Sarang Walet Turun Harga Jadi Rp10 Juta per Kg

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Budidaya sarang burung walet di Kabupaten Tana Tidung menjadi salah satu komoditas utama. Namun sayang harga tidak terkontrol sehingga cenderung turun setiap tahunya.

Lima tahun yang lalu, harga per kilogram bisa tembus Rp22 juta, meskipun hanya bertahan selama empat hari. Sekarang hanya Rp10 juta per kilogram untuk kualitas baik.

Salah satu pengepul sarang walet di Tana Tidung, Zoel Batalas mengatakan, sejak pandemi Covid-19 harga jual selalu menurun setiap tahunya. Tahun 2022 ini sejak Imlek atau awal Februari juga mengalami penurunan harga.

“Harga normal Rp12 juta per kilogram untuk jenis mangkok, sekarang tinggal Rp10 juta per kilogram. Sedangkan untuk grade sudut harganya Rp8 juta dan jenis patahan harganya di bawah Rp7 juta. Tetapi sekarang grade hanya ada dua jenis yaitu mangkok, sedangkan patahan dan sudut digabung dengan harga Rp7 jutaan tadi,” terangnya, Senin (28/2/2022).

Turunnya harga sarang burung walet tidak hanya terjadi di Tana Tidung, hampir semua daerah di Kalimantan Utara termasuk Malinau dan Tanjung Selor.

Sementara untuk hasil produksi dari petani, tidak mengalami penurunan maupun peningkatan, masih stabil dalam setahun terakhir.

Harga masih bisa didongkrak, asalkan memiliki kualitas yang bagus, misalnya jenis mangkok memiliki warga yang putih beras atau  sarang walet yang plontos putih bersih tanpa ada bulu, kalaupun ada hanya 2-3 helai.

“Jenis ini jelas di atas Rp10 juta tetapi dalam 1 kilo ada beberapa lembar saja, kecuali petani panen rampas. Burungnya belum bertelur tetapi sarangnya sudah dibuat sempurna lalu dipanen, sehingga tidak sempat digunakan untuk bertelur apalagi sampai menetaskan anak,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan Zoel, sekarang ini pembeli besar lebih jeli dalam memilih kualitas. Jika ada yang berwarna kuning harga akan turun, perubahan warna ini dipengaruhi berbagai macam.

Mulai dari amoniak atau kotoran burung yang berada di lantai rumah budidaya yang tidak dibersihkan, sampai dengan pola penyimpanan pascapanen yang tidak tepat.

“Saya dengar petani banyak yang mengeluh masalah harga, tidak tahu sampai kapan ini akan terjadi. Bila di Cina harganya sampai sekian-sekian, tetapi ada proses yang harus dilewati, ada karantina, bea cukai, pajak, izin dan lain sebagainya. Kalaupun kami cuci culu sarang burung walet ini sebelum dijual, harus bayar karyawan dan lain-lain, meskipun nilai jual naik, tetapi ada cost yang harus dikeluarkan,” paparnya.

Selama menjadi pengepul, Zoel mengaku pernah membeli sarang walet dengan harga Rp22 juta 5 tahun yang lalu. Namun harga tinggi tersebut hanya mampu bertahan 4 hari.

Harga normal untuk sarang walet di Kaltara ini Rp15 juta per kilogram. “Di awal saya jual beli sarang walet, itu Rp800 ribu perkilo, tetapi itu saat saya masih SMP, tetapi sudah memulai bisnis ini,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Rifat Munisa

BERITA TERKAIT

Berita terkait tidak ditemukan!

TERPOPULER

Koran Kaltara adalah media terbesar di Kalimantan Utara yang berkantor pusat di Tanjung Selor mengusung tagline "Cerdas untuk Pembaruan" senantiasa menghadirkan berita-berita yang informatif dan inspiratif.

Copyright © 2018-2026 Korankaltara.com