Nunukan

Status Tanggap Darurat di Sembakung Berakhir

Penutupan tanggap darurat banjir di Sembakung. (Foto: Istimewa)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Setelah berjalan tujuh hari, status tanggap darurat bencana banjir di Kecamatan Sembakung akhirnya ditutup, Senin (25/1/2021) siang.

Kasubbid Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan Hasan menyampaikan meski masa status tanggap darurat telah berakhir, tetapi penyaluran bantuan ke warga terdampak banjir tetap berjalan.

“Jadi gini, sesuai Keputusan Bupati Nunukan, status tanggap darurat ditetapkan selama 7 hari sejak 19 Januari hingga 25 Januari. Jadi, hari ini (kemarin) secara resmi pos tanggap darurat dinyatakan ditutup dan status tanggap darurat dicabut,” ungkapnya kepada Koran Kaltara, Senin (25/1/2021).

Namun, kata dia, kegiatan bersifat darurat sudah disiapkan. Termasuk, penerimaan dan distribusi bantuan serta posko masih tetap aktif. “Termasuk teman-teman kita di Sembakung tetap aktif melaporkan kondisi di sana, pagi hingga malam hari,” ujarnya.

Dia mengatakan, penyaluran bantuan tahap pertama di masa tanggap darurat sekitar 17 ton beras, ratusan dus mi instan, minyak, gula dan berbagai jenis sembako.

“Bantuan beras dari Pemkab Nunukan ada 9 ton beras dan dibantu beberapa perusahaan swasta dan organisasi serta masyarakat,” jelasnya.

Dia menjelaskan semua stok bantuan sudah disalurkan ke seluruh warga di 8 desa terdampak banjir Sembakung. Dari 8 desa ini terdata 661 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 2.752 jiwa. “Tahap pertama sudah selesai. Sekarang kita persiapakan tahap kedua,” bebernya.

Menurut dia, jumlah bantuan per KK sesuai ketetapan pemerintah sebanyak 20 kg beras dan sembako lainnya. “Nah, tahap pertama diberikan 10 kg. Dan, tahap kedua nanti kita berikan lagi 10 kg,” jelasnya.

Dia mengatakan, penyaluran bantuan menggunakan dua jalur. Yakni, jalur sungai dan darat. Jalur sungai untuk masyarakat di pesisir atau bantaran sungai. “Kita gunakan speedboat dan perahu ketinting. Kalau darat kita gunakan truk dan mobil doubel kabin. Memang, hambatan pertama kita, yakni kesulitan mencari BBM solar. Tapi, kita berkomunikasi dengan perusahaan terdekat, alhamdulillah ada bantuan sedikit,” ujarnya.

Dia mengaku masih belum bisa menebak ketinggian air. Karena, permukaan air sungai masih pasang surut. Kondisi terakhir pada Senin (25/1) pagi, air masih berada di 3,50 meter. Artinya, 50 cm di atas ketinggian normal 3 meter. Dibandingkan dengan kondisi air saat pertama kali melanda cukup tinggi yakni mencapai 4 meter lebih.

“Tapi tadi sudah 3,40 meter. Ini masih jauh dari pemukiman. Beda kalau 4,2 meter ke atas, itu sudah masuk pemukiman warga. Sebenarnya, kalau air ini, kemarin sempat di posisi terendah 2,1 meter. Sangat jauh surutnya. Namun naik lagi, 2,4 meter, naik 2,7 meter, naik 3,2 meter, dan 3,4 meter,” jelasnya.

Menurut dia, hal ini terjadi lantaran kondisi hujan masih terjadi di wilayah Sembakung. Bahkan, di hulu sungai di wilayah Malaysia masih musim penghujan. “Informasinya, anak-anak sungai di hulu juga air naik. Jadi, mudah-mudahan air di Sembakung tidak naik lagi,” kata dia. (*)

Reporter: Asrin
Editor: Sobirin

Mari cegah penyebaran Covid-19 dengan 5 M;

  • Memakai masker
  • Mencuci tangan
  • Menjaga jarak
  • Mengurangi mobilitas dan interaksi
  • Menghindari kerumunan