Ekonomi Bisnis

Potensi Pajak Sarang Burung Walet di Kaltara Tinggi

Gerrits Parlaungan Tampubolon

TARAKAN, Koran Kaltara – Budidaya sarang burung walet memiliki potensi sumber pajak yang cukup besar, namun hal tersebut belum bisa dilakukan. Pasalnya, pemilik dan pembisnis sarang burung walet belum bisa jujur sehingga sulit mendeteksi pemilik untuk ditarik pajak dari aktivitasnya tersebut.

Hal ini diungkapkan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tarakan, Gerrits Parlaungan Tampubolon, Jumat (16/4/2021).

“Sektor sarang burung walet yang ada di Kalimantan Utara ini didominasi oleh Kabupaten Tana Tidung. Secara geografis teman-teman kami sudah melakukan pemetaan lapangan dan di sana banyak sarang burung walet yang besar-besar,” terangnya.

Meskipun telah memiliki database sarang burung walet dan sudah ditindaklanjuti, terdapat beberapa pembudidaya yang mau membayar pajak tetapi menurut perhitungan KPP Pratama Tarakan belum cocok, sehingga dilanjutkan ke tahap pemeriksaan.

“Kami juga punya hitung-hitungan, kami punya assessment dan kami memiliki ukuran-ukuran yang wajar dalam pembayaran pajak. Kalau sarang burung walet yang berwarna putih bersih, harga 1 kilogramnya bisa Rp10 juta sampai Rp15 juta. Kalau dalam satu bulan bisa menghasilkan belasan kilogram, tidak mungkin dalam 1 tahun omzetnya hanya Rp50 juta. Kan tidak mungkin, makanya kami masih dalami,” paparnya.

Ditegaskan Gerrits, soal data, pihaknya mengaku lengkap bahkan sampai ke Berau Kalimantan Timur.  Pendataan sudah dilakukan sejak 2020 dengan membentuk tim khusus untuk melakukan pemetaan sarang burung walet. Bukan hanya di Kaltara tetapi juga di Kaltim sesuai dengan wilayah kerja KPP Pratama Tarakan.

“Penindakan sudah ada, tetapi data tersebar dan sangat pragmatif. Misalnya dapat data dari Balai Karantina Pertanian maupun lemerintah daerah, itu belum bisa kita manfaatkan. Sebagai contoh, saat di lapangan ada sarang burung walet besar, sudah ada pendinginya sudah menghasilkan dan lumayan banyak. Begitu ditanya mengaku bukan pemiliknya, hanya menjaga. Bagaimana bisa membuktikan kalau memang dia pemiliknya atau bukan, masih sulit,” paparnya.

Oleh karena itu, penarikan pajak sarang burung walet masih harus melewati beberapa tahapan. Bahkan saat sudah berada di Balai Karantina Pertanian masih ada yang belum jujur, sehingga kesulitan menentukan siapa yang mendapatkan manfaat ekonomi akhir dari sarang burung walet ini.

“Saya ditanya di Balai Karantina Pertanian misalnya, mereka kebanyakan mengaku bukan pemilik, saya datang kesini hanya mengantar saja, sebagai kurir, yang punya di sana. Sehingga masih perlu lagi dibersihkan data-datanya. Jadi tantanganya di situ, data sangat banyak tetapi apakah itu jadi penerimaaan? Masih butuh proses. Seperti saya sampaikan tadi, kita harus teliti, kita pastikan bahwa yang bersangkutan penerima manfaat ekonomi sebenarnya, baru bisa ditarik pajak,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sofyan Ali Mustafa

Editor: Rifat Munisa

 

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun
  • Tetap di rumah jika tak ada keperluan mendesak
  • Gunakan masker apabila terpaksa keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah