Ekonomi Bisnis

Polemik Ikan Pelagis, Masuk Ilegal Tapi Dibutuhkan

Ikan jenis pelagis di pasar Tarakan. (Foto: Sahida)

TARAKAN, Koran Kaltara – Nelayan yang membawa hasil ikan ke wilayah Malaysia, biasanya kembali pulang dengan membawa ikan pelagis, seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, ikan layang, teri, kembung, dan lainnya dari Tawau, Malaysia.

Meski pengawasan masuknya ikan dari negara tetangga ini sudah diperketat, namun biasanya para nelayan memanfaatkan waktu malam hari dengan jalur tikus. Nelayan mempertimbangkan, daripada pulang kembali tidak membawa apa-apa, sedangkan ikan pelagis ini sangat dibutuhkan di pasar Kaltara.

Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM), Umar menuturkan komoditi yang dibawa dari Malaysia sulit diatur karena terkendala regulasi. Padahal, membawa ikan dari Malaysia meskipun menggunakan perahu kecil tetap harus berizin dan diperiksa terlebih dahulu.

“Karena itu juga businesses to businesses. Terkait dengan regulasi, kita tidak bisa batasi,” ujarnya, Jumat (8/1/2021).
Ia mencontohkan, sama halnya dengan harga udang windu yang dikirim ke Uni Eropa dan ke Jepang dijual dengan harga tinggi. Namun, muncul alasan, kenapa udang windu ini tidak dinikmati dulu masyarakat Indonesia, daripada dijual keluar negeri.

“Kalau mau dijual ke dalam negeri, tidak mungkin daya beli masyarakat mau membeli dengan harga kalau diekspor. Kemudian, terkait devisa, mau tidak mau kita harus ekspor,” tuturnya.

Kemudian, muncul pertanyaan lain kenapa ikan yang bagus dibawa ke Malaysia, sedangkan ikan yang tidak bagus dibawa pulang ke Indonesia seperti di Kaltara. “Itu bisnis dan tidak bisa pemerintah mengintervensi. Sekarang kalau ikan tidak dikirim, siapa yang membeli barang itu. Mau tidak masyarakat kita beli,” tandasnya.

Seandainya masyarakat bisa menjamin untuk membeli komoditi ekspor ini dengan harga yang sama dengan nilai ekspor, otomatis komoditi ini akan dikonsumsi masyarakat di Indonesia.

Ia menerangkan, harga yang mahal jika diekspor ini, yang membuat para pelaku usaha kemudian tergiur untuk melakukan ekspor.

Sedangkan di wilayah perairan Kaltara, jenis ikan pelagis ini agak kurang. Ikan yang banyak ditemukan jenis ikan dasar, seperti ikan kerapu, kakap, ikan putih dan lainnya.

“Sebenarnya, bukan ikan rute juga, tapi masyarakat terbiasa mengonsumsi ikan pelagis itu juga, jenis ikan layang, ikan kembung,” tuturnya.

Terkait juga alat tangkap, di Malaysia mengizinkan alat tangkap yang sebenarnya dilarang di Indonesia. Ditambah lagi kebutuhan ikan pelagis ini sangat besar di Kaltara, jika sebelumnya hanya dibutuhkan di Sebatik, Nunukan hingga ke wilayah perkotaan di Nunukan, sekarang sudah sampai ke Kabupaten Bulungan.

Padahal, ikan pelagis ini juga didatangkan dari Toli-toli dan Berau, namun tidak mencukupi kebutuhan di Kaltara, sehingga harus didatangkan dari Tawau, Malaysia. Selain dari sisi jumlah kebutuhan, dari sisi harga juga lebih murah jika didatangkan dari Tawau, Malaysia.

“Kalau didatangkan dari Toli-toli, harganya kalau Rp20 ribu, di Tawau malah lebih murah bisa Rp15 ribu hingga Rp10 ribu per kilo. Jaraknya juga lebih dekat dari Tawau, daripada harus mendatangkan dari Toli-toli yang membutuhkan waktu 3-4 hari, dan itupun tidak mencukupi,” pungkasnya.

Di pasar tradisional di Tarakan, kata dia hampir semuanya ada ikan pelagis ini dan didatangkan dari Tawau, Malaysia. Inilah yang diperkirakan akan menjadi masalah ke depannya, jika tetap masih berlindung di kebutuhan perbatasan.

“Sedangkan sekarang bukan lagi dibutuhkan perbatasan. Tetapi, dibutuhkan hampir di seluruh masyarakat di Kaltara,” tandasnya. (*)

Reporter: Sahida
Editor: Rifat Munisa

Mari Bersama Cegah Penyebaran Covid-19:

  • Jaga kebersihan badan dan lingkungan
  • Sering cuci tangan dengan sabun/ hand sanitizer
  • Gunakan masker apabila keluar rumah
  • Jaga jarak dan hindari kerumunan
  • Patuhi imbauan pemerintah