Kesehatan

Tiup Trompet Bisa Tertular TBC

Meniup terompet rentan tertular penyakit. Salah satunya adalah TBC. (Foto: Istimewa)
TARAKAN, Koran Kaltara – Perayaan malam tahun baru identik dengan tiup terompet, namun yang patut diwaspadai adalah kegiatan ini dapat menimbulkan penularan penyakit. Mulai dari flu, batuk bahkan infeksi paru-paru atau yang lebih dikenal dengan Tuberculosis (TBC). Selain dapat menyebabkan kematian, penyakit ini juga mudah menular bahkan lewat terompet. Dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, Subono,…

TARAKAN, Koran Kaltara – Perayaan malam tahun baru identik dengan tiup terompet, namun yang patut diwaspadai adalah kegiatan ini dapat menimbulkan penularan penyakit. Mulai dari flu, batuk bahkan infeksi paru-paru atau yang lebih dikenal dengan Tuberculosis (TBC).

Selain dapat menyebabkan kematian, penyakit ini juga mudah menular bahkan lewat terompet.

Dijelaskan Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, Subono, penularan bakteri melalui terompet bisa terjadi jika salah satu orang yang mencoba mainan khas malam tahun baru ini ada yang terjangkit penyakit.

Misalnya pengrajin terompet mencoba hasil karyanya, lalu ada pedagang yang juga mencoba, pembeli yang memilih terompet juga mencobanya sehingga potensi penularan penyakit sangat besar.

“Bisa terjangkit penyakit menular, seperti TBC, flu, batuk, dan saluran pernafasan lainya. Untuk menghindari ini secara ekstrimnya jangan beli terompet, kalaupun terpaksa beli yang masih dalam bungkusan,” terangnya, saat dihubungi Koran Kaltara, Jumat (28/12/2018).

Karakter pembeli rata-rata ingin terompet yang dibeli bisa berbunyi nyaring, sehingga pembeli akan mencoba di tempat dan belum tentu dibeli.

“Semuanya sangat rentan, dan berpotensi. Bisa dari pembuat, pedagang maupun pembeli. Kalau salah satunya ada yang menderita TBC maka akan menularkan ke yang lainya melalui tiupan terompet. Karena penularan TBC bisa dari nafas maupun cairan yang ada di pernafasan dan liur,” paparnya.

Di Indonesia jumlah penderita TBC menempati posisi kedua dunia setelah India, oleh karena itu dibutuhkan kewaspadaan dan kesadaran dari masyarakat untuk tidak menambah jumlah penderita. Apalagi TBC saat ini menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai.

“Jika penangananya salah bisa menimbulkan kematian, karena sistem pengobatan TBC ini membutuhkan waktu 6 bulan dengan cara makan obat secara rutin, dan obatnya gratis asalkan ikut program penyembuhan,” urainya.

Jika selama 6 bulan tidak rutin minum obat, penderita TBC bisa menjadi kebal dan membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk pengobatanya. Oleh karena itu, mencegah lebih baik daripada mengobati. (*)

Reporter: Sofyan
Editor: Rifat Munisa

About the author

Avatar

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment