Ruang Publik

Potensi Pangan Kaltara di Tengah Himpitan Covid-19

  • Oleh: Lidya Putri Utami, SST, M.Ec.Dev

KITA telah menghadapi pandemi Covid-19 selama hampir 8 bulan semenjak kasus pertama di Indonesia diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu. Berbagai dampak buruk dari pandemi ini terasa hampir di seluruh sektor kehidupan.

Bidang kesehatan mati-matian menjadi tulang punggung dalam menangani virus Covid-19, namun sektor ekonomi juga tak kalah terpuruk akibat virus tersebut.

Pada Juli 2020, Badan Pusat Statistik merilis hasil survei dampak Covid-19 terhadap pelaku usaha. Hasilnya adalah secara nasional 8,76 persen perusahaan berhenti beroperasi, 7,5 perusahaan menerapkan sistem WHF baik bagi sebagian maupun seluruh karyawan, dan 24,31 persen perusahaan beroperasi dengan mengurangi kapasitas (baik mesin maupun tenaga kerja).

Sektor jasa pendidikan merupakan sektor yang paling banyak mengurangi kegiatan operasional. Sebagaimana kita tahu bahwa sampai saat ini kegiatan belajar-mengajar sebagian besar masih dilaksanakan secara daring.

Sektor pertanian dan peternakan merupakan salah satu sektor ekonomi yang mampu mempertahankan operasional sebagaimana biasanya. Dari 100 pelaku usaha di sektor pertanian 76 pelaku usaha masih beroperasi seperti biasa.

Oleh karena itu tak heran jika pertumbuhan sektor pertanian dapat terus meningkat walaupun pandemi saat ini tengah berlangsung. Produk dari sektor pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat.

Permintaan terhadap produk-produk pertanian akan terus ada walaupun terjadi pandemi separah apapun. Sehingga dari sisi penyediaan, produsen juga akan terus beroperasi selama permintaan akan produknya masih ada.

Begitu juga kondisi sektor pertanian di Kalimantan Utara. Ekonomi Kalimantan Utara triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi sebesar 1,46 persen (y-on-y). Namun, sektor pertanian masih menunjukkan taringnya dengan tumbuh sebesar 0,17 (y-on-y).

Melihat struktur perekonomian Kalimantan Utara, wajar jika sektor pertanian dapat bertahan karena 16,45 persen-nya disumbang oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Selain itu wilayah Kalimantan Utara yang sangat luas dan di dukung iklim serta sungai-sungai yang membelah wilayah menjadikan suatu potensi bagi masyarakat Kalimantan Utara.

Data dari Badan Pusat Statistik juga mencatat bahwa potensi luas panen padi di Kalimantan Utara tahun 2020 justru meningkat dibandingkan tahun 2019 walaupun pandemi saat ini tengah berlangsung.

Produksi padi pada 2020 diperkirakan sebesar 40,22 ribu ton GKG, mengalami kenaikan 20,58 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 33,38 ribu ton GKG. Jika potensi produksi padi pada 2020 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2020 diperkirakan sebesar 23,72 ribu ton (angka sementara).

Dari apa yang telah disebutkan, sektor pertanian Kalimantan Utara tumbuh dengan cukup baik di tengah pandemi Covid-19 dan masih bisa terus ditingkatkan, khususnya komoditas padi. Beras merupakan makanan pokok masyarakat kita yang permintaannya akan terus meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk di Kalimantan Utara.

Meningkatkan pertanian padi akan menjamin keberlangsungan pangan serta sebagai upaya mencapai kedaulatan pangan Kalimantan Utara.

Di tengah pandemi yang terus bergejolak seperti ini, upaya meningkatkan sektor pertanian khususnya pertanian padi adalah, pertama, dengan meningkatkan bantuan pemerintah maupun swasta mengingat sebagian besar petani padi di Kalimantan Utara merupakan petani skala kecil hingga menengah.

Berdasarkan survei struktur ongkos usaha tanaman padi Kalimantan Utara tahun 2017, bantuan untuk kegiatan usaha tani sangat dibutuhkan dan diharapkan oleh petani di Kalimantan Utara, khususnya bantuan pestisida. Persentase rumah tangga padi yang sangat membutuhkan bantuan pestisida dari pemerintah untuk budidaya tanaman padi mencapai 30,92 persen pada tahun 2017.

Tentu jenis bantuan yang diharapkan setiap tahunnya oleh para petani dapat berubah seiring kebutuhan dan kendala dalam usaha pertanian. Meningkatnya bantuan baik bibit, pupuk, pestisida, alat-alat pertanian maupun penyuluhan akan dapat meningkatkan produktivitas pertanian padi sehingga produksi padi juga akan turut meningkat.

Hasil Survei Rumah Tangga Usaha Tanaman Padi tahun 2017 memperlihatkan bahwa sebagian besar petani padi sawah masih menggunakan tenaga manusia sebagai alat pengolahan yaitu sebesar 79,35 persen dari jumlah total rumah tangga padi sawah.

Data tersebut mencerminkan bahwa pertanian padi di Kaltara membutuhkan banyak tenaga kerja untuk dapat bergerak. Sehingga, upaya kedua yang dapat dilakukan adalah meningkatkan minat masyarakat untuk mengusahakan pertanian padi. Kaltara masih memiliki potensi wilayah/tanah yang cukup luas untuk digarap sebagai pertanian padi, namun tanpa pelaku atau tenaga kerja, potensi tersebut hanya sebatas angan-angan.

Berdasarkan data Survei Ketenagakerjaan Nasional tahun 2020, tercatat jumlah tenaga kerja sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan di Kalimantan Utara sebesar 106.147 orang. Jumlah tersebut memang merupakan 33 persen dari total tenaga kerja di Kaltara, namun jumlah tenaga kerja khususnya di sub-subsektor pertanian padi masih belum diketahui.

Yang menjadi catatan sebagian besar dari 100 ribu lebih tenaga kerja tersebut kemungkinan merupakan tenaga kerja subsektor perkebunan, mengingat subsektor perkebunan paling mendominasi pertanian di Kaltara. Transmigrasi yang direncanakan dengan baik dapat menjadi salah satu kunci peningkatan pertanian padi Kalimantan Utara.

Ketiga, meningkatkan minat generasi muda untuk turun dan membangun sektor pertanian dengan menciptakan inovasi juga merupakan modal penting. Sektor pertanian di Kalimantan utara merupakan sektor padat karya, bukan padat modal. Dalam artian, sektor pertanian di Kalimantan utara masih lebih banyak digerakkan oleh tenaga kerja manusia dibandingkan alat-alat berteknologi tinggi.

Generasi muda merupakan generasi yang masih bisa diajak berkontribusi untuk menciptakan inovasi/teknologi. Inovasi/teknologi dalam hal pengolahan pertanian padi hingga pemasaran sangat diperlukan. Dengan adanya inovasi seperti inovasi pemasaran, diharapkan dapat memperpendek dan memperlancar distribusi barang. Dengan demikian hasil-hasil pertanian akan dapat terserap pasar dengan baik.

Terakhir, yang tak kalah penting di masa pandemi saat ini adalah dengan menerapkan protokol kesehatan. Walaupun penularan Covid-19 terkesan lebih kecil dalam sektor pertanian karena berada di ruang terbuka, namun kemungkinan itu tetap ada baik dalam kegiatan produksi maupun kegiatan sehari-hari. Tetap bekali para petani kita dengan himbauan dan penyuluhan-penyuluhan kesehatan agar para petani tetap dapat berproduksi dengan aman sehingga pasokan pangan kita juga tetap terjaga. (*)

*) Penulis adalah Kasi Pertanian BPS Provinsi Kaltara

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah