Ekonomi Bisnis

Sektor Tambang Dominasi Perekonomian Malinau

Tampak pertambangan batu bara di Indonesia. (Foto : Ilustrasi/Net)

MALINAU, Koran Kaltara – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malinau tercatat menunjukkan tren yang fluktuatif dalam lima tahun terkahir. Atau dirilis terakhir pada  periode 2015-2019.

Berdasarkan Laporan Perekonomian Kabupaten Malinau Tahun 2019, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Malinau Supriyanto mengatakan, ekonomi Malinau tahun 2019 mampu tumbuh 6,34 persen. Atau mengalami percepatan dibanding capaian tahun 2018 yang tumbuh sebesar 5,74 persen.

“Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha penyediaan listrik dan gas yang tumbuh sebesar 11,60 persen,” ujarnya, Minggu (21/3/2021).

Menurut dia, apabila melihat di periode awal tahun 2015, ekonomi Malinau tumbuh sebesar 9,25 persen. Ini menjadi yang tertinggi dibandingkan tahun  tahun selanjutnya.

“Di 2015 sebenarnya melambat 3,73 persen. Itu terus berlanjut di atas 2016 yang turun menjadi 1,99 persen. Tapi di tahun 2017, perekonomian Malinau bisa tumbuh sebesar 5,99 persen. Atau mengalami percepatan bila dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Supriyanto.

Lanjut dia, pada tahun 2018, kembali terjadi perlambatan. Namun tidak tergolong signifikan.

Fluktuasi pertumbuhan ekonomi disebabkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Seperti tahun 2017, sektor ini mengalami pertumbuhan cukup tinggi yang mempengaruhi perekonomian secara akumulatif.

“Lapangan usaha tersebut merupakan lapangan usaha dengan kontribusi terbesar di Kabupaten Malinau. Sehingga peningkatan produksi pada lapangan usaha ini berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Malinau secara keseluruhan,” paparnya.
Dia menjelaskan,  di sektor pertambangan, pada kurun waktu 2014-2015, pertumbuhan lapangan usaha itu sempat mengalami perlambatan, dari 18,17 persen menjadi 6,40 persen. Sementara tahun 2016, lapangan usaha ini juga mengalami kontraksi 0,91 persen.

“Namun di tahun 2017 lapangan usaha tumbuh ini sebesar 7,79 persen. Pertumbuhan tinggi ini tidak lain disebabkan oleh naiknya Harga Batubara Acuan (HBA) yang cukup signifikan pada tahun 2017 bila dibandingkan dengan tahun 2016,” jelasnya.

Menurut dia, kondisi fluktuatif tergambar pada tahun 2018. Dimana, lapangan usaha ini melambat dengan pertumbuhan 6,05 persen. Namun, tahun 2019 lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami pertumbuhan sebesar 6,41 persen.

“Hal ini disebabkan karena produksi batubara meningkat meskipun HBA menurun. Jadi tren produksi sangat mempengaruhi fluktuasinya. Pada skala yang lebih besar, juga berkontribusi terhadap pertumbuhan akumulatif,” katanya.

Secara umum, kata dia, sektor-sektor lainnya di Kabupaten Malinau, pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mengalami perlambatan. Laju pertumbuhan lapangan usaha ini sebesar 0,61 persen atau menurun jika dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,59 persen.

“Sektor ini mengalami perlambatan dikarenakan produksi tanaman pangan menurun. Serta adanya beberapa kebakaran hutan yang terjadi di beberapa titik,” ungkapnya.

Sementara itu, lapangan usaha konstruksi mengalami percepatan pertumbuhan yaitu 10,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,27 persen. Sektor ini mengalami percepatan yang signifikan dikarenakan banyaknya pembangunan yang dikerjakan pada tahun 2019.

“Pembangunan tersebut meliputi tempat ibadah, puskesmas, gedung sekolah, jalan dan adanya beberapa acara. Seperti Imbaya Ulun Tidung dan Pekan Raya Malinau,” pungkasnya. (*)

Reporter: Ramlan
Editor: Sobirin

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah