Hukum Kriminal

Polisi Tarakan Lakukan Pembinaan Pelaku Porno Aksi

Postingan di medsos terkait porno aksi yang dilakukan pelaku di jalanan. (Foto : Istimewa).

TARAKAN, Koran Kaltara – Polres Tarakan menindaklanjuti pelaku porno aksi  seorang pria yang memamerkan kemaluannya di jalanan belum lama ini.

Aksi pelaku ini sempat terekam dan viral setelah diposting korbannya ke media sosial (medsos).

Setelah viral, diketahui ternyata banyak yang mengaku sudah menjadi korban dan meski sudah diteriaki, pelaku tetap melakukan aksinya.

Kapolres Tarakan AKBP Fillol Praja Arthadira melalui Kasat Reskrim Iptu Muhammad Aldi menuturkan, setelah ditindaklanjuti perbuatan pelaku tidak memenuhi unsur pidana.

“Perbuatan pelaku yang memamerkan kemaluannya di tempat umum dan didepan para korban, tidak memenuhi unsur ditingkat pidana. Kasusnya hanya sampai di SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polres Tarakan,” ujar Kasat Reskrim, Minggu (12/9/2021).

Ia menerangkan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan pembinaan terhadap pelaku yang melakukan perbuatan serupa. Saat dilakukan pembinaan, pelaku dan korban turut dihadirkan.

Pelaku juga harus menandatangani surat pernyataan agar tidak melakukan porno aksi.

Selain itu, pelaku juga bisa dikenakan tindak pidana ringan, sesuai hasil pembinaan petugas SPKT.

Namun, saat dilakukan pembinaan, pihaknya juga sekaligus melihat kondisi kejiwaan pelaku.

“Jika dibutuhkan, kami konsultasikan ke dokter kejiwaan. Kalau ternyata ada unsur masalah kejiwaan, bisa ditindaklanjuti instansi terkait,” tuturnya.

Porno aksi seperti yang dilakukan pelaku ini, sudah beberapa kali ditemukan hal serupa di Tarakan.

Ia tambahkan, oknum pelaku pria dari orang yang berbeda. Modusnya, pelaku menunggu para korban wanita yang melintas di jalan raya.

Selanjutnya, saat korban melintas, pelaku melakukan porno aksi atau masturbasi di atas kendaraan roda dua miliknya. Setelah kepergok dengan korban yang sekaligus merekam porno aksi, pelaku langsung pergi dengan sepeda motornya.

Modus lain, ada juga pelaku yang melihat korban sedang asik nongkrong di salah satu taman. Melihat korbannya, pelaku langsung melakukan porno aksi dengan bersembunyi di balik gerobak warung.

Di beberapa Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang tersebar di medsos, terjadi di Jalan Slamet Riyadi, Jalan Mulawarman dan Jalan Sumatera.

“Beberapa aksi, sudah ada yang dilakukan mediasi antara pelaku dan korban hingga dilakukan klarifikasi serta ditayangkan di medsos,” tandasnya.

Psikolog asal Tarakan, Fanny Sumajouw mengungkapkan, perbuatan pelaku yang melakukan porno aksi tidak bisa dilaporkan ke kasus pidana. Sebab, rata-rata pelaku hanya mengalami gangguan.

Salah satu pemulihan pada pelaku biasanya dilakukan mensinkronkan kognitif dan perilaku.

Ia mengatakan, biasanya pelaku juga mempunyai masalah traumatik seksual. Jadi, pelaku yang melakukan penyimpangan seksual tidak berpikir rasional atau tidak mengaku salah.

Biasanya, pelaku ejakulasi atau kepuasaan seksual saat melihat korbannya histeris.

“Sebenarnya, pelaku ini buka celananya di jalanan bukan mau memerkosa orang, tetapi namanya juga penyimpangan, bisa juga dikatakan eksibisionisme. Salah satu trik menghindari, dengan cara tidak melihat dan merespons porno aksi pelaku,” terangnya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Rifat Munisa