Nunukan

Relokasi Puskemas Lapri Jadi Polemik

Hearing DPRD Nunukan dengan Dinkes Nunukan. (Foto: Asrin)

NUNUKAN, Koran Kaltara – Relokasi pembangunan Puskesmas Lapri di Desa Seberang menjadi polemik di tengah masyarakat. Sehingga DPRD Nunukan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nunukan, Kamis (18/6/2020).

DPRD Nunukan menilai relokasi pembangunan puskesmas tersebut mubazir karena dalam satu kecamatan terdapat dua puskesmas.

Anggota DPRD Nunukan dapil Sebatik, Nursan menegaskan, bahwa seharusnya pemerintah lebih mengutamakan puskemas yang ada dengan melengkapi segala fasilitasnya. Bukan sebaliknya melakukan pembangunan puskesmas baru dengan anggaran sekitar Rp6 miliar.

” Masyarakat bertanya di tengah defisit anggaran, kita malah membangun dua puskesmas di kecamatan yang sama. Sebenarnya, yang harus diprioritaskan kebutuhan, melengkapi fasilitas yang telah ada. Jangankan dua puskesmas, di Puskemas Lapri saja masih belum lengkap. Apalagi, Lapri ini paling sedikit jumlah pengunjungnya,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Nunukan, Miskia menyampaikan, bahwa relokasi pembangunan Puskesmas Lapri tersebut bersumber dari dana afirmasi. Kabupaten Nunukan sudah tiga tahun berturut turut menerima dana tersebut.

“Tahun 2017 lalu, Nunukan menerima dana afirmasi untuk tujuh puskesmas tersebar di daerah perbatasan. Tahun 2018, juga mendapatkan dana untuk satu puskesmas di Nunukan. Dan tahun 2020 dapat lagi dana dan dikhususkan untuk Lapri,” ungkapnya.

Pertimbangan dari pusat, kata Miskia, di Sebatik sudah semua mendapatkan dana DAK, terkecuali Puskesmas Lapri.

“Kebetulan ada instruksi dari dirjen kementerian, kita membangun puskesmas di perbatasan dengan tipe prototype,” ungkapnya.

Menurut dia, Pulau Sebatik belum memiliki puskesmas dengan prototype. “Terus terang, waktu kami usulkan di 2017 itu, anggarannya untuk membangun prototype. Karena prototype lambat keluar, akhirnya kita mengajukan rehab. Dan mereka masih toleransi. Itu pun kita kena tegur dan tidak sesuai dengan prototype,” ungkapnya.

Namun, tahun 2020 ini, kata dia, pusat tidak mau sama sekali ada rehab bangunan, tetapi mesti membangun murni prototype yang memang sudah ada lokus tempatnya.

“Kebetulan Lapri ini pada tahun 2020 sudah masuk SK salah satu lokus dana pembangunan Puskemas Lapri khusus Sesa Lapri. Tapi, dengan syarat kita harus membangun prototype. Kemarin, kita ajukan rehab, ternyata mereka tidak mau rehab, karena mereka memikir harus lokasi baru yang mendekat jangkauan masyarakat,” ujarnya.

Dia mengaku tidak bisa berbuat banyak, karena pusat memiliki data pengunjung di Puskemas Lapri. “Mereka melihat data pelayanan setiap puskesmas. Dan Puskesmas Lapri ini jumlah pengunjung sehari 10 sampai 11 orang. Sudah lima tahun berjalan, data kunjungan hanya segitu-segitu. Nah, mereka juga sempat monitoring ke Puskemas Lapri,” bebernya.

Menurut dia, apabila tak menerima, maka akan berpengaruh terhadap DAK lainnya. Sehingga mau tidak mau, pihaknya harus menerima pembangunan tersebut. Apalagi, pemerintah pusat memberikan waktu sangat mepet.

“Terus terang, kita tidak bisa bahas di Dewan, karena waktu mepet. Kalau kita tidak menjawab cepat, itu anggaran dialihkan ke daerah lain. Jika kita bangun di luar Lapri, mereka tidak akan kasih. Persyaratan afirmasi yang sudah terintegrasi. Kebetulan di Sebatik tinggal Lapri yang belum. Dan Lapri juga sudah terintegrasi,” pungkasnya.

Selain itu, kata dia, pemerintah pusat ingin di perbatasan ada satu puskesmas yang menjadi percontohan dan menjadi kebanggaan pusat.

Sedangkan, Wakil Ketua DPRD Nunukan Burhanuddin membantah alasan Dinkes Nunukan yang mempermasalahkan jarak. “Ketika kita berbicara tentang pemindahan karena jauh, kenapa tidak ditempatkan di Pancang. Tapi, ini malah di Desa Seberang. Contoh, masyarakat Balansiku ke Sei Taiwan itu lebih jauh. Kenapa tidak bangun di situ,” pungkasnya.

Dia mengaku sangat senang jika ada pembangunan sarana pelayanan kesehatan. Hanya saja, jangan sampai pembangunan itu menjadi mangkrak, karena tidak ada alat kesehatan, SDM dan sebagainya.

“Contoh saja, Rumah Sakit Pratama, sampai sekarang belum beroperasi maksimal, karena kekurangan tenaga medis. Nah, kalau Puskemas ini dibangun, artinya kita memikirkan alkesnya, SDM nya dan sebagainya,” tandas dia. (*)

Reporter: Asrin
Editor: Sobirin

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah