Ruang Publik

Pola Penggunaan Internet di Masa Pandemi

  • Oleh: M. Nurul Alam Hasyim, SST

MASA pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama lebih dari satu tahun di Indonesia menyebabkan pergeseran pola kehidupan masyarakat. Berbagai kegiatan masyarakat yang dulu biasa dilakukan secara konvensional, kini beralih menjadi serba online.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan bahwa pada tahun 2021 persentase penduduk usia lima tahun ke atas yang mengakses internet mencapai 69,26 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan data tahun 2020 yang hanya 60,52 persen.

Peningkatan pengguna internet ini terjadi terhadap penduduk laki-laki maupun perempuan.

Selama pandemi, berbagai kegiatan seperti rapat kantor, sekolah maupun seminar banyak yang dilakukan secara virtual.

Selain itu, dengan adanya imbauan pembatasan mobilitas menyebabkan banyak masyarakat yang menghabiskan waktu luang di rumah dengan membuka media sosial, bermain game online, belanja online, menonton film dan lain-lain.

Hal ini menyebabkan tingkat pengguna internet di Kalimantan Utara mengalami kenaikan selama periode tahun 2020 – 2021. Dengan meningkatnya kebutuhan internet masyarakat, pemerintah dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas internet di Kalimantan Utara.

Pola penggunaan internet

Selama masa Pandemi Covid-19, beberapa kantor pemerintahan maupun kantor swasta menerapkan sistem kerja dari rumah atau biasa disebut dengan Work from Home (WFH).

Sistem kerja dari rumah ini mengharuskan para pekerja memiliki akses internet untuk dapat mengikuti rapat secara virtual, menyelesaikan tugas dan mengirimkan hasil pekerjaan secara online.

Pengiriman dokumen yang biasanya dilakukan secara konvensional, kini lebih sering dilakukan secara online, baik melalui email maupun media lainnya.

Data BPS Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan internet untuk mengirim atau menerima email sebesar 15,09 persen.

Selain dunia pekerjaan, dunia pendidikan juga mengalami penyesuaian dalam proses belajar mengajar selama pandemi Covid-19.

Kelas yang biasanya dihadiri secara tatap muka, selama pandemi menjadi kelas virtual yang diikuti oleh para siswa dari rumah masing-masing. Pengumpulan tugas juga dilakukan secara online baik menggunakan media Google Classroom hingga yang paling sederhana yaitu menggunakan aplikasi WhatsApp.

Menurut data BPS Provinsi Kalimantan Utara, persentase penduduk yang menggunakan internet untuk mengerjakan tugas sekolah pada tahun 2021 sebesar 32,00 persen.

Dengan adanya kebijakan sekolah dari rumah ini, para orangtua dituntut berperan aktif dalam mengawasi anaknya selama proses belajar maupun mengerjakan tugas sekolah. Orangtua juga menjadi lebih sering menjadi sumber jawaban ketika terdapat materi sekolah yang belum dipahami oleh anaknya.

Banyak orang tua yang mengeluhkan sistem belajar seperti ini. Mereka beranggapan bahwa tingkat pemahaman para siswa menjadi kurang maksimal jika proses kegiatan belajar mengajar tidak dilakukan secara tatap muka.

Pada masa pandemi ini, masyarakat diimbau untuk membeli makanan dengan cara dibungkus dan dimakan di rumah masing-masing. Hal ini tentunya menguntungkan bagi para penyedia jasa penjualan makanan secara online.

Data BPS Provinsi Kalimantan Utara menunjukkan bahwa persentase penduduk yang menggunakan internet untuk pembelian barang/jasa sebesar 14,08 persen pada tahun 2021.

Kendala dan Peran Pemerintah

Berbagai macam inovasi telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi Covid-19. Namun, inovasi-inovasi tersebut menjadi kurang maksimal dikarenakan beberapa kendala.

Pertama, koneksi internet di Indonesia masih relatif lambat dibandingkan negara-negara lain. Menurut situs penyedia uji kecepatan koneksi internet, Speedtest, kecepatan internet Indonesia pada September 2021 menempati urutan bawah di Asia Tenggara.

Di Kalimantan Utara, koneksi internet kerap kali mengalami gangguan sehingga tidak stabil. Hal ini menyebabkan kegiatan rapat virtual menjadi kurang efektif, kegiatan belajar mengajar secara online menjadi tidak maksimal, dan berbagai dampak lainnya.

Kendala berikutnya, akses internet di Kalimantan Utara yang cukup timpang antara daerah perkotaan dan perdesaan.

Menurut data BPS Provinsi Kalimantan Utara tahun 2021, penduduk usia lima tahun ke atas yang mengakses internet untuk daerah perkotaan sebesar 78,68 persen sedangkan daerah perdesaan hanya 53,94 persen.

Kondisi geografis yang sulit dijangkau menyebabkan pembangunan infrastruktur fasilitas internet daerah perdesaan menjadi cukup tertinggal dibandingkan daerah perkotaan.

Kendala ketiga adalah biaya internet yang dirasa masih mahal, khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan rendah.

Kebutuhan internet yang semakin penting di kehidupan masyarakat tentunya berdampak pula terhadap pola pengeluaran rumah tangga. Jika diasumsikan total pendapatan masyarakat tetap, maka mereka harus mengorbankan kebutuhan lainnya untuk memenuhi kebutuhan internet.

Untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, diperlukan peran penting dari pemerintah. Pemerintah dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas fasilitas internet maupun meningkatkan persebaran akses internet di seluruh wilayah Kalimantan Utara.

Pembangunan infrastruktur internet perlu ditingkatkan agar kualitas internet Kalimantan Utara menjadi lebih baik.

Selain itu, pembangunan infrastruktur internet di wilayah perdesaan perlu ditingkatkan agar fasilitas internet dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Kalimantan Utara secara merata. (*)

*) Penulis adalah Pegawai Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara Fungsi Statistik Sosial