Ekonomi Bisnis

Tiga Tahun SOA, Sembako Malaysia Masih Pilihan

Kabid Dalam Negeri Disperindagkop Kaltara, Hasriyani.
TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kebijakan Pemerintah Provinsi Kaltara menghapus peredaran sembako asal Malaysia di perbatasan melalui program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) masih belum berhasil. Program yang sudah dicanangkan Pemprov Kaltara sejak 3 tahun belakangan masih belum mampu mengurangi ketergantungan warga perbatasan akan produk asal negeri Jiran. Camat Krayan, Helmi membenarkan kondisi tersebu. Bahkan kata…

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara – Kebijakan Pemerintah Provinsi Kaltara menghapus peredaran sembako asal Malaysia di perbatasan melalui program Subsidi Ongkos Angkut (SOA) masih belum berhasil.

Program yang sudah dicanangkan Pemprov Kaltara sejak 3 tahun belakangan masih belum mampu mengurangi ketergantungan warga perbatasan akan produk asal negeri Jiran.

Camat Krayan, Helmi membenarkan kondisi tersebu. Bahkan kata dia, sembako asal Malaysia masih bebas diperjualbelikan di pasar-pasar yang ada di wilayahnya itu secara ilegal.

Meski demikian ia tidak mampu berbuat banyak melihat fenomena tersebut. Apalagi, untuk menuju Malaysia tepatnya di daerah Ba’kelalan, Sarawak lebih dekat dibandingkan harus menuju ibukota Kabupaten Nunukan.

Tidak hanya lebih dekat, untuk biaya transportasi juga lebih murah menuju wilayah Malaysia dibandingkan ke ibukota Nunukan sendiri.

Dikonfirmasi hal itu, Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop) Kaltara, Hasriyani mengakui, program yang dialokasikan melalui APBD Kaltara itu masih belum mampu mengurangi disparitas harga barang pokok di perbatasan. Apalagi, anggaran yang dimiliki untuk realisasi program tersebut terbilang tidak cukup.

“Anggaran kita yang memang tidak cukup. Apalagi kan, ada dua daerah yang kita handel. Kalau untuk memenuhi kebutuhan mereka memang (warga perbatasan) kalau dari program SOA masih belum bisa memenuhi,” jelasnya, Senin (10/12/2018).

“Selama kebutuhan mereka belum terpenuhi, wilayah perbatasan memang pasti akan sangat bergantung pada sembako Malaysia. Karena, mereka sangat mudah untuk mendapatkannya dan murah. Itu tidak melanggar sebenarnya, asalkan didatangkan dari Tawau sesuai dengan aturan. Ada izin dari instansi yang memberi izin,” timpalnya. (*)

Reporter: Ramlan

Editor: Rifat Munisa

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 11 Desember 2018