Kopi Pagi

Waspada Narkoba Jelang Tahun Baru

Oleh: Didik Eri Sukianto (Pemimpin Redaksi) LAGI, aparat Polda Kaltara menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu dalam jumlah besar. Pada Kamis (6/12/2018) lalu, sekitar 10 kilogram sabu disita dari dua tersangka asal Filipina yang ditangkap di Muara Tanjung Haus, Kayu Mati, Perairan Nunukan. Sabu tersebut diduga dikirim dari Malaysia dan akan diedarkan di Indonesia. Nunukan masih…

Oleh: Didik Eri Sukianto (Pemimpin Redaksi)

LAGI, aparat Polda Kaltara menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu dalam jumlah besar. Pada Kamis (6/12/2018) lalu, sekitar 10 kilogram sabu disita dari dua tersangka asal Filipina yang ditangkap di Muara Tanjung Haus, Kayu Mati, Perairan Nunukan.

Sabu tersebut diduga dikirim dari Malaysia dan akan diedarkan di Indonesia. Nunukan masih menjadi favorit para bandar untuk memasukkan sabu ke Indonesia, selain wilayah Sumatera.

Hal ini dikarenakan wilayah perbatasan itu banyak pintu masuk, khususnya lewat perairan. Jalur-jalur tikus atau sungai-sungai yang bermuara ke perairan antara Nunukan dengan Malaysia sangat banyak untuk dijadikan sebagai pintu masuk.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso saat masih menjabat, seperti dilansir BBC Indonesia (2 Februari 2018) mengungkapkan, penyelundupan sabu ke Indonesia lebih banyak dilakukan melalui perairan karena perairan Indonesia sangat luas dengan personel atau penjaga terbatas.

Jika ditinjau dari beberapa kasus pengungkapan narkoba dari China, Taiwan dan Malaysia dalam jumlah besar, rata-rata melalui jalur perairan. Sementara menurut beberapa sumber, jalur penyelundupan narkoba di dunia, sekitar 80 persen melalui laut karena bisa dalam jumlah besar serta pintu masuk yang lebih banyak.

Di Kaltara sendiri pun demikian. Jalur di Nunukan menjadi pintu masuk bandar asal Malaysia menyelundupkan sabu ke Indonesia. Setelah lepas dari perairan, mereka yang diduga hafal dengan jalur-jalur tikus (sungai), tinggal memilih akan masuk mana.

Sementara personel, baik dari TNI AL, Dit Polair maupun Sat Polair di Kaltara, jumlahnya terbatas. Belum lagi sarana prasarana juga terbatas. Tentu hal tersebut membuat pengawasan atau pencegahan tidak bisa maksimal.

BACA JUGA:
Cegah Penyelundupan Narkoba, Fokus di Jalur Tikus

Kondisi seperti itulah yang ditengarai dimanfaatkan oleh bandar sabu. Budi Waseso, pada media yang sama juga mengungkapkan, bahwa hanya sekitar 10 persen penyelundupan sabu yang digagalkan aparat. Satu kapal tertangkap, kapal lain bergerak. Artinya lebih banyak narkoba yang berhasil masuk dibanding yang berhasil digagalkan.

Pejabat BNN juga menyebut, bahwa Indonesia masih menjadi target pemasaran narkoba karena jumlah penduduk besar serta permintaan yang tinggi. Apalagi sejak di China dan Filipina soal narkoba ini diperketat. Bahkan di Filipina menerapkan aturan tegas, yakni tembak mati pengedar narkoba.

Ribuan orang dieksekusi karena terlibat narkoba. Meskipun beberapa kali Presiden Joko Widodo menyiratkan untuk menindak tegas, salah satunya tembak mati, bagi bandar narkoba, namun apa yang dilakukan di Filipina tidak mudah diberlakukan di Indonesia. Filipina sendiri mendapat sorotan internasional karena dianggap melanggar HAM.

Dengan ketatnya pengawasan dan hukuman di Filipina maupun China, otomatis Indonesia menjadi sasaran pemasaran narkoba, khususnya dari China maupun Malaysia. Melihat ‘prospek yang cerah’ di Indonesia bagi pebisnis haram ini, para sindikat narkoba akan melakukan 1001 cara agar narkoba bisa masuk ke Indonesia.

Tentu saja hal ini menjadi kekuatiran tersendiri karena narkoba makin massif masuk ke Indonesia. Apalagi sekarang ini mulai muncul narkoba jenis baru, yakni ganja cair yang dikirim dari Belanda dan Jerman.

Seperti diketahui, BNN telah menyita empat dus berisi 22 botol minyak ganja cair dengan 4 botol bermerek Hemspees. Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, Irjen Arman Depari dikutip Kompas.com, Rabu (12/12/2018) mengatakan, jenis narkoba baru itu adalah minyak ganja dari biji canabis sativa.

Penyidik masih mempelajari kasus narkoba jenis baru yang dipesan melalui online dan dikirim ke Jakarta melalui Retouren Service Centre c/o Deutsche Post GM Germany tersebut karena senyawa yang terkandung di dalamnya tidak masuk di lampiran Undang-Undang No 35 tahun 2009.

Artinya, Indonesia menjadi sasaran bisnis gelap narkoba oleh bandar dari berbagai dunia, berbagai jenis narkoba hingga berbagai cara menyelundupkannya.

Dengan situasi yang ada, maka aparat harus lebih ketat menjaga titik-titik rawan penyelundupan narkoba, termasuk di Kaltara. Namun harus didukung dengan personel dan sarana prasarana yang memadai.

Dan, kita patut mengapresiasi apa yang sudah diungkap Polda Kaltara tersebut. Melalui penyelidikan selama sebulan, akhirnya bisa menangkap pelaku penyelundupan sabu dalam jumlah besar, meski personel maupun sarana prasarana masih terbatas.

Catatan di Polda Kaltara, kasus narkoba yang diungkap selama 2018 setidaknya berhasil menyita 88 kilogram sabu dan 462 tersangka ditangkap. Sebagian besar, sabu yang diselundupkan dari Malaysia itu bukan hanya diedarkan di Kalimantan, tapi juga ke Sulawesi.

Secara umum, peredaran narkoba tiap tahun mengalami peningkatan. Hal ini hanya dilihat dari jumlah pengungkapan yang dilakukan Polri, BNN sampai TNI, belum yang peredarannya tidak terendus aparat.

BNN menyebut pada 2017 ada 3,5 juta orang pengguna narkoba, 1 juta di antaranya adalah pecandu. Diperkirakan pada 2018 ini jumlahnya meningkat.

Kemudian, ada kecenderungan permintaan tinggi setiap akhir tahun, yakni untuk merayakan Tahun Baru. Meski Indonesia masih tergolong negara berkembang, namun gaya hidup sudah seperti negara-neara lain, salah satunya perayaan Tahun Baru dengan cara pesta, baik di tempat hiburan maupun tempat lain.

Nah, ada indikasi pada pesta malam Tahun Baru itulah, banyak yang juga menggunakan narkoba. Sehingga wajar jika setiap akhir tahun seperti ini permintaan narkoba juga tinggi sehingga upaya sindikat narkoba memasukkan narkoba juga tinggi.

Pihak kepolisian maupun BNN juga harus lebih aktif sosialisasi tentang bahaya narkoba, khususnya kepada kalangan remaja. Sudah banyak yang tahu jika pada usia remaja, merupakan usia dimana sedang tinggi-tingginya rasa penasaran dan ingin mencoba.

Hal ini yang perlu diwaspadai, bukan hanya oleh aparat, tapi oleh semua pihak. Kita semua sudah sepakat, bahwa narkoba itu merugikan, baik secara ekonomi, sosial maupun kesehatan.

BACA JUGA:  Tes Urin dan Upaya Persempit Pasar Narkoba

Apabila demikian, maka sudah seharusnya masyarakat bisa menjaga lingkungan masing-masing. Pesta atau merayakan Tahun Baru tentu tidak ada yang melarang, namun jika ada narkoba, maka itu akan berurusan dengan hukum. (*)

 

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment