Ruang Publik

Tahun 2021, Harus Optimis atau Pesimis?

  • Oleh: Iman Santosa

TELAH kita ketahui dan alami bersama, bahwa tahun 2020 adalah sebuah tahun yang luar biasa. Di awal kita memasuki tahun lalu dengan sebuah optimisme, sampai kemudian Covid-19 mengubah segalanya. Dari sisi ekonomi, sebelum terjadinya pandemi economic outlook seluruh dunia diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,3 persen. Beberapa hal yang menjadi dasar optimisme tersebut adalah karena pada saat itu muncul harapan antara Amerika dan RRT melakukan trade deal tahap pertama, serta Brexit diperkirakan dapat diselesaikan secara relatif lebih baik.

Pada bulan Maret, pada saat WHO menyampaikan bahwa Covid-19 menjadi sebuah pandemic global, maka dunia dilanda kepanikan. Capital outflow terlihat terjadi di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Ditambah lagi dengan gejolak harga berbagai komoditas, bahkan harga minyak dunia pun sempat mencapai negative price pada bulan April yang lalu.

Maka dengan kondisi ekonomi yang bergejolak, dimana semua negara dalam merespons pandemi harus menutup semua maupun sebagian wilayahnya dalam bentuk total lockdown atau pembatasan berskala besar, ekonomi pada saat itu sempat menjadi terhenti. Economic outlook yang tadinya diperkirakan tumbuh 3,3 persen direvisi menjadi minus 3 persen. Bahkan pada Oktober, IMF merevisi kembali menjadi minus 4,4 persen.

Di sisi lain, instrumen fiskal yang bekerja luar biasa keras pada tahun 2020 menyebabkan defisit yang melonjak di semua negara. Indonesia pun melakukan deficit financing. Outlook nya pada tahun 2020 APBN kita mengalami defisit sebesar 6,09 persen.

Angka ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan defisit di berbagai negara. Negara-negara maju bahkan melakukan fiscal countercyclical yang luar biasa besar. Bahkan negara-negara ASEAN juga mengalami defisit yang lebih dalam dari Indonesia.

Dengan adanya defisit yang tinggi, tentunya utang negara-negara mengalami kenaikan. Di negara maju utang bahkan sudah mendekati 100 persen. Bahkan, Amerika Serikat telah mencapai 131 persen dari PDB.

Indonesia masih pada kisaran 38 persen dari PDB. Namun kita tetap harus berhati-hati, karena instrumen fiskal bekerja ekstra ordinary pada masa pandemi ini dan harus segera dikonsolidasikan dan disehatkan kembali.

Dengat outlook economic dunia yang mengalami negatif, maka perekonomian kita juga mengalami kondisi yang tertekan dari sisi permintaan maupun dari sisi produksi, khususnya pada kuartal pertama dan kedua tahun 2020.

Dari sisi permintaan kebijakan PSBB menyebabkan konsumsi dan investasi mengalami penurunan yang sangat tajam. Begitu pula dengan perdagangan dunia yang melemah, ekspor pun mengalami kontraksi.

Pada kuartal ketiga sudah mulai terlihat pemulihan ekonomi, walaupun komponen aggregate demands masih dalam suasana tekanan yang cukup signifikan. Dari sisi konsumsi, investasi, ekspor dan instrumen pemerintah menggunakan instrumen APBN  serta kebijakan fiskal melalui sebuah kerja yang sangat keras untuk memulihkan perekonomian dan melindungi masyarakat dari tekanan.

Pada kuartal keempat terdapat trend yang lebih baik dibandingkan dengan kuartal kedua dan ketiga. Yaitu ekonomi kita meskipun tetap pada kontraksi, namun angkanya jauh lebih landai yaitu  minus 2,9 persen hingga minus 0,9 persen.

Tahun 2020 meskipun dalam tekanan yang luar biasa, APBN telah ‘melaksanakan tugasnya’ dengan sangat baik. Pertumbuhan dari penerimaan negara pun sebenarnya tumbuh dalam zona negatif, karena seluruh sektor usaha dan wajib pajak mengalami tekanan.

Penerimaan negara mengalami kontraksi minus 16,7 persen.  Namun pemerintah terus melakukan kebijakan untuk menangani Covid- 19, melindungi rakyat termasuk dunia usaha termasuk UMKM sehingga belanja pemerintah meningkat 12,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan belanja pemerintah pusat tumbuh hingga 22,1 persen. Inilah yang telah mendukung pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2020.

Itu adalah sepotong episode yang terjadi pada tahun 2020 dimana pandemi mengubah segalanya, dan tentu mengakibatkan respons kebijakan yang beragam di seluruh dunia. Menjelang akhir 2020 banyak negara mulai memiliki harapan dengan ditemukannya vaksin Covid- 19. Beberapa negara bahkan sudah mulai melakukan vaksinasi pada bulan Desember.

Tahun 2021 kita masuki dengan sebuah pemahaman bahwa Covid- 19 belum sepenuhnya dikendalikan. Bahkan di beberapa negara terjadi pengetatan kembali, karena Covid- 19 meningkat kembali sangat tinggi di beberapa negara Eropa, Amerika Serikat bahkan di negara Asia seperti  RRT dan Jepang.

Kondisi ekonomi yang tertekan sangat dalam akibat Covid 19 membutuhkan respons kebijakan yang luar biasa. Seluruh dunia menggunakan instrumen APBN atau kebijakan fiskal yang dikombinasikan dengan kebijakan moneter serta kebijakan sektor keuangan, untuk melakukan pertolongan atau menahan merosotnya pertumbuhan ekonomi akibat pandemi.

Dengan adanya perekonomian yang mengalami gejolak, tantangan ke depan adalah bagaimana memulihkannya. Vaksin menjadi salah satu harapan yang sangat besar, meskipun tidak berarti bahwa kita dapat mengabaikan disiplin kesehatan.

Vaksinasi menjadi game changer, sebuah istilah yang sering muncul akhir-akhir ini. Banyak negara mengumumkan akan melaksanakan program vaksinasi gratis baik pada negara-negara besar maupun negara yang berpenduduk relatif kecil juga melakukan kebijakan yang sama.

Presiden pada tanggal 16 Desember 2020 mengumumkan bahwa Indonesia akan melakukan kebijakan vaksinasi gratis. Dan pada tanggal 13 Januari 2021 kemarin, bahkan Presiden sudah memberikan contoh sebagai penerima pertama pemberian vaksin Covid- 19 yang kemudian diikuti dengan pejabat serta beberapa tokoh lainnya. Dan targetnya vaksinasi akan diberikan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan harapan vaksinasi akan berhasil sehingga dapat memunculkan apa yang disebut herd imunity.

Keyakinan dan harapan ini sangat penting pada saat memasuki tahun 2021. Pada saat yang sama dengan pemulihan bertahap kita juga melihat industri manufaktur juga mulai menunjukkan pemulihan.

Volatility di pasar keuangan mulai stabil dan membaik, begitu pula nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Modal asing yang yang tadinya mengalami outflowing, pada kuartal terakhir 2020 sampai dengan Januari 2021 mengalami positive inflow. Dan ini mendukung stabilitas serta keyakinan terhadap pemulihan ekonomi pada tahun 2021.

Pemerintah meyakini bahwa stabilitas bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya.  Semuanya harus dijaga termasuk stabilitas harga-harga yang kita lihat ada kecenderungan sedikit menaik pada komoditas pangan. Meskipun untuk komoditas lain masih lemah sejalan dengan permintaan yang masih perlu dipulihkan.

APBN sebagai instrumen fiskal yang sangat penting dalam memulihkan dan menarik kembali perekonomian di negara kita agar kembali ke zona positif memerankan kembali perannya yang luar biasa penting.

Kembali lagi ke tahun sebelumnya. Secara umum performance APBN 2020 relatif baik dan terus dijaga agar tetap aman dan sustainable. APBN 2020 juga memiliki program yang sangat penting yang dikenal sebagai program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Capaian dari PEN yang meliputi bidang kesehatan, perlindungan sosial, dukungan UMKM, dukungan usaha, insentif usaha dan dukungan untuk sektoral serta pemerintah daerah mencapai 83,4 persen atau 579,78 triliun dari yang tadinya dianggarkan 695,2 triliun. Untuk bidang kesehatan terdapat sisa anggaran yang dicadangkan untuk dijadikan anggaran kesehatan tahun 2021, terutama untuk mendukung program vaksinasi gratis.

Perlindungan sosial, realisasi untuk KL dan sektoral termasuk sektor wisata, serta UMKM dan insentif usaha mendapat dukungan yang luar biasa. Program-program perlindungan sosial yang cukup besar mampu untuk menahan daya beli dan kemampuan konsumsi terutama untuk kelompok  masyarakat paling bawah.

Kita juga melihat dukungan pemerintah untuk menciptakan bantalan bagi UMKM dan mereka yang mengalami PHK. Buruh serta karyawan tetap mengalami penurunan jumlah sebesar 5,6 juta orang mendapatkan bantuan dalam bentuk dukungan usaha mandiri, maupun sektor-sektor usaha kecil menengah. Inilah yang digunakan oleh pemerintah dari APBN untuk mendukung masyarakat yang mengalami pukulan berat akibat pandemi.

APBN merupakan instrumen ekstra ordinary dan sekaligus mendukung recovering dan recovery dari ekonomi.  Untuk tahun 2021 APBN mendukung seluruh upaya reformasi untuk mendukung kembali perekonomian Indonesia. Sehingga fiscal policy tahun 2021  memang mencari keseimbangan antara sisi ekspansi untuk mendukung pemulihan ekonomi,  melanjutkan program reformasi, serta konsolidasi untuk mengembalikan kesehatannya.

Kebijakan fiskal ini tentu harus tetap dilakukan beriringan dengan kebijakan lain, yaitu kebijakan moneter, sektor keuangan dan reformasi. Postur APBN 2021 meliputi pendapatan negara sebesar 1.743 triliun dan belanja negara yang cukup besar yaitu 2.750 triliun.

Dengan postur tersebut, defisit pada tahun 2021 adalah 5,7 persen dari PDB, dan ini akan dipenuhi dengan pembiayaan. Kementerian Keuangan bersama dengan Bank Indonesia mengawal proses pemulihan ekonomi ini yang disebut burden sharing/kerjasama antara fiskal dan moneter dilakukan secara erat dan bersama-sama.

Kebijakan strategis tahun 2021, dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi sekaligus membangun fondasi ekonomi ke depan yang makin baik, terdiri dari kebijakan yang berpusat pada pembangunan SDM agar makin baik kualitasnya. Yaitu sektor pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial serta mendorong pembangunan kembali infrastruktur secara berkelanjutan, termasuk infrastruktur jalan dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Sektor pertanian dan pangan juga merupakan sektor yang sangat penting dan harus dijaga karena perubahan musim akan menimbulkan gejolak dan tantangan yang tidak mudah. Begitu pula sektor pariwisata yang mendapatkan pukulan sangat besar, akan terus menjadi perhatian untuk segera dipulihkan.

Pelaksanaan APBN tahun ini memang masih akan menghadapi ketidakpastian, karena pada bulan Januari ini meskipun terdapat optimisme dan harapan pemulihan, kita juga melihat Covid- 19 melonjak sesudah liburan panjang akhir tahun.

Kita perlu tetap harus menjaga disiplin kesehatan. Pemerintah terus merumuskan kebijakan ekonomi,  dan pada saat yang sama tetap waspada serta memberikan prioritas agar pandemi bisa ditangani dan dikendalikan.

Perekonomian global juga masih menghadapi ketidakpastian. Terpilihnya presiden baru Amerika Serikat tentu merupakan sebuah harapan untuk dalam memberikan kepastian dan pemulihan perekonomian dunia.

Demikian juga dengan RRT yang menunjukkan pemulihan ekonomi meskipun masih tumbuh di bawah 3 persen. Kita berharap global ekonomi akan jauh lebih pasti, namun kita tetap menghadapi ketidakpastian yaitu Covid- 19 dan climate change.

Penanganan Covid-19 tahun 2021 di negara kita akan memakan anggaran sebesar 61,8 triliun. Dan ini pun masih akan dapat berubah di tengah kondisi ketidakpastian terhadap peningkatan jumlah kasus dan juga keinginan pemerintah untuk mengamankan suplai jumlah vaksin.

Kita berharap seluruh daerah di Indonesia terutama daerah-daerah yang memiliki jumlah penderita Covid-19 paling tinggi akan segera mengombinasikan vaksinasi dan disiplin kesehatan.

Maka apabila hal tersebut dilakukan secara terstruktur diharapkan kondisi kita diharapkan akan pulih kembali, karena masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas dan mobilitas yang berarti pula kegiatan konsumsi, investasi maupun ekspor akan dapat meningkat.

Vaksinasi akan terus dikawal dengan tata kelola yang baik dan landasan hukum yang tepat, sehingga tetap akuntabel. Program-program perlindungan sosial tahun 2021 ditujukan untuk membantu masyarakat yang masih mengalami transisi serta tekanan yang belum sepenuhnya pulih, baik dalam bentuk bantuan sosial, maupun dalam bentuk bantuan pendidikan bagi anak didik yang tidak mampu berupa beasiswa.

Anggaran infrastruktur juga akan didorong untuk melaksanakan kegiatan yang mengalami penundaan pada tahun 2020. Dan diharapkan akan dapat diselesaikan tahun ini dengat tetap memperhatikan tata kelola yang baik.

Pembangunan TIK diharapkan akan membuat seluruh pelosok wilayah Indonesia  mampu memiliki koneksitas dengan internet. Dengan adanya pandemi ini kita semua menjadi lebih sadar bahwa infrastruktur TIK menjadi komponen yang sangat penting di dalam mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan seperti pendidikan, pekerjaan dan hal-hal lainnya.

Ketahanan  pangan kita akan terus dipacu dalam wujud pembukaan lahan yang baru maupun peningkatan produktivitas dari lahan-lahan yang sudah ada.

Kita memasuki tahun 2021 tetap dengan optimisme yang tinggi, karena kita paling  tidak telah melewati tahun 2020 yang luar biasa dan penuh tekanan. Pertumbuhan negara kita tetap lebih baik dibandingkan negara ASEAN dan G20, kecuali beberapa negara. Fiscal tools kita tetap terjaga secara hati-hati dan prudent. Inilah yang akan terus menjadi landasan mengapa optimis, walaupun di sisi lain kita tidak boleh lepas dari kewaspadaan yang tinggi.

Ketidakpastian tidak boleh menyebabkan kita menjadi pesimis. Ketidakpastian seharusnya membuat kewaspadaan kita meningkat dan akan terus  membuat selalu waspada di dalam memformulasikan kebijakan-kebijakan  yang tepat, fleksibel,  lincah,  namun tetap akuntabel.

Pemerintah akan terus mendorong reformasi sehingga Indonesia tetap menjalankan proses pembangunan meskipun selalu dihadapkan  pada berbagai gejolak, shock ataupun krisis seperti pandemi ini.

Berbagai langkah optimis dan strategis oleh pemerintah akan menjadi instrumen yang melengkapi dalam pemulihan ekonomi sebagai pelengkap upaya pemerintah dengan tetap meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian.

Pemerintah juga tetap memberikan berbagai intensif fiscal policy termasuk perpajakan, karena dunia usaha membutuhkan hal tersebut sebagai sebuah proses pemulihan awal. Selain itu  perlu juga didukung berbagai industri-industri yang memiliki peran strategis sehingga terbangun industrialisasi yang makin kuat.

Oleh karena itu keseimbangan antara pengumpulan antara penerimaan pajak dan tujuan untuk memberikan insentif dan dukungan usaha akan terus dilakukan.

Itulah yang menjadi alasan bagi kita  semua untuk terus optimis pada tahun 2021. Optimisme kita di dalam menghadapi kondisi perekonomian dilandaskan pada rasa percaya bahwa pemerintah akan terus menggunakan seluruh instrumen-instrumen kebijakan  secara tepat waktu, fleksibel, adaptif namun tetap  transparan dan akuntabel.

Dan yang paling penting adalah seluruh pemangku kepentingan harus bekerja sama dan berkolaborasi untuk bersama-sama memulihkan ekonomi Indonesia memulihkan kesejahteraan masyarakat serta mengatasi pandemi Covid- 19. Semua itu harus tetap dilakukan secara disiplin. Terakhir, mari kita semua hadapi tahun 2021 dengan optimisme dan penuh sikap kewaspadaan. (*)

*) Penulis adalah Kepala Bagian Umum Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Utara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment