Ruang Publik

Terpaksa Menganggur Di Masa Pandemi Covid-19

Fitri
  • Oleh : Fitri Puspitasari, SST

DUNIA ini tidak lagi se-normal sebelumnya, kegiatan sehari-hari kita mau tidak mau beradaptasi seiring dengan penyebaran virus Covid-19 yang semakin menjadi. Memakai masker kini menjadi wajib hukumnya di manapun kita bertemu, vaksinasi bukan sebuah pengecualian untuk virus ini menyerang seseorang.

Belum lagi ancaman virus yang bermutasi menjadi berbagai jenis mutasi. Meskipun kurva pasien yang terkonfirmasi Covid-19 semakin melandai, masih terdapat ancaman gelombang kedua dan seterusnya. Tentunya pemerintah Indonesia tidak ingin kasus Covid-19 di Indonesia menjadi melonjak seperti yang terjadi di India.

Pada awal kemunculannya, para ahli memprediksi berbagai kemungkinan kapan pandemi ini akan berakhir. Covid-19 tidak dapat selesai hanya dalam hitungan bulan, bahkan hingga saat ini para pakar kesehatan masih belum mengetahui kapan berakhirnya pandemi ini.

Berbagai jenis kebijakan telah dilaksanakan, mulai dari PSBB, PPKM, Pembatasan Sosial, bahkan yang baru saja diterapkan adalah pembatasan mudik Lebaran dan pengetatan mudik Lebaran.

Pertumbuhan ekonomi yang berkontraksi 5,32 persen (y on y) pada triwulan II 2020 menunjukkan besarnya efek perubahan aktivitas perekonomian di Indonesia akibat adanya pandemi. Bahkan hingga triwulan I 2021 pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih menunjukkan kontraksi sebesar 0,74 persen (y on y). Kebijakan pemerintah dalam mengatasi penyebaran virus serta pemulihan ekonomi di masa pandemi memberikan dampak salah satunya pada lapangan pekerjaan.

Di Indonesia, pada Februari 2021 lalu, terdapat 205,36 juta penduduk yang berusia 15 tahun keatas. Penduduk pada usia ini merupakan penduduk yang sudah terhitung dapat melakukan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan.

Pandemi ini setidaknya membuat Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia di bulan Februari 2021 meningkat sebesar 1,32 persen dibandingkan dengan Februari 2020 ketika pandemi Covid-19 belum terjadi, atau terjadi penurunan jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 2,23 juta.

Menyesuaikan dengan berbagai kebijakan pemerintah, berbagai penyedia lapangan pekerjaan juga memulai tatanan kenormalan yang baru agar tetap bertahan ditengah pandemi Covid-19. Pengurangan jumlah pekerja, pemberlakuan kebijakan bekerja dari rumah, pengurangan jam kerja, bahkan diberhentikan sementara menjadi beberapa opsi dari para penyedia lapangan pekerjaan untuk tetap bertahan.

Tidak jarang beberapa perusahaan bahkan terpaksa gulung tikar apabila tidak mampu bertahan di tengah menurunnya aktivitas perekonomian dimasa pandemi. Akibatnya penduduk yang bekerja menjadi terdampak. Secara nasional 19,10 juta penduduk usia kerja yang telah terdampak Covid-19, 1,62 juta diantaranya terpaksa menjadi pengangguran karena Covid-19 pada Februari 2021.

Di bulan Februari 2021, Provinsi Kalimantan Utara sebagai provinsi dengan penduduk yang paling sedikit di Indonesia setidaknya sebesar 52.952 atau 10 persen dari penduduk usia kerja di Kalimantan Utara yang terdampak Covid-19. Sebanyak 2.576 penduduk diantaranya menjadi terpaksa menganggur karena pandemi Covid-19.

Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk membuat dampak Covid-19 seminimal mungkin. Stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha dan keringanan pembayaran pinjaman telah dilakukan agar para pelaku usaha dapat bertahan. Bantuan sosial, pemberian insentif melalui kartu prakerja juga diberikan agar masyarakat yang terdampak dapat tetap bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19 yang belum dapat diketahui kapan berakhirnya.

Di samping pengangguran yang disebabkan karena pandemi Covid-19, permasalahan pengangguran di setiap tahunnya adalah pengangguran terdidik. Dimasa pandemi ini, lapangan pekerjaan baru dapat tumbuh dan berkembang jika para pelaku usaha semakin kreatif dalam memanfaatkan keterbatasannya.

Namun munculnya lapangan pekerjaan baru tidak sebanding dengan banyaknya penduduk usia kerja yang sedang mencari pekerjaan, terutama bagi penduduk yang memiliki pendidikan tinggi.

Umumnya penduduk pada kelompok ini lebih memilih untuk masuk kedalam sektor formal dan lebih selektif dalam memilih pekerjaannya. Di samping itu, sebagian besar penduduk yang berpendidikan tinggi merupakan penduduk yang tergolong mampu secara finansial. Sehingga, pengangguran yang berpendidikan tinggi lebih memilih untuk menganggur terlebih dahulu demi mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan tingkatan keahliannya dan posisi pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya.

Di Kalimantan Utara, apabila dibandingkan dengan Februari 2020 dan Agustus 2020, tingkat pengangguran perguruan tinggi meningkat signifikan di bulan Februari 2021 yaitu menjadi 10,09 persen. Terpaksa menganggur demi untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak sesuai dengan ijazah yang dimiliki. (*)

*) Penulis adalah Statistisi Pertama Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Kalimantan Utara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah

About the author

Koran Kaltara

1 Comment

Click here to post a comment