Nunukan

Uji Coba Penyaluran Elpiji Subsidi Sistem KK

Ilustrasi tabung gas elpiji 3 kg

NUNUKAN, Koran Kaltara – Permasalahan penyaluran dan mahalnya harga elpiji subsidi di Pulau Nunukan dan Sebatik membuat Pemkab Nunukan terus melakukan pembenahan.

Kabag Ekonomi Sekretariat Pemkab Nunukan Muktar menyampaikan beberapa opsi penyaluran elpiji subsidi telah dipersiapkan. Supaya, penyaluran tersebut tepat sasaran ke warga tidak mampu. Salah satunya, pembelian elpiji subsidi dengan Kartu Keluarga (KK). Sistem penyaluran itu dibahas dalam hearing dengan DPRD Nunukan, beberapa hari lalu.

“Saat ini, pengawas kita bekali dengan data KK. Jadi, yang bisa membeli elpiji subsidi itu harus KK yang ada di RT-nya masing-masing. Kami sudah ketemu dengan kepala desa dan lurah,” terangnya kepada Koran Kaltara, Minggu (17/1/2021).

Menurut dia, sistem pembelian menggunakan KK akan di uji coba selama satu bulan ke depan. Apabila berhasil, maka akan digunakan di tahun ini. “Kalau tidak berhasil, kami akan keluarkan atau buatkan surat edaran yang miskin saja bisa beli,” tambahnya.

Namun, dia mengaku dilematis apabila surat edaran itu sampai dikeluarkan sebab akan menghambat proses pengisian ulang. Karena, tabung di pangkalan kemungkinan akan habis dalam waktu lama, 4-5 hari atau seminggu.

“Karena yang beli hanya warga miskin. Nanti, kalau isi tabungnya habis baru dibeli. Sedangkan di hari keempat itu, tong gas kosong di pangkalan maupun agen diambil kembali untuk dibawa ke Tarakan agar diganti dengan tong yang berisi,” bebernya.

Dia mencontohkan tabung gas 3 kg yang beredar saat ini sebanyak 20 ribu tabung per minggu untuk Pulau Sebatik dan Nunukan. Kalau 20 ribu tabung itu sudah kosong, nanti akan diisi ulang kembali. Jika di pangkalan, isi tabung itu lama habisnya dan hanya bisa mengumpulkan 15 tabung kosong, maka hanya 15 ribu tabung saja yang akan kembali datang.

“Artinya apa? Ini akan berkurang terus. Akhir tambah sedikit tabung. Nah, di situlah yang dilema. Makanya, kami belum mengeluarkan surat edaran hanya orang miskin saja membeli,” terangnya.

Sebab, kata dia, semua pangkalan dan agen tidak memiliki tong gas cadangan yang semestinya harus dimiliki setiap agen maupun pangkalan.

“Misalnya, pangkalan itu dapat jatah 100 tabung, maka harus punya 100 tabung cadangan. Jadi, pangkalan punya 200 tabung. Sehingga saat pengisian tetap punya tong gas yang pas. Kalau stoknya lama habis atau hanya jual 50 tabung, ya segitu saja, jadi kan berkurang jatahnya,” pungkasnya. (*)

Reporter: Asrin
Editor: Sobirin

Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan