Tarakan

Rencana Dibangun Enam Lantai, Dipangkas Jadi Tiga Lantai

Salah satu sudut gedung baru SMP Negeri 7 Tarakan yang telah memasuki tahap finishing. (Sofyan/Koran Kaltara)

TARAKAN, Koran Kaltara – Tidak sesuai dengan regulasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pembangunan gedung SMP Negeri 7 Tarakan yang awalnya direncanakan enam lantai, batal dilakukan. Bangunan yang ditargetkan selesai pada Juni 2021 ini akhirnya dibangun dengan memiliki tiga lantai.

“Kebijakan masing-masing kepala daerah di zamannya. Wali kota sebelumnya mewacanakan membangun enam lantai, tetapi dari sisi regulasi yang ada di Kemendikbud menyatakan, bahwa pembangunan sarana pendidikan maksimal tiga lantai, maka kepala daerah yang sekarang menerima masukan dari kita, bahwa itu (gedung sekolah) harus dibangun tiga lantai,” terang PPTK Pembangunan, Wahyudi, Rabu (3/3/2021).

Pada tahap pertama, pembangunan dimulai 2017 dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp24 miliar untuk lantai pertama dan struktur dengan progres 70 persen. Tahap kedua mulai dikerjakan lagi pada 2020 dengan anggaran sebesar Rp20,9 miliar untuk meneruskan 30 persen struktur tahap awal serta pengerjaan lantai dua dan tiga serta finishing.

“Tahap kedua ini dilaksanakan akhir 2020 sampai Juni 2021, sedangkan tahap pertama dimulai 2017. Berdasarkan kontrak tahap kedua ini sudah mencapai 68 persen. Jadi kita sudah menyelesaikan pengerjaan struktur, sekarang tinggal finishing. Untuk pengerjaan pasang pintu dan jendela sudah 30 persen, plamir 60 persen, nanti tinggal pengecatan. Sedangkan kanopi belum, tetapi plafon sudah 80 persen terpasang. Instalasi listrik juga sudah 80 persen,” ungkapnya.

Rencananya, lantai satu diperuntukkan ruang guru, OSIS, kepala sekolah, operator dan sound system, ruang mekanikal, konseling, UKS, tata usaha, mushola dan tempat wudlu.

Lantai dua ada ruang kelas sebanyak 10 unit dan satu ruang perpustakaan. Sedangkan untuk lantai tiga terdapat 10 ruang kelas dan satu laboratorium biologi, kimia dan fisika.

“Kendala memang dari sisi SDM (sumber daya manusia), ditambah lagi masa pandemi Covid-19 sehingga tukang dari Jawa tidak bisa datang. Tenaga lokal bukanya tidak bagus, cuma untuk hasilnya masih tertinggal jauh dari mereka. Sehingga penambahan SDM tidak secara signifikan,” ucapnya.

Kendala kedua, kata Wahyudi, beberapa pekerjaan harus disesuaikan dan butuh perhitungan serta ketelitian. Kendala ketiga masalah dokumen kegiatan, pembuatan papan nama dan pembuatan pagar pemisah.

Sementara itu, salah satu anggota DPRD Tarakan, Anas Nurdin mengatakan bahwa pembangunan gedung SMP Negeri 7 sebagai salah satu solusi pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Diketahui, setiap tahun selalu ada orangtua siswa yang mengaku tidak terakomodir di sekolah negeri.

“Batas akhir pengerjaan sesuai kontrak 14 Juni 2021, kita minta bisa selesai tepat waktu. Makanya kami minta ada penambahan tenaga kerja, setiap minggu harus dilakukan pengiriman tetapi karena saat ini pandemi Covid-19, maka tidak bisa dilakukan. Bangunan ini kita harapkan juga bisa segera difungsikan, supaya ada penambahan rombongan belajar sehingga pada saat PPDB tidak ada lagi problem, karena sudah ada tambahan 20 kelas,” bebernya.

Sementara jika dilihat dari segi kualitas, tambah Nurdin, bahwa bangunan SMP Negeri 7 yang memiliki tiga lantai ini sangat bagus. Meskipun demikian, pihaknya memiliki beberapa poin yang menjadi penekanan. Pertama, pembangunan harus selesai sesuai target dan yang kedua kualitas bangunan tetap harus dijaga supaya memiliki ketahanan yang cukup lama. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustofa
Editor: Didik

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah