Hukum Kriminal

Polres Tarakan Bertekad Jerat Pemilik Sabu 4,5 Kilogram dengan UU TPPU

Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan bersama barang bukti 4,5 kg sabu, dalam konferensi pers, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok./ Koran Kaltara)
TARAKAN, Koran Kaltara – Menjerat bandar sabu menggunakan Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), menjadi salah satu program yang bisa memiskinkan bandar sabu. Polres Tarakan, saat ini tengah melakukan penyelidikan dugaan TPPU, salah satu bandar sabu yang berhasil diungkap Oktober lalu. Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan, melalui Kasat Reskoba Iptu Bahrul Ulum mengatakan, penyelidikan TPPU…

TARAKAN, Koran Kaltara – Menjerat bandar sabu menggunakan Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), menjadi salah satu program yang bisa memiskinkan bandar sabu. Polres Tarakan, saat ini tengah melakukan penyelidikan dugaan TPPU, salah satu bandar sabu yang berhasil diungkap Oktober lalu.

Kapolres Tarakan AKBP Yudhistira Midyahwan, melalui Kasat Reskoba Iptu Bahrul Ulum mengatakan, penyelidikan TPPU untuk bandar sabu 4,5 kg yang ditangkap di Lapas Nunukan, berinisial MA. Sebelumnya, MA ditangkap setelah kurirnya berhasil diamankan Sat Reskoba pada 23 Oktober lalu.

Dua kurirnya hendak menyelundupkan 4 kg sabu, dengan modus disembunyikan dalam bad cover.Terdeteksi X-Ray Cargo Bandara Juwata Tarakan, sabu tetap dikirim, kemudian ML dan SY ditangkap di Makassar, Sulawesi Selatan.

Setelah keduanya ditangkap, berkembang ke SL dengan barang bukti 500 gram sabu, didalam lipatan celana yang berhasil lolos ke Makassar.Dari keterangan ketiganya, penyidikan berlanjut ke penangkapan MA di Lapas Nunukan.

“Tapi, masih rencana dan kami akan pelajari dulu, bisa tidak kasus TPPU diungkap.Kami akan minta petunjuk Dit Resnarkoba Polda Kaltara dulu,” ujarnya, dikonfirmasi Jumat (21/12/2018).

Barang bukti yang diamankan dari AD ini, ada buku tabungan yang berisi Rp600 juta.Diakuinya, ada banyak aliran uang dalam jumlah besar yang keluar masuk ke rekening tersebut.

Namun, nama pemilik rekening bukan AD, melainkan SY, diduga modus menggunakan nama orang lain sengaja dilakukan untuk menutupi aliran uang penjualan sabu. “Kami pelajari, kalau bisa akan kami sita untuk negara,” tegasnya.

Dalam pengungkapan dugaan TPPU ini, nanti penyidik Sat Reskoba akan bekerja sendiri, tidak bekerja sama dengan Sat Reskrim. Menurutnya, karena uang yang didalam rekening diduga berasal dari hasil jual beli narkotika, sehingga bisa disidik sendiri oleh Sat Reskoba.

AD sendiri, kata dia, diduga merupakan jaringan besar, uang didalam rekening juga diduga kuat ada titipan dari bandar sabu lainnya.Namun, alamat pengirim dan penerima uang dalam rekening tersebut tidak jelas, sehingga Sat Reskoba kesulitan melakukan pengembangan.

“Kami ada diberikan sebuah nama, tapi alamat tidak jelas,” ungkapnya.

Diakuinya, dari banyak pengungkapan sabu yang dilakukannya, hanya AD saja yang memiliki jumlah uang didalam rekening dengan jumlah fantastis.Ia pun menargetkan tahun depan sudah memiliki tersangka TPPU.

Namun, pihaknya terkendala birokrasi dalam jaringan narkotika tersebut, kebanyakan bandar sabu menggunakan banyak kurir, sehingga pengungkapan putus di level kedua dan ketiga.

Dalam urusan sabu ini, bandar juga kerap tidak berkomunikasi langsung dengan kurirnya, tetapi bermain dibelakang meja dan proses penerimaan sabu tidak dilakukan secara langsung.

“Sebenarnya, instansi manapun berupaya untuk menggerakkan kasus ke TPPU.Kami juga mau mengungkap bandar besar, tapi kendalanya ada birokrasi dalam peredaran sabu itu yang sangat sulit.Tapi, kami tidak berhenti dan tetap berusaha untuk menangkap bandar besar,” tegasnya. (*)

Reporter: Sahida

Editor: Hariadi

Artikel ini juga terbit di versi cetak Koran Kaltara edisi 22 Desember 2018