Ruang Publik

Rokok dan Jerat Kemiskinan

  • Oleh: M. Nurul Alam Hasyim, SST

MEROKOK merupakan suatu kebiasaan yang dianggap wajar dilakukan masyarakat meskipun kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. World Health Organization (WHO) menyatakan, bahwa sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal setiap tahunnya akibat merokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan tembakau.

Mirisnya, rokok masih menjadi salah satu komoditas primadona yang dikonsumsi masyarakat miskin di Indonesia, termasuk di Provinsi Kalimantan Utara.

Kehadiran rokok di tengah-tengah masyarakat miskin sering dianggap wajar dan cenderung disepelekan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara pada September 2020, rokok kretek filter merupakan komoditas yang memberi sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan makanan Kalimantan Utara dengan persentase sebesar 20,35 persen untuk perkotaan dan 17,97 persen untuk perdesaan.

Pola konsumsi rokok pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah memerlukan perhatian khusus karena dapat memperburuk kondisi keuangan mereka.

Dampak Rokok

Dampak rokok terhadap kesehatan sering digaungkan oleh para pakar kesehatan kepada masyarakat. Namun, belum banyak yang membahas dampak rokok terhadap kemiskinan. Padahal, selain berdampak buruk terhadap kesehatan, efek jangka panjang konsumsi rokok juga dapat memperburuk keuangan rumah tangga miskin.

Dengan jumlah pendapatan yang terbatas, rumah tangga miskin sebaiknya mengalokasikan pengeluarannya untuk kebutuhan pokok atau komoditas yang manfaatnya bersifat berkelanjutan, misalnya untuk biaya kesehatan dan pendidikan. Bagi rumah tangga miskin, kesalahan dalam mengatur pengeluaran rumah tangga dapat mengakibatkan permasalahan lain yang bahkan membutuhkan biaya lebih besar.

Rumah tangga yang berpenghasilan minim dan menggunakan sebagian uangnya untuk membeli rokok, secara tidak sadar mereka telah mengurangi alokasi untuk pemenuhan kebutuhan yang lebih penting.

Sebagai contoh, komoditas yang penting namun sering diabaikan adalah makanan sehat dan bergizi seperti sayur, daging, buah, ikan, dll. Makanan sehat dan bergizi sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak.

Pemenuhan kebutuhan tersebut seharusnya menjadi prioritas utama rumah tangga, khususnya rumah tangga yang memiliki anak kecil agar anaknya terhindar dari gizi buruk maupun stunting.

Secara statistik, rumah tangga di Provinsi Kalimantan Utara masih banyak yang menggunakan uangnya untuk konsumsi rokok daripada makanan-makanan bergizi.

Menurut BPS Provinsi Kalimantan Utara pada Maret 2020, persentase pengeluaran per kapita selama sebulan untuk rokok dan tembakau sebesar 11,79 persen dari total pengeluaran kelompok makanan.

Sedangkan pengeluran per kapita untuk sayur-sayuran hanya 7,21 persen dan daging hanya 4,82 persen.

Hal inilah yang perlu menjadi perhatian khusus, terutama bagi keluarga dengan penghasilan kecil agar lebih bijak dalam mengatur pengeluarannya.

Bagi rumah tangga miskin, harga rokok yang cukup mahal tentunya memerlukan pengorbanan yang cukup besar untuk bisa membelinya. Padahal, rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit yang dapat menimbulkan biaya tambahan.

Berbagai penyakit yang diakibatkan rokok seperti gangguan paru-paru, kanker mulut, dan kanker kulit merupakan penyakit berat yang membutuhkan biaya besar untuk mengobatinya. Penyakit-penyakit ini dapat menimbulkan permasalahan yang lebih kompleks bagi rumah tangga miskin.

Apakah kebiasaan merokok bisa menurun ke anak? Tentu saja bisa. Orangtua yang sering merokok di rumah dapat menjadi contoh bagi anak dan meniru kebiasaan orangtuanya. Kekhawatiran muncul apabila si anak tumbuh dewasa dengan pendapatan yang pas-pasan dan melakukan pola konsumsi yang sama seperti orangtuanya. Akibatnya, pola konsumsi keluarga miskin ini akan terus berulang.

Peran Pemerintah 

Meskipun rokok mengakibatkan banyak dampak negatif, pemerintah tidak bisa serta merta melarang peredaran rokok di masyarakat.

Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap rokok menjadi kabar baik bagi para pelaku usaha yang berkaitan dengan rokok maupun tembakau. Para produsen terus memproduksi rokok sehingga industri tembakau menjadi salah satu industri terbesar di Indonesia.

Selain itu, negara juga diuntungkan karena penerimaan negara dari cukai rokok sangatlah besar. Dari sisi ketenagakerjaan, industri rokok mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Peran penting rokok untuk perekonomian nasional menyebabkan pemerintah tidak bisa serta merta menutup seluruh industri rokok.

Meskipun begitu, masyarakat harus terus diberikan edukasi terkait dampak buruk merokok baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan mereka.

Gambar-gambar menjijikkan dan tulisan “Peringatan: Rokok Membunuhmu” seolah hanya menjadi pemanis bungkus rokok dan tidak mengurangi niat para perokok untuk tetap menjadi “ahli hisab”. Perlu kebijakan dan inovasi baru agar para perokok dapat mengurangi kebiasaan merokok mereka.

Rantai kemiskinan yang melibatkan peran rokok harus segera diputus. Pemerintah perlu memberikan pengetahuan terhadap masyarakat miskin untuk menerapkan pengelolaan keuangan yang baik dan mengutamakan konsumsi barang-barang yang lebih penting dan mendesak. Jadi, apakah perlu di bungkus rokok ditambahkan label “Peringatan: Rokok Memiskinkanmu” ? (*)

*) Penulis adalah Pegawai di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara Bidang Statistik Sosial