Tana Tidung

Warga Diimbau Tak Sebar Hoax Vaksin Sinovac

Foto: Internet/Ilustrasi

TANA TIDUNG, Koran Kaltara – Postingan di media sosial yang meragukan vaksin Sinovac, membuat warga turut meragukan dampak atau efek samping dari vaksin Covid-19 ini. Salah satu postingan yang berisi informasi akibat suntik vaksin, korban dilarikan kerumah sakit salah satu daerah di Pulau Jawa, ditambah dengan narasi postingan tersebut; “Apakah tujuan vaksin untuk mencegah virus COVID-19 atau mungkin tujuan dari vaksin ini adalah pengurangan penduduk Negara ini.”

Menanggapi hal tersebut Plt Kepala Diskominfo KTT, Wirahadi Rahmatsyah mengakui, bahwa berita-berita semacam itu adalah hoaks. Masyarakat diharapkan tidak langsung mempercayainya apalagi sampai turut ikut membagikannya di media sosial (medsos).

“Jangan semuanya lantas dipercaya. Jadi masyarakat harus membedakan mana informasi yang dapat dijadikan sebagai informasi yang akurat dan dapat dijadikan anjuran, dan mana informasi yang hanya membuat resah sementara belum tahu pasti kejelasan informasi tersebut. Kami dari Kominfo rutin menginformasikan ke masyarakat berita-berita hoaks, terutama soal vaksin sinovac ini,” jelas dia, Sabtu (16/1/2021).

Dia menjelaskan, bahwa informasi tersebut sepenuhnya adalah hoaks karena faktanya postingan yang disertai dengan video itu adalah kejadian di tahun 2018. Artinya sebelum adanya Covid-19.

Kemudian orang yang dilarikan ke rumah sakit lantaran menjadi korban vaksin difteri. Jadi tidak ada hubungannya dengan Covid-19.

Dia juga menginformasikan kepada seluruh masyarakat dengan postingan foto kondisi katak setelah divaksin adalah berita bohong alias hoaks sebab faktanya foto tersebut juga sudah beredar dua tahun yang lalu sebelum vaksin diperbincangkan.

Kejadian yang sebenarnya membahas tentang beberapa keunggulan katak yang banyak dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan.

Dengan banyaknya beredar informasi vaksin Sinovac sedikit banyaknya dapat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat dan imbasnya menimbulkan tanda tanya serta keraguan yang besar. Pengguna medsos lah yang dikhawatirkan akan lebih cepat menyebarkan berbagai berita hoaks tersebut.

Dia mengungkapkan, vaksin telah melalui berbagai uji coba dan aman karena Presiden RI sendiri sebagai orang pertama yang menerima vaksin Sinovac tersebut.

Kominfo hanya ingin menginformasikan bahwa vaksinasi Covid-19 produksi Sinovac tidak dapat diberikan kepada orang-orang dengan kriteria, yakni memiliki riwayat konfirmasi Covid-19 atau pasien Covid-19, wanita hamil dan menyusui, berusia di bawah 18 tahun, tekanan darah diatas 140/90, mengalami gejala ISPA seperti batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir.

Kemudian ada anggota serumah yang kontak erat/suspek/konfirmasi/sedang dalam perawatan karena penyakit Covid-19, sedang mendapatkan terapi jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah, menderita penyakit jantung (gagal jantung/penyakit jantung coroner), menderita penyakit autoimun sistemik seperti lupus atau autoimun lainnya.

Selanjutnya, menderita penyakit ginjal, menderita penyakit reumatik autoimun/rheumatoid arthritis, menderita penyakit saluran pencernaan kronis, menderita penyakit hipertiroid/hipotiroid karena autoimun, menderita penyakit kanker, kelainan darah, imunokompromais/defisiensi imun dan penerima produk darah/transfuse, menderita penyakit diabetes melitus, HIV dan memiliki penyakit paru seperti asma, TBC dan lainnya. (*)

Reporter: Hanifah
Editor: Nurul Lamunsari

Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan