Ekonomi Bisnis

Siasat Pedagang Makanan di Tengah Kenaikan Harga Cabai

Pedagang di pasar tenguyun menuang cabai rawit dari dalam karung. (Foto: Sofyan)

TARAKAN, Koran Kaltara – Dalam sepekan terakhir beberapa komoditas kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan harga, terutama untuk cabai rawit dan bawang merah.

Perubahan harga ini disinyalir akibat mulai menurunnya pasokan dari daerah penghasil di Sulawesi sehingga berdampak pada penjualan di Tarakan.

Jika sebelumnya harga cabai rawit di kisaran Rp80 ribu per kilogram, dalam sepekan terakhir sudah mencapai Rp120 ribu per kilogram.

Harga diprediksi masih akan terus naik jika pasokan tidak kunjung datang, apalagi dalam waktu tidak lama lagi umat Islam akan merayakan Hari Raya Iduladha 1443 Hijriah.

Berdasarkan pantauan Koran Kaltara di pasar Tenguyun atau Bom Panjang pada Senin (20/6/2022) pagi kenaikan tertinggi terjadi pada cabai rawit.

Oleh karena itu para pedagang mengharapkan adanya campur tangan pemerintah supaya menyediakan stok, supaya masyarakat yang beli juga tidak mengeluh.

“Bawang saya lagi kosong, terakhir harga di kisaran Rp65 ribu per kilogram sebelumnya kisaran Rp35 ribu per kilogram. Kalau cabai rawit Rp120 ribu per kilogram, sudah sekitar 1 mingguan ini terjadi kenaikan. Barang-barang ini didatangkan dari Sulawesi,” terang Naumi, salah satu pedagang sembako.

Ditambahkan Maria Sampe, pedagang sembako di pasar Tenguyun, bahwa kenaikan harga karena stok yang berkurang.

Untuk cabai, setiap seminggu sekali ada pasokan dari Sulawesi, tetapi ini telat datang, “Seharusnya Selasa kemarin datang, tetapi belum ada,” ucapnya.

Untuk membeli cabai rawit dari petani lokal juga susah karena stoknya tidak banyak.

Biasanya, harga akan kembali normal setelah ada pasokan yang mencukupi dari Sulawesi. Namun, hingga Senin (20/6) belum ada tanda-tanda tambahan pasokan.

“Minggu ini seharusnya datang, biasanya setiap minggu datang. Mudah-mudahan segera ada solusinya supaya harga kembali normal dan stok mencukupi,” harapnya.

Sementara itu, pembeli mengaku pusing dengan kenaikan beberapa komoditas yang ada di pasar, terutama pedagang yang menjual makanan.

Sepeti warung makan dan lain sebagainya, karena akan mempengaruhi keuntungan yang didapat.

“Kalau cabai pasti beli, setiap hari itu 2 kilogram, kalau harga naik otomatis kita harus berpikir bagaimana jualan tidak rugi. Apalagi kalau pelanggan yang suka pedas, dia pasti minta level paling pedas. Tidak mungkin kalau hanya dikasih lombok hanya 2-3 biji,” terang, Warsito, salah satu pedagang ayam geprek di Tarakan.

Meskipun harga dasar bahan jualannya naik, namun perantau asal Madiun Jawa Timur ini tidak mau menaikkan harga jual porsi dagangannya.

Dirinya hanya menyiasati pemberian bumbu lain atau mengurangi porsi nasi.

“Ya kita akali, karena bagaimanapun juga, harga menjadi salah satu daya tarik pelanggan selain dari rasa. Entah bumbu lain kita ganti atau bagaimana supaya bisa sama-sama untung,” bebernya.

Sedangkan seorang pembeli, Anik Maryati mengaku, dirinya terpaksa mengurangi pembelian jumlah cabai rawit untuk dikonsumsi sehari-hari, jika biasanya tiga hari sekali dirinya membeli setengah kilogram. Kini, Anik hanya beli per ons atau per bungkus.

“Beli bungkusan saja yang Rp5 ribuan atau Rp10 ribuan, ya dapat beberapa biji saja. Mau gimana lagi, orang rumah suka sambel, ya kita bikin porsi sedikit saja yang penting ada,” ucapnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Rifat Munisa

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment