Ekonomi Bisnis

Produksi Minyak Kayu Putih di Tarakan Meningkat

Pengemasan kayu putih di Koperasi Wana Harapan Bersama Tarakan. (Foto: Sofyan)

TARAKAN, Koran Kaltara – Meskipun belum ada penelitian mendalam mengenai minyak kayu putih mampu membunuh Corona, namun minyak hasil penyulingan daun tanaman asal Australia bernama Eucalyptus dipercaya mampu membunuh beberapa macam bakteri dan virus.

Hal ini membuat permintaan dari masyarakat meningkat, sehingga industri pengelolaan minyak kayu putih yang dikelola oleh Koperasi Wana Harapan Bersama Tarakan menggenjot produksi hingga 200 persen dari sebelumnya.

Manajer Koperasi Ahmad Afif mengatakan, produksi minyak kayu putih di Tarakan dalam satu minggu yang sebelumnya hanya sekali, sejak sebulan terakhir meningkat menjadi 2-3 kali produksi.

Setiap produksi mengolah sekitar 300 kilogram daun kayu putih, dan akan menghasilkan 1,5 liter minyak dengan proses penyulingan antara 3-5 jam.

“Ada kenaikan produksi, terutama setelah Kementerian Pertanian mengatakan dan mengklaim minyak kayu putih bisa untuk mencegah Covid-19. Sehingga masyarakat berbondong-bondong untuk membelinya, sehingga terdapat kenaikan produksi sebesar 200 persen,” terangnya, Senin (19/10/2020).

Disinggung mengenai bahan baku, Afif mengaku pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Kelompok Tani Hutan dan binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Kota Tarakan dengan luasan lahan mencapai 250 hektare, baik yang berada di dalam kawasan hutan lindung, maupun yang berada di luar.

“Bahan baku ada saja, dan siap panen kapan saja ada 250 hektare. Untuk kandungan Cineole dalam minyak kayu putih yang kami produksi antara 70-90 persen berdasarkan hasil uji laboratorium Universitas Mulawarman tahun 2015. Dimana zat tersebut berdasarkan penelitian dari Kementerian Pertanian RI ampuh untuk membunuh virus,” paparnya.

Meskipun permintaan meningkat, namun harga jual masih sama. Untuk botol roll on isi 8 ml dibanderol Rp10 ribu, ukuran 30 ml Rp30 ribu, dan 56 ml Rp50 ribu.

“Permintaan dari masyarakat luas, ada dari sekitaran Tarakan, Samarinda, Jakarta, bahkan negara tetangga Malaysia,” ucapnya.

Salah satu petani kayu putih, Thandem Peru, warga Kampung Satu Skip mengatakan dirinya sudah menanam pohon kayu putih selama dua tahun dan baru saja panen perdana.

Menurutnya, jika produksi minyak kayu putih terus meningkat, budidaya bahan baku sangat menjanjikan apalagi tanpa perawatan khusus.

“Pertumbuhannya cukup bagus di Tarakan, kalau ini dirawat dengan baik akan menghasilkan daun yang banyak. Perawatannya juga tidak susah, biar batangnya patah yang penting akarnya tidak tercabut masih bisa tumbuh,” ucapnya.

Dirinya menanam sekitar 100 pokok pohon, namun karena pernah diganggu ternak sapi kini pohon kayu putih milik mantan guru ini tinggal sekitar 80-an pohon.

Meskipun demikian, dirinya cukup senang karena sudah ada yang menampung hasil panennya. Sementara untuk pane berikutnya, butuh waktu 6 bulan lagi.

“Kesepakatan awal, harga per kilo Rp1.000, karena ini masih tahap awal nanti akan naik seiring waktu sambil melihat perkembangan. Kami panen ini juga sudah diminta oleh pengelola pabrik, makanya kami panen hari ini. Dari pada ditanami singkong, dirusak hama dan hewan liar lebih baik ditanami pohon kayu putih, ternak merusak hanya saat mereka lewat kalau daun dan pohon tidak ada yang mau makan, sehingga aman saja,” paparnya.

Awal mula menanam pohon kayu putih berkat dorongan dari Dinas Kehutanan, apalagi pada waktu itu bibit diberi secara cuma-cuma.

“Bibit dikasih, setelah tumbuh hanya kita rawat dengan cara membersihkan rumput dan ilalang saja. Dan sekarang sudah bisa panen, ini saya belum tahu dapat berapa kilo karena baru pertama panen,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa
Editor: Rifat Munisa

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer
  • Gunakan masker apabila keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah