Ruang Publik

Tantangan Kalimantan Utara Menuju Sentra Produksi Padi

  • Oleh: Ratih Nirahana Sari, SST

PENYIAPAN pemindahan ibukota baru ke wilayah administratif Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur telah dilakukan di berbagai sektor. Pada sektor ketahanan pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi pengembangan kawasan penyangga mandiri pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat ibu kota negara (IKN) yang baru.

Kementerian Pertanian telah memetakan 12 kabupaten di Kalimantan yang potensi menjadi penyangga pangan, dimana tiga di antaranya merupakan kabupaten di Kalimantan Utara. Tiga kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bulungan, Malinau, dan Nunukan. Ketiga kabupaten tersebut memang dikenal sebagai sentra produksi padi di Provinsi Kalimantan Utara, namun tentunya diperlukan peningkatan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan di IKN yang baru.

Uraian ini berusaha mengidentifikasi seberapa besar potensi produksi padi di Kalimantan Utara dan tantangan yang dihadapi Kalimantan Utara untuk menjadi Kawasan penyangga pangan IKN.

Dalam mempersiapkan strategi pengembangan kawasan penyangga mandiri pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat ibu kota negara (IKN), provinsi Kalimantan utara tidak sendiri terdapat provinsi lain diantaranya Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur andil dalam penyiapan strategi ini. Beberapa indikator yang dapat menggambarkan potensi padi antara lain adalah luas panen padi.

Berdasarkan survei KSA (Kerangka Sampel Area) pada tahun 2020 luas panen padi di Kalimantan utara 11.605 Ha, mengalami peningkatan sebesar 2,6 persen dibandingkan tahun 2019. Jika dibandingkan dengan luas panen padi provinsi lain di Pulau Kalimantan, luas panen padi di Kalimantan Utara adalah yang terkecil. Luas panen padi terbesar terdapat pada Kalimantan selatan sebesar 356.246 ha, diikuti dengan Kalimantan Barat sebesar 290.048 ha, Kalimantan Tengah sebesar 146.145 ha, dan Kalimantan Timur sebesar 69.708 ha.

Masih rendahnya penggunaan lahan sawah untuk padi dapat menjadi potensi bagi Kalimantan Utara dalam meningkatkan produksi kedepannya sebagai penyangga pangan IKN. Dilihat per wilayah, kabupaten/kota yang memberikan kontribusi luas panen terbesar di Kalimantan Utara pada tahun 2020 adalah Bulungan, Nunukan dan Malinau.

Seiring dengan peningkatan luas panen padi di tahun 2020. Perkembangan produksi padi di Kalimantan Utara mengalami peningkatan sebesar 20,57 persen yaitu dari 33.357 ton GKG (Gabah Kering Giling) menjadi 40.221 ton GKG.

Dari lima provinsi di Kalimantan, perkembangan produksi padi paling tinggi terjadi di Kalimantan Utara, sedangkan tiga provinsi lainnya yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat mengalami penurunan produksi padi. Meskipun luas panen padi di Kalimantan Utara paling kecil namun produktivitas padi yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Hal ini merupakan sinyal positif Kalimantan Utara yang memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan dalam menyediakan kebutuhan pangan.

Dilihat per wilayah, kabupaten/kota dengan produksi padi yang relatif besar yaitu Nunukan, Bulungan, dan Malinau. Ketiga kabupaten  yang dipetakan Kementan sebagai kabupaten  penyangga pangan IKN ini menyumbang lebih dari 90 persen produksi padi di Kalimantan Utara.

Selanjutnya, indikator lain yang menggambarkan tantangan dan kesiapan suatu provinsi dalam mempersiapkan pengembangan kawasan pangan adalah kepemilikan lahan.

Berdasarkan hasil Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kalimantan Utara sebanyak 42.774 rumah tangga dengan jumlah petani sebanyak 70.157 jiwa. Sebagian besar usaha rumah tangga tersebut merupakan petani gurem yaitu sebesar 22 persen.

Petani gurem ialah rumah tangga pertanian pengguna lahan yang menguasai lahan kurang dari 0,5 Ha. Tingginya jumlah petani gurem di Kalimantan Utara mengindikasikan bahwa rata-rata hasil pertanian yang diperoleh cukup sedikit bagi rumah tangga pertanian tersebut karena hasil pertanian hanya dapat dikonsumsi sendiri dan tidak dapat diperjual belikan. Hal ini tentu saja dapat memacu Kalimantan Utara dalam menghadapi tantangan tercapainya tujuan untuk menjadi dilayah potensi pangan di IKN yang baru.

Selain itu, kondisi demografi petani merupakan tantangan lain dalam perkembangan pertanian di Kalimantan Utara. Berdasarkan hasil Survei Ongkos Usaha Tanaman Pangan (SOUT) 2017 menunjukkan bahwa petani di Kalimantan Utara didominasi oleh kelompok umur 45 tahun ke atas.

Hal ini merupakan kondisi yang kurang menguntungkan karena tidak adanya regenerasi petani muda yang lebih mampu menyerap ilmu dan memanfaatkan teknologi. Hal ini dibuktikan dengan tingginya petani kelompok umur diatas 45 tahun ternyata pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas masih rendah, hanya 33,95 persen yang memanfaatkan teknologi dan sisanya 66,05 persen rumah tangga tidak memanfaatkan penggunaan teknologi.

Bahkan, persentase petani tua pada 2018 cenderung meningkat dibandingkan 2014. Hal ini mengindikasikan adanya kecenderungan semakin sedikitnya generasi muda yang tertarik untuk terjun langsung ke ranah pertanian.

Selain didominasi dengan jumlah petani kelompok usia tua, Sebagian besar petani padi di Kalimantan Utara masih berpendidikan rendah. Bahkan, proporsi tamatan SD ke bawah semakin meningkat. Sebanyak 59,70 persen petani padi sawah dan 62,76 persen petani padi ladang hanya menamatkan pendidikan maksimal SD.

Hal tersebut merupakan tantangan bagi pemerintah Kalimantan Utara untuk menarik perhatian kamu muda dalam menjalankan usaha pertanian. Kaum mud aini tentunya dapat lebih mudah dalam menangkap ilmu baru dan menerapkan teknologi dalam modernisasi pertanian.

Provinsi Kalimantan Utara harus melakukan persiapan ekstra untuk dapat menjadi kawasan penyangga pangan IKN, baik dari sisi penggunaan lahan sawah dan kualitas SDM di bidang pertanian. Pemerintah Kalimantan Utara bersama dengan Kementerian Pertanian perlu melakukan berbagai strategi untuk menuntaskan tantangan, ini di antaranya adalah memanfaatkan lahan pertanian untuk produksi padi, meningkatkan akses lahan untuk petani dengan mengalokasikan lahan kolektif desa untuk petani muda dan petani gurem sehingga akses terhadap lahan lebih luas.

Selain itu, peningkatan teknologi modern seperti traktor dengan memberikan bantuan kepada kelompok petani dan pemberian bantuan bibit unggul, pupuk, dan penanggulangan hama untuk meningkatkan produktivitas padi. (*)

*) Penulis adalah Pejabat Fungsional Statistisi di BPS Provinsi Kalimantan Utara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah