Ruang Publik

Terjebak di Zona Nyaman

  • Oleh: Anita Purnamasari, S. Pd.

TAK dipungkiri, saat ingin mencoba sesuatu yang baru, selalu ada rasa ragu dan takut yang membuat saya enggan melangkah. Hingga akhirnya di suatu titik, saya merasa bahwa hari-hari yang telah saya jalani hanyalah terfokus pada tugas sekolah, mengajar dan rutinitas yang monoton.

Tak pelak, ini menimbulkan perasaan jenuh dan berkurangnya makna hidup, yang akhirnya berdampak pula pada bagaimana saya menjalankan tugas profesional sebagai seorang guru. Takut mencoba sesuatu yang baru adalah definisi sederhana dari kalimat ‘terjebak di zona nyaman’. Hal itu terjadi bukan tanpa alasan.

Ada beberapa hal yang menyebabkan pola pikir semacam itu. Pertama ialah wawasan yang statis. Merasa sudah cukup dengan ilmu yang diperoleh saat sekolah atau kuliah akhirnya menyebabkan wawasan kita tidak berkembang atau statis. Padahal ilmu pengetahuan itu sifatnya terus berkembang seiring waktu.

Saya pun pernah mengalami hal tersebut. Itulah yang menjadikan saya pribadi yang kurang dinamis dalam menghadapi perubahan. Membaca buku belumlah menjadi kebiasaan dan pengembangan diri/ pelatihan guru  saya lakukan tanpa ada penerapan dalam konteks nyata.

Kedua adalah tidak kreatif, apalagi inovatif. Kreatif dan inovatif seharusnya dimiliki oleh setiap guru, terlebih dalam merekayasa pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tidak cenderung monoton atau membosankan. Namun, terkadang saya mengabaikan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran ini.

Apa yang terjadi? Tentu saja pembelajaran terkesan sangat klasik dan sederhana. Padahal, di era teknologi digital seperti sekarang, banyak akses yang memungkinkan pembelajaran menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Ketiga yaitu gagap teknologi. Tak sedikit guru yang masih gagap teknologi di zaman dimana perkembangan teknologi terjadi begitu cepat. Seyogianya perkembangan teknologi, jika dimanfaatkan dengan baik justru akan mempermudah tugas guru.

Penggunaan HP, laptop dan media lainnya belum dianggap penting sebagai pendukung pembelajaran. Kita masih menjumpai guru yang mengajar dengan menyuruh siswa menyalin catatan di papan tulis. Setiap hari siswa hanya diberi ceramah selanjutnya disuruh mengerjakan soal-soal.

Saya pun masih menilai tugas siswa dari tumpukan buku tugas di atas meja. Aktivitas ini tentu akan menyita lebih banyak waktu karena penilaian harus dilakukan saat berada di sekolah. Padahal dengan menggunakan teknologi, guru dapat mendesain pembelajaran, materi, evaluasi dan melakukan penilaian dari manapun. Bekerja menjadi jauh lebih efektif dan efisien.

Terkadang situasi yang mendesak kita untuk berubah. Pandemi Covid-19 yang tiba-tiba datang dan mengguncang segala tatanan yang sudah terbangun lama, juga mengubah wajah pendidikan. Kegiatan sekolah yang biasanya berlangsung dengan moda tatap muka dan interaksi langsung dua arah, kini berjalan sebaliknya. Perubahan mendadak inilah yang membuat banyak siswa dan guru gagap beradaptasi. Persoalan kian runyam karena selama ini banyak guru yang belum mengoptimalkan teknologi dalam mengajar.

Apakah guru dan siswa akan tetap bertahan pada pola lama? Tentu saja tidak. Kondisi ini telah memaksa semua pihak untuk keluar dari zona nyaman. Dan kemudian melakukan adaptasi dan berinovasi untuk menciptakan cara kerja baru. Apa yang seharusnya dilakukan? Untuk keluar dari zona nyaman, guru harus berusaha menaklukkan ketakutan dan tantangan yang ada. Penulis menawarkan tiga cara untuk keluar dari jebakan zona nyaman, yaitu:

Miliki Wawasan Dinamis

Terkait dengan wawasan yang statis, guru harus meningkatkan budaya mau belajar dan literasi. Guru perlu banyak membaca buku guna menambah wawasan menjadi lebih dinamis. Apalagi sekarang ini, langkah siswa sudah lebih jauh cepat dari sang guru. Siswa akan lebih senang menerima hal baru yang disampaikan guru dari hasil membaca.

Dengan kebiasaan itu, guru akan terlihat ‘up to date’ di mata siswanya. Upaya lebih lanjut adalah menulis artikel, karya ilmiah, bahkan menulis modul/ buku sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. Seorang guru yang aktif berliterasi tentu akan menjadi contoh yang baik untuk siswa. Sebaliknya, guru yang hanya memberi pelajaran menulis, namun belum pernah menulis, tentu kurang meninggalkan ‘kesan’ bagi siswanya.

Kegiatan menulis ini dapat kita awali dari hal sederhana. Saya, misalnya, mengawali belajar menulis dengan menyusun modul pelajaran untuk digunakan siswa. Modul tersebut saya manfaatkan sebagai bahan penunjang literasi di kelas matematika. Bagi saya, literasi tidak sebatas kegiatan membaca dan menulis, namun aktivitas mengembangkan kegiatan bernalar. Oleh karenanya, sangat penting diasah di setiap mata pelajaran.

Kreatif dan Inovatif

Masuk kelas, mengajar, keluar kelas dan begitu terus selanjutnya. Hal ini tanpa sadar akan membuat kita sebagai guru yang kesulitan untuk mengembangkan kreativitas, terutama dalam mendesain pembelajaran. Agar hal itu tidak terjadi, guru perlu belajar dan mengembangkan diri sehingga bisa menciptakan pembelajaran yang lebih baik dan menarik bagi siswa.

Guru kreatif mampu menyusun langkah-langkah pembelajaran sesuai dengan kebutuhan materi dan keinginannya. Contohnya, pada kegiatan apersepsi, guru dapat menayangkan gambar atau video untuk memancing keingintahuan siswa. Dalam menyajikan materi pelajaran, guru dapat menggunakan presentasi (powerpoint) dengan tampilan yang menarik.

Sedangkan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang dibahas, guru bisa memberikan kuis/ evaluasi. Dan di bagian penutup, guru dapat meminta siswa untuk memberikan kesimpulan dari pembelajaran yang dilakukan.

Sementara untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran yang dilakukan, guru perlu melakukan refleksi diri dengan meminta masukan dari siswa. Dari refleksi tersebutlah guru memetakan masalah dan solusi apa yang akan dilakukan untuk mengatasinya.

Guru juga harus berani menentukan target pengembangan diri. Mengikuti diklat/ pelatihan, sharing dengan teman sejawat , dan tidak gengsi untuk belajar dari orang lain.

Melek Teknologi

Digitalisasi pendidikan seharusnya menjadi jawaban guna memacu peningkatan kualitas pendidikan. Saat ini, hampir semua guru dan siswa menggunakan media sosial. Selain sebagai media komunikasi, media sosial bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran. Guru dapat mulai memanfaatkan Facebook dan Instagram sebagai media belajar. Tentu siswa akan senang karena sesuai dengan zaman yang mereka geluti.

Mengambil hikmah di masa pandemi,  guru telah melakukan berbagai upaya dalam menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui media Group Whatsapp, Group Telegram,  Google ClassroomMicrosoft Form, Microsoft Teams, Padlet, Rumah Belajar dan aplikasi belajar online lainnya.

Dalam pembelajaran matematika, saya mengolaborasikan pembelajaran Whatsapp dan Telegram untuk mengirimkan materi pembelajaran, link evaluasi dan video pembelajaran, serta melaksanakan proses pembimbingan dan pendampingan kepada siswa. Microsoft form dan liveworksheet saya gunakan dalam membuat kuis atau evaluasi. Sedangkan Microsoft Teams untuk melakukan video conference sebagai pengganti tatap muka, penugasan dan penilaian. Dengan demikian, siswa lebih mudah mengakses dan melakukan perbaikan/ remedial jika diperlukan.

Namun, PJJ bukan tanpa kendala karena tidak semua siswa memiliki perangkat yang dibutuhkan, paket data dan jaringan internet yang memadai juga menjadi kendala. Untuk itu, guru perlu memiliki rencana cadangan sehingga seluruh siswa tetap mengikuti pembelajaran.

Seyogianya guru adalah model. Seperti akronim dalam bahasa Jawa digugu lan ditiru, yang artinya dipercaya dan diteladani. Jika kita menghendaki siswa berkembang dengan baik maka guru perlu menjadi contoh. Para siswa tidak hanya meniru bagaimana menyelesaikan soal-soal akademis, namun akan meniru pula bagaimana sikap dan karakter guru.

Tentunya guru perlu keluar dari jebakan zona nyaman. Guru tak harus menguasai teknologi yang terlalu rumit, cukup melalui media pembelajaran sederhana yang mudah diakses dan mampu dipahami siswa. Namun, kreativitas guru diperlukan untuk bisa menyampaikan materi ajar dengan lebih menarik sehingga pembelajaran lebih bermakna. Mari sama-sama kita mencoba. Maju bersama hebat semua. (*)

*) Penulis adalah Guru Matematika SMAN 1 Nunukan

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah