagai seorang guru tidak sesederhana mereka yang memaknai bahwa  kewajiban guru hanya sebatas datang ke sekolah, masuk kelas, mengajar dan pulang.

Sementara keberhasilan atau kegagalan siswa, juga perilaku buruk yang dilakukan siswa biasanya juga sering dikaitkan dengan guru.

Seorang guru bukan hanya objek pentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi role model keteladanan yang diharapkan akan membentuk karakter siswa.

Ketika ilmu pengetahuan semakin berkembang, guru juga dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas keilmuannya sehingga proses pembelajaran yang dilakukan bisa berjalan beriringan dengan perkembangan zaman.

Guru  juga sering dianggap makhluk serba bisa, sehingga tidak jarang jika terjadi permasasalahan dengan siswa, guru menjadi salah satu pihak yang paling disalahkan.

Ha-hal seperti  ini tentunya akan sangat mempengaruhi mental seorang guru.

Oleh karena itu, di tengah tuntutan akademik dan keanekaragaman sikap siswa, hal terpenting adalah guru juga harus selalu bahagia.

Kebahagiaan yang tentunya bukan bukan pada parameter materi saja.

Pandangan umum ini tentu saja tidak salah karena memang setiap orang membutuhkan materi untuk menunjang segala aktivitasnya.

Namun, keberadaan materi belum tentu membuat orang sepenuhnya bahagia. Karena, menurut beberapa literatur, kebahagiaan terkait dengan pola pikir dan sikap dalam menghadapi setiap masalah.

Setidaknya, menurut Gobin Vashdev (2012) dalam bukunya, Happiness Inside, ada tiga sikap yang bisa membuat guru merasa bahagia, yaitu terus belajar, mental positif dan bersyukur.

Kenapa seorang guru harus bahagia? Karena tingkat kebahagian guru sangat mempengaruhi proses dan hasil  pembelajaran di dalam kelas. Dan proses pembelajaran yang baik tentunya akan memberikan keberhasilan dalam pembelajaran.

Guru yang mengajar dengan hati yang riang,  akan menularkan energi positif ke sekitarnya, membuat suasana kelas yang hangat, lapang dalam memberikan bimbingan, penuh senyum serta canda. Tentunya kondisi seperti bukan hanya disukai guru, tetapi juga dirindukan oleh siswa.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa hanya orang yang bahagia yang bisa membahagiakan orang lain.

Jika dikaitkan dengan profesi guru, tentunya hanya guru yang bahagia yang bisa membahagiakan peserta didiknya. Sehingga, sekolah akan menjadi tempat yang membahagiakan, bukan malah sebaliknya. 

Bayangkan jika seorang guru mengawali pertemuan pembelajaran dengan mood yang tidak baik tentu akan menular kepada peserta didik.

Otak manusia tidak akan mampu bekerja secara maksimal jika dalam kondisi yang buruk atau sedang tidak bahagia.

Hal-hal kecil yang ditemui di dalam kelas, bisa saja menimbulkan amarah guru. Akibatnya, guru akan mengomel sepanjang pelajaran atau menggebrak meja  ketika meluapkan emosinya.

Hal yang ditularkan dalam kondisi seperti ini jelas berpengaruh buruk pada prikologis peserta didik.

Mereka menjadi bosan, dan berharap agar mata pelajaran ini secepatnya berakhir.

Dalam kondisi seperti ini, dipastikan tujuan pembelajaran tidak akan berhasil. Karena sesungguhnya  berada dalam kondisi yang buruk, peserta didik  tidak bisa berdamai dengan suasana hati mereka, mereka tidak  siap mendapat asupan ilmu pengetahuan.

Ketidaksiapan alam bawah sadar untuk menerima sesuatu yang baru itulah yang berefek pada rasa ngantuk dan malas untuk mengikuti pembelajaran.

Guru yang tidak bahagia itu rentan stress. Tekanan dari tuntutan segala pihak yang menghendaki guru bisa menjadi segala-galanya bagi peserta didik.

Sementara kompleksitas permasalahan guru itu sangat beragam. Menghadapi kemampuan dan karakter siswa yang beragam, belum lagi menghadapi  beragam tuntutan orang tua, tentunya seorang guru harus memiliki mental yang tidak hanya kuat tetapi juga sehat.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap profesi sebagai guru yang kita jalankan, agar kita selalu merasa bahagia.

Dari  pengalaman  penulis dan beberapa referensi dari berbagai sumber, ada beberapa hal yang dapat seorang guru lakukan.

Mengajar Dengan Hati dan Penuh Rasa Syukur

Seorang guru harus memiliki kesadaran bahwa mengajar bukan sekedar profesi yang tujuan utamanya adalah mengejar materi. Tetapi menjadi guru merupakan panggilan dari hati untuk menyiapkan generasi penerus yang membangun negeri.

Menjadi guru bukan hanya mentransfer ilmu tetapi juga memberikan keteladanan.

Menjadi guru bukan sekedar profesi mencari uang tetapi sebagai salah satu bentuk pengabdian dalam menyiapkan generasi bangsa kearah yang lebih baik di tengah tantangan zaman saat ini.

Rasa syukur akan membuat guru selalu merasa bahagia.

Oleh karena itu, seorang guru dapat menyampaikan ilmu pengetahuan dengan bahasa dan sikap yang positif, karena emosional yang selalu terjaga.

Mencintai Profesinya

Ketika kita mencintai profesi sebagai seorang guru, seorang guru tentunya akan mencintai proses pembelajaran.

Dalam kondisi apapun tentu seorang guru akan dengan senang hati melaksanakan tugas-tugasnya. Seorang guru akan mendapat kepuasan tersendiri ketika mampu memberikan hal-hal baik bagi peserta didiknya.

Memiliki Waktu untuk Menyenangkan Dirinya

Guru harus mempunyai waktu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan diri mereka seperti  sesekali menyempatkan diri untuk pergi ke tempat menyenangkan, duduk santai sambil menikmati minuman ataupun cemilan kesukaan, dengar musik ataupun nonton film favorit, atau hanya sekedar ngobrol santai dengan teman-temannya.

Dengan kata lain guru dapat melakukan hal-hal yang membahagiakan, sehingga ketika masuk kelas dalam kondisi yang bahagia, mampu menularkan kebehagiaan mereka kepada peserta didiknya.

Motivasi Diri Sendiri

Meningkatkan motivasi sangat penting untuk menjadi guru yang bahagia. Semua orang pasti masa mood yang tiba-tiba berubah. Suasana hati yang tiba-tiba tidak menyenangkan, tetapi jangan sampai hal ini ikut terbawa ke dalam kelas.

Ketika dalam kondisi ini, salah satu yang bisa kita lakukan adalah dengan mengatakan pada diri sendiri, “ Saya adalah guru, mendidik adalah tanggung jawab saya, demi masa depan generasi saya.”

Bangun afirmasi positif dalam diri, bahwa saya bisa, masa depan anak-anak ada di tangan saya.

Menjadi Diri Sendiri dan Tidak Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Seorang guru bebas berekspresi menjadi diri sendiri dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan keteladanan.

Hindari toxic atau komentar-komentar yang membuat kondisi emosional tidak stabil. Melakukan sesuatu  yang diyakini baik untuk memberikan insprasi kepada peserta didiknya.

Seorang guru akan merasa bahagia tidak hanya ketika melihat peserta didiknya pintar, tetapi ketika bisa menginspirasi siswa untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik. 

Kurangi Beban Administrasi

Seperti diketahui selama ini guru sangat dibebani dengan administrasi yang cukup banyak, sehingga waktu untuk meningkatkan kwalitas pembelajaran sangat kurang.

Bahkan ketika mereka mau masuk kelas masih disibukkan dengan administratif.

Seharusnya guru justru memiliki waktu yang banyak untuk menyiapkan bahan ajar, alat peraga, slide presentasi, tugas, rancangan metode dan sebagainya. Karena kesiapan hal-hal tersebut juga akan berpengaruh pada suasana pembelajaran di kelas.

Pada akhirnya, sebagai seorang guru kita yang paling tahu hal-hal apa yang akan membuat diri bahagia.

Mulai lakukan yang terbaik untuk diri karena jiwa yang sehat dimulai dari hati yang bahagia. Guru yang bahagia akan melahirkan peserta-peserta didik yang bahagia.

Ikhas akan tugas, menerima dengan tanggung jawab dan selalu memotivasi diri sendiri merupakan salah satu bagian penting menjadi guru yang bahagia.

Guru bahagia, siswa bahagia, bersama kita pasti bisa! (*)

 

*) Penulis adalah guru bahasa Inggris SMP Negeri 3 Tanjung Selor

 

logo

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com