Pendidikan

Standar Pendidikan Kaltara di Bawah Nasional

Tampak aktivitas belajar yang ada di Bulungan, Kaltara. (Foto: Ikke Julianti/ Koran Kaltara)
TANJUNG SELOR, Koran Kaltara- Standar mutu pendidikan di Kaltara masih di bawah nasional. Selama ini pemerataan pendidikan di Kaltara menjadi salah satu program yang dilakukan. Sementara mutu pendidikan masih jauh dari kata standar. Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kalimantan Utara, Jarwoko menyebutkan, dilihat dari pemenuhan delapan jenis penilaian standar nasional mutu pendidikan, Provinsi…

TANJUNG SELOR, Koran Kaltara– Standar mutu pendidikan di Kaltara masih di bawah nasional. Selama ini pemerataan pendidikan di Kaltara menjadi salah satu program yang dilakukan. Sementara mutu pendidikan masih jauh dari kata standar.

Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Kalimantan Utara, Jarwoko menyebutkan, dilihat dari pemenuhan delapan jenis penilaian standar nasional mutu pendidikan, Provinsi Kalimantan Utara hanya memenuhi empat hingga enam jenis penilaian.

“Kita belum memenuhi 8 standar nasional. Hasil pemetaannya seperti itu,” ungkapnya, Jumat (4/1/2019).

Pemenuhan mutu pendidikan didukung dengan data jumlah sekolah yang ada di Kaltara. Dengan begitu, peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan secara merata. Dari jumlah sekolah di Kaltara, mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK masih banyak sekolah yang perlu mendapatkan perhatian.

Dari hasil Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP) di Kaltara, Kabupaten Malinau menjadi kabupaten yang kurang aktif mengirimkan data mutu pendidikan. Sementara Kota Tarakan telah terdata 100 persen di LPMP Kaltara.

“ Total Sekolah di Kaltara ada 722. Sementara yang tidak mengirimkan data PMD ada 179 sekolah. Kita masih akan terus mendata seluruh sekolah di Kaltara. Kita minta kerja sama pihak terkait seperti Dinas Pendidikan, pihak sekolah dan lainnya,” kata dia pada Koran Kaltara.

Ia menyebutkan, tidak seluruh sekolah memiliki jaringan internet. Oleh sebab itu, masih banyak sekolah yang belum terdata.

“Kendalanya, ya itu tadi. Masih ada wilayah di Kaltara yang jaringannya susah dan tidak dapat mengirimkan data sekolahnya. Tahun 2019 ini kita akan kejar,” ucapnya.

Tidak hanya itu, ia menilai proses belajar mengajar yang ada di sekolah-sekolah tidak memberikan perkembangan terhadap mutu pendidikan. Ia mengakui, selama ini guru hanya fokus menyampaikan pengetahuan.

Padahal, sebenarnya tugas guru tidak hanya itu. Kata dia, guru membentuk sikap dan perilaku serta mengembangkan keterampilan siswa.

“Sebagai contoh, siswa pintar mengerjakan soal tetapi tidak pintar dalam menjelaskan soal itu pada temannya. Itu namanya keterampilan. Dia punya pengetahuan dan bisa dia sajikan ke orang lain. Anak sekolah itu tidak belajar di sekolah. Maksudnya, dalam proses belajar mengajar mereka tidak didorong untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat,” jelasnya lagi.

Ia menerangkan, guru hanya mendiktekan dan hanya membacakan apa yang ada pada buku. Pesan tersebut tidak dianggap sebagai sebuah konsep pendidikan karena hanya sebuah rutinitas sehari-hari di sekolah.

“Cara pembelajaran saat ini, belum menggunakan fakta untuk membuat suatu gagasan,” terangnya. (*)

Reporter: Ikke Julianti

Editor: Kaharudin