Hukum Kriminal

Praktik Aborsi Ilegal Digagalkan Polisi

Pelaku praktik aborsi, SP sudah 9 kali menggugurkan kandungan. (Foto: Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Praktik aborsi ilegal, diungkap Sat Reskrim Polres Tarakan di salah satu rumah yang ada di Jalan Pulau Bangka, RT. 14 Kelurahan Kampung Satu Skip, Tarakan.

Dari hasil pengungkapan sekira pukul 22.00 Wita, Kamis (14/10/2021) pekan lalu, diamankan seorang pria berinisial SP.

Kapolres Tarakan AKBP Fillol Praja Arthadira menuturkan, SP langsung ditetapkan sebagai tersangka setelah diamankan dan mengakui perbuatannya.

“Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Satreskrim menerima informasi ada praktik aborsi ilegal di rumah tersangka. Waktu kami datang untuk melakukan penyelidikan, kami berhasil menggagalkan praktik aborsi yang sedang dilakukan SP,” ujar Kapolres, Selasa (26/10/2021).

Sebelum melakukan penggeledahan, pihaknya juga didampingi Ketua RT setempat sebagai saksi.

Hasil dari penggeledahan ini, diamankan handphone, stetoskop, alat tensi darah, dua suntikan, alat penjepit, gunting serta kapas dan obat-obatan.

Pengakuan SP, semua ini perlengkapan untuk melakukan aborsi.

SP mengaku, ia sudah melakukan 9 kali praktik aborsi ilegal di rumahnya.

Praktik yang ia lakukan, bahkan tanpa izin dan sertifikasi dari Dinas Kesehatan Tarakan.

SP diketahui merupakan mantri dan sudah pensiun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tahun 2011 lalu.

Sementara itu, kisaran tarif sekali treatment, menurut pengakuan SP antara Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta tergantung umur kandungan dari calon pengguna jasa.

“Ada info dari teman ke teman, yang mengatakan kalau SP ini bisa aborsi ilegal. Makanya pengguna jasa menghubungi SP untuk minta melakukan aborsi,” ungkap Kapolres.

Kasat Reskrim Polres Tarakan, Iptu Muhammad Aldi menambahkan, biasanya SP memilih siapa saja yang bisa dilakukan aborsi.

Ia hanya mensyaratkan calon penerima jasanya, dengan usia janin berusia 1 hingga 3 bulan.

“Kata SP, kalau lewat dari 3 bulan usia janin, seringkali gagal melakukan aborsi. Pengguna jasa di Tarakan lumayan banyak. Jadi di rumahnya tidak terpampang tulisan klinik. Jadi pengguna jasa janjian dulu sama SP, baru dilayani di sebuah kamar di rumahnya. Pengguna jasa biasanya berusia dari kalangan dewasa,” ungkapnya.

Dalam aktivitas ilegalnya, SP hanya melakukan praktik aborsi seorang diri.

Keluarganya hanya mengetahui tersangka ini mengobati orang sakit, karena pernah menjadi mantri.

Padahal, praktik tersebut sudah dilakukan SP sejak tahun 2011 lalu.

Polisi juga masih mendalami dugaan SP sering menjual obat-obatan penggugur kandungan.

Ia meminta jika ada masyarakat yang mengetahui terkait obat penggugur kandungan yang dijual SP, bisa disampaikan ke Polres Tarakan.

“Kalau ada info tersebut, ada pihak lain yang kami tindak lanjuti. Intinya, pengguna jasanya ada juga dari luar Tarakan hingga pulau Jawa. SP kami sangkakan Pasal 75 juncto pasal 194 Undang-Undang RI tentang kesehatan atau pasal 64 juncto pasal 83 UU RI tentang tenaga kesehatan atau pasal 299 ayat 1 KUHP,” tegas Aldi. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Rifat Munisa

About the author

Koran Kaltara

Add Comment

Click here to post a comment