Ekonomi Bisnis

Imbas PPKM, UMKM Bisa Terancam Gulung Tikar

Sejumlah aktivitas pedagang di Pasar Induk Tanjung Selor. (Foto : Nurjannah)
TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Pengetatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro di Bulungan, berpotensi memberikan dampak pada sejumlah aspek.
Termasuk dampak negatif bagi para pedagang dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Seperti disampaikan, pengamat Ekonomi Bulungan, Dr. Arif Jauhar Tontowi, bahwa penerapan PPKM Mikro ini sudah pasti berdampak terhadap perekonomian,  jhususnya, pelaku UMKM.
Menurutnya, para pelaku usaha di Bulungan misalnya masih di level grass root (menengah ke bawah). Jadi, belum familier dengan dunia digital.
“Selama ini, bisnisnya hanya mengandalkan interaksi antar orang. Dengan adanya PPKM Mikro ini banyak kegiatan  mereka yang otomatis menjadi terkendala, bahkan terhenti. Itu sudah pasti dirasakan pelaku usaha sekarang ini,” ujarnya.
Alhasil, kata dia  UMKM harus dihadapkan pada situasi harus mencari nafkah, tetapi di satu sisi aktivitasnya terbatas demi kesehatan. Saat ini pelaku berapa ada pada posisi dilema.
“Banyak pelaku usaha yang mengalami seperti itu,” katanya.
Meski begitu, berapa jumlah UMKM di Bulungan yang terdampak, ia tak menyebutkan detail.
“Saya terus terang belum melalukan survei terkait itu. Tapi yang pasti dengan adanya penerapan PPKM ini banyak pelaku usaha kita yang terdampak. Apalagi selama ini pelaku usaha hanya mengandalkan interaksi antar orang,” imbuhnya.
Di sisi lain, ia menyampaikan beberapa pelaku UMKM masih bisa berjalan. Utamanya yang berinovasi melakukan penjualan melalui media sosial (medsos). Namun, bagi yang masih belum familier dengan dunia digital mereka bingung untuk menjual dagangannya.
“Di satu sisi mereka harus menjaga dirinya dan lingkungannya. Namun, di satu sisi nafkahnya dari mana. Tetapi, saya lihat masyarakat juga terpaksa beraktivitas,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan, adanya penerapan PPKM ini banyak pelaku usaha yang terdampak, bahkan dimungkinan gulung tikar.
Dalam hal ini ia menilai pemerintah harus memberikan stimulus kepada para pelaku usaha yang terdampak.
Pelaku usaha harus dikenalkan bagaimana cara berbisnis di masa pendemi Covid-19.
“Jadi, pengoptimalan penggunaan medsos atau perdagangan digital harus digencarkan. Di satu sisi mereka bisa punya celah untuk meneruskan bisnisnya. Kemudian, di satu sisi pelaku usaha mendapat support (dukungan), misalnya terkait permodalannya,” tambahnya.
Tetapi, sekarang ini ada kebijakan yang cukup bagus dari perbankan terkait subsidi bunga. Itu juga sangat membantu para pelaku usaha yang terdampak.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop dan UMKM Bulungan,  Murtina tak menampik PPKM Mikro turut berdampak terhadap UMKM. Namun demikian, untuk itu pihaknya belum bisa berbuat banyak.
“Anggaran kita juga terbatas karena kebijakan refocusing anggaran,” sebutnya.
Murtina menegaskan, untuk pelatihan kepada UMKM tetap dilakukan melalui dana alokasi khusus (DAK). Dalam hal ini pihaknya mendorong agar para pelaku UMKM bisa berinovasi melalui Medsos.
“Kita mendorong agar pelaku UMKM memanfaatkan media sosial, apalagi dengan perkembangan teknolohgi yang ada saat ini,” katanya. (*)
Reporter: Nurjannah
Editor: Eddy Nugroho